TVRINews - San Francisco, Amerika Serikat

Bintang muda Timnas Turki, Arda Guler, menyesali kegagalan timnya di Piala Dunia 2026.

Satu pemain muda telah tersingkir dari Piala Dunia 2026. Arda Guler, pemain 21 tahun ini harus merasakan kegetiran dalam Piala Dunia pertamanya setelah Turki kalah 0-1 dari Paraguai dalam laga kedua Grup D, Jumat (19/6/2026) atau Sabtu pagi WIB tadi.

Bersama rekan setimnya, Deniz Gul yang juga berusia 21 tahun, langkah mereka terhenti di fase grup. Arda Guler tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya setelah pertandingan tersebut berakhir. “Sebenarnya tidak banyak yang bisa dikatakan. Kami sangat sedih, kami merasa malu. Kami meminta maaf kepada seluruh rakyat Turki," kata Arda Guler, terkait kegagalan tersebut.

Kekalahan tersebut membuat Turki memang tidak lagi memiliki peluang ke fase knockout. Jelang Piala Dunia 2026 ini, Arda Guler termasuk pemain muda yang penampilannya dinantikan. Harapan Turki terhadap bintang Real Madrid sangat besar setelah tim ini kembali lagi tampil di Piala Dunia. Piala Dunia 2026 ini memang kali pertama Turki bermain di turnamen ini setelah absen di lima edisi sebelumnya.

Setelah Piala Dunia 2002, The Crescent-Stars tidak pernah lagi bermain di Piala Dunia. Mereka absen di Piala Dunia 2006, 2010, 2014, 2018, dan 2022. Karena itu, sukses mereka ke Piala Dunia tahun ini menjadi pencapaian yang luar biasa. Apalagi, skuad saat ini ditandai pula dengan munculnya pemain muda seperti Arda Guler.

Di sisi lain, barisan pemain Turki banyak yang bermain di klub besar Eropa. Selain Arda Guler yang bermain di Real Madrid, Kenan Yildiz yang juga berusia 21 tahun adalah pemain Juventus, atau Hakan Calhanoglu, kapten Timnas Turki yang merupakan gelandang andalan Inter Milan.

Belum lagi pemain seperti Merih Demiral (Al Ahli), Zeki Celik (AS Roma), atau Deniz Gul yang juga bermain di Porto. Namun, semua itu tidak lagi penting. Fakta di lapangan, Turki tidak dapat mencetak gol. Itulah yang menjadi kelemahan dan yang menyebabkan tim ini harus menanggung kekecewaan.

“Kami bermain untuk tim-tim besar, seharusnya kami menunjukkannya di lapangan. Tidak ada masalah hubungan antara pemain. Kami hanya tidak bisa melakukan apa yang kami inginkan di lapangan, kami tidak bisa mencetak gol. Nol gol dalam dua pertandingan tidak dapat diterima. Kami tidak mencapainya. Kami minta maaf," kata Arda Guler lagi.

Sepanjang pertandingan tersebut, permainan Arda Guler memang terlihat tidak maksimal. Situasi tersebut ditambah dengan Paraguai yang membentuk pertahanan yang sulit ditembus dengan pemain belakang seperti Omar Alderete, Gustavo Gomez, atau Juan Jose Caceres.

Penjagaan ketat, hampir man-to-man, oleh Diego Gomez kepada Arda Guler, atau karena pelanggaran yang ia dapatkan. Pada akhirnya, yang terlihat adalah Timnas Turki yang mengecewakan dan pelatih mereka, Vincenzo Montella yang juga mengecewakan.

Arda Guler menyatakan bahwa kegagalan ini akan selalu dia ingat sebagai motivasi ke depannya. "Sepanjang karier saya bermain untuk Timnas Turki, hasil buruk ini akan saya ingat agar saya tidak lagi terulang di masa depan," kata Arda Guler.

Kegagalan di Piala Dunia 2026 melengkapi musim yang tidak bagus bagi Arda Guler dari sisi pencapaian dan gelar. Di level klub, situasinya juga tidak berbeda. Real Madrid meraih hasil mengecewakan karena tidak merah gelar apapun sepanjang musim 2025-2026 lalu. Namun demikian, semua itu berbeda jika melihat rapor Arda Guler yang mencetak enam gol dan memberikan 14 asis dalam total 51 laga di semua ajang.

Di Timnas Turki, Arda Guler juga berada di balik sukses tim ini lolos ke Piala Dunia 2026. Bermain dalam lima pertandingan dalam kualifikasi zona Eropa, Arda Guler mencetak satu gol dan memberikan tiga asis. Angka yang cukup mengesankan bagi seorang pemain muda seperti dirinya.

Salah satu momen terbaik dalam kualifikasi saat lawan Bulgaria pada pada Oktober tahun lalu. Kemenangan 6-1 atas Bulgaria ditandai dengan satu gol dan dua asis tersebut. Meski demikian, dalam kualifikasi itu pula, ada laga yang sudah menjadi alarm bagi Turki saat digulung Spanyol 0-6 pada September tahun lalu.

Turki masih memiliki satu pertandingan tersisa di babak penyisihan grup melawan Amerika Serikat, tetapi hasilnya tidak akan memengaruhi nasib mereka. Laga tersebut penting untuk memperlihatkan penampilan terakhir mereka dengan performa yang lebih kuat dan mengembalikan harga diri mereka di turnamen ini.