TVRINews - Jakarta

Format baru Piala Dunia 2026 memang memberi peluang lebih luas, tetapi kerasnya babak kualifikasi terpaksa menyingkirkan banyak tim kuat dan pemain-pemain bintangnya.

Panggung Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah dengan 48 tim yang berlaga di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada 11 Juni-19 Juli 2026. Format baru ini memang memberi peluang lebih luas, tetapi kerasnya babak kualifikasi tetap menyingkirkan banyak tim kuat dan otomatis, pemain-pemain bintangnya.

Menariknya, sebagian dari pemain yang gagal tampil justru bersinar bersama klub-klub elite Eropa. Dari pencetak gol terbanyak hingga playmaker kreatif, mereka tetap tampil luar biasa di level klub, namun harus menerima kenyataan pahit di level internasional. Berikut daftar 10 pemain bintang yang gagal ke Piala Dunia 2026 karena negaranya tidak lolos:

1. Robert Lewandowski (Polandia)

Lewandowski tetap menjadi salah satu striker paling konsisten di dunia bersama klubnya, FC Barcelona. Ketajamannya di depan gawang (81 gol dari 128 laga) masih menjadi andalan utama klub raksasa Spanyol tersebut.

Namun, di level tim nasional, Polandia gagal menjaga konsistensi sepanjang kualifikasi. Mereka tidak mampu bersaing dengan rival-rival di grup maupun play-off.

Bagi Lewandowski, ini menjadi pukulan besar. Dengan usia yang tidak lagi muda, 37 tahun, peluang tampil di Piala Dunia berikutnya tampaknya telah tertutup.

Absennya sang legenda membuat turnamen kehilangan salah satu predator terbaik di kotak penalti.

2. Victor Osimhen (Nigeria)

Osimhen tampil luar biasa bersama Galatasaray maupun klub sebelumnya SSC Napoli, dan dikenal sebagai striker dengan kombinasi kekuatan, kecepatan, dan insting gol yang tajam.

Sayangnya, Nigeria gagal memaksimalkan potensi skuad mereka di kualifikasi zona Afrika. Persaingan ketat membuat mereka tersingkir lebih awal dari perebutan tiket Piala Dunia 2026.

Padahal, Osimhen sedang berada di puncak performa dan sangat layak tampil di panggung dunia. Tanpa kehadirannya, wakil Afrika kehilangan salah satu pemain yang memiliki daya gedor di lini depan.

3. Gianluigi Donnarumma (Italia)

Donnarumma tetap menjadi pilihan utama di bawah mistar Manchester City, bahkan sejak di klub sebelumnya, Paris Saint-Germain. Refleks dan ketenangannya menjadikannya salah satu kiper terbaik dunia.

Sayangnya, Italia kembali gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun, sebuah anomali bagi negara dengan sejarah besar di sepak bola.

Meski tampil cukup baik secara individu, Donnarumma tidak mampu menyelamatkan tim dari kegagalan kolektif. Absennya kiper berusia 27 tahun ini menjadi simbol krisis yang sedang dialami sepak bola Italia.

4. Khvicha Kvaratskhelia (Georgia)

Kvaratskhelia bersinar bersama Paris Saint-Germain maupun klub sebelumnya, Napoli, dan menjadi salah satu winger paling eksplosif di Eropa. Kemampuannya melewati pemain dan menciptakan peluang sangat menonjol.

Namun, Georgia belum memiliki kekuatan kolektif untuk bersaing dengan negara-negara besar di Eropa. Kegagalan di kualifikasi membuat aksinya tidak akan terlihat di Piala Dunia 2026. Padahal, gaya bermainnya termasuk yang paling menghibur untuk ditonton.

5. Dusan Vlahovic (Serbia)

Vlahovic merupakan striker utama Juventus dengan kemampuan finishing yang sangat tajam. Ia sudah mengoleksi 46 gol dari 118 laga bersama La Vecchia Signora. Ia diharapkan menjadi ujung tombak Serbia untuk menembus Piala Dunia, namun hasilnya tidak sesuai harapan.

Serbia gagal menunjukkan konsistensi di momen-momen penting kualifikasi. Akibatnya, Vlahovic harus menunda impian tampil di turnamen terbesar dunia.

6. Dominik Szoboszlai (Hungaria)

Szoboszlai menjadi salah satu gelandang kunci Liverpool dengan kontribusi besar dalam membangun serangan. Sebagai kapten Hungaria, ia membawa harapan besar untuk lolos ke Piala Dunia 2026.

Namun, Hungaria gagal bersaing di jalur kualifikasi yang ketat. Absennya Szoboszlai membuat turnamen kehilangan salah satu playmaker terbaik generasi sekarang.

7. Benjamin Sesko (Slovenia)

Sesko berkembang pesat bersama RB Leipzig sebelum bergabung dengan Manchester United sejak 2025. Ia disebut sebagai salah satu striker masa depan Eropa. Posturnya yang tinggi dipadukan dengan mobilitas tinggi menjadikannya pemain yang sulit dihentikan.

Namun, Slovenia gagal melangkah jauh di kualifikasi. Hal ini membuat Sesko harus menunda debutnya di Piala Dunia.

8. Bryan Mbeumo (Kamerun)

Mbeumo tampil konsisten bersama Manchester United di Premier League dan dikenal sebagai pemain yang fleksibel di lini depan. 

Namun, Kamerun gagal mempertahankan performa stabil di kualifikasi Afrika. Akibatnya, mereka harus tersingkir dan kehilangan tiket ke Piala Dunia 2026. Mbeumo pun harus rela absen meski performanya di klub cukup impresif.

9. Serhou Guirassy (Guinea)

Guirassy menjadi salah satu striker paling produktif di Eropa sejak bersama Stuttgart maupun klubnya saat ini, Borussia Dortmund. Namun, performa impresif tersebut tidak mampu mengangkat Guinea di level internasional.

Mereka gagal bersaing di zona Afrika yang sangat kompetitif. Absennya Guirassy menjadi bukti bahwa performa klub tidak selalu berbanding lurus dengan tim nasional.

10. Illia Zabarnyi (Ukraina)

Zabarnyi tampil solid bersama Paris Saint-Germain dan menunjukkan kematangan di usia muda. Pemain berusia 23 tahun ini menjadi pilar penting lini pertahanan Ukraina. 

Namun, Ukraina gagal melewati rintangan berat di kualifikasi Eropa. Absennya Zabarnyi menutup peluang bagi salah satu bek muda terbaik untuk bersinar di Piala Dunia 2026.