TVRINews - New York, Amerika Serikat

Dana yang dihasilkan diharapkan mampu memperkuat fondasi sepak bola akar rumput agar Amerika Serikat bisa sejajar dengan kekuatan sepak bola global di masa depan.

Lanskap sepak bola Amerika Serikat terlihat sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan saat terakhir kali negara tersebut menjadi tuan rumah Piala Dunia pada 1994. Di masa itu, kompetisi MLS bahkan belum resmi dimulai dan bintang Inter Miami, Lionel Messi, belum pindah ke tim muda Barcelona.

Kondisi tersebut kian kontras mengingat Christian Pulisic, yang kini menjadi bintang paling terang di lapangan bagi Amerika Serikat, bahkan belum lahir ke dunia. Pelaksanaan turnamen prestisus tersebut yang kurang dari 70 hari lagi, Amerika Serikat kini memiliki peluang unik untuk melakukan sesuatu yang hanya pernah dicapai oleh sejumlah tim sebelumnya.

Ambisi besar tersebut adalah memenangkan Piala Dunia di tanah air sendiri, meskipun hal itu tentu saja menjadi tugas yang sangat berat. Negara-negara raksasa seperti Prancis, Brasil, dan Argentina dipastikan tidak akan memberikan jalan mudah bagi tuan rumah untuk meraih gelar juara.

Namun, peluang itu tetap terbuka lebar mengingat betapa pesatnya pertumbuhan permainan sepak bola di negara tersebut dalam tiga dekade terakhir sejak Amerika Serikat pertama kali menggelar acara internasional ini. Penjaga gawang legendaris Amerika Serikat, Tim Howard, menyebut edisi 2026 sebagai Piala Dunia terbesar dalam sejarah sepanjang masa.

"Ini adalah mimpi yang mustahil untuk diimpikan," ujar Howard yang kemudian memberikan mandat khusus kepada seluruh penggemar untuk memberikan dukungan total dikutip Miami Herald.

"Para penggemar AS memiliki peran penting: mereka bisa memberikan dukungan di belakang tim. Tim akan tergerak oleh hal itu," ucap Howard menjelaskan dampak psikologis dari suporter.

Pernyataan Howard tersebut disampaikan dalam acara perayaan pesawat FIFA World Cup 2026 milik American Airlines yang memperkenalkan desain badan pesawat baru sebagai penghormatan bagi turnamen tersebut. Di samping sang kiper legendaris, duduk bintang sepak bola Prancis, Thierry Henry, yang pernah merasakan manisnya juara di rumah sendiri.

Henry merupakan bagian dari skuad Prancis 1998, yakni tim terakhir yang berhasil mengangkat trofi Piala Dunia saat bertindak sebagai tuan rumah penyelenggara. Senada dengan Howard, ia membahas bagaimana faktor keyakinan memainkan peran krusial dalam kemenangan pertama negaranya di ajang empat tahunan tersebut.

"Ketika tim bisa membuat orang-orang percaya bahwa Anda benar-benar bisa melakukan apa yang sebelumnya mustahil," ujar Henry mengenang masa sulit Prancis sebelum 1998.

"Tiba-tiba orang mulai percaya bahwa kami bisa melakukannya," ucap Henry yang menekankan bahwa kepercayaan publik adalah mesin penggerak utama bagi sebuah tim merujuk pada fakta Prancis sempat absen dalam dua edisi Piala Dunia berturut-turut sebelum akhirnya bangkit dan menjadi juara.

"Saat Anda mencapai tingkat kebersamaan seperti itu di dalam komunitas, maka Anda bisa mencapai banyak hal," tutur Henry mempertegas argumennya mengenai soliditas nasional.

Tim nasional Prancis 1998 diperkuat oleh maestro lini tengah Zinedine Zidane dan tentu saja Henry sendiri yang masih sangat muda saat itu. Selain lini serang yang tajam, kiper mereka, Fabien Barthez, juga berhasil menyabet penghargaan sebagai penjaga gawang terbaik di turnamen tersebut.

"Menjadi bagian dari sejarah Piala Dunia adalah hal yang luar biasa karena saya dulu biasa melihatnya, memimpikannya, dan tiba-tiba, Anda menjadi bagian dari mimpi itu," ungkapnya

"Itu adalah sesuatu yang tidak bisa Anda gambarkan secara nyata bahkan sampai sekarang," Henry menambahkan dengan nada penuh kekaguman atas pencapaian kariernya.

Berdasarkan peringkat terbaru dunia, FIFA menempatkan Amerika Serikat di posisi 16, jauh di bawah pesaing utama seperti Argentina (3) dan Prancis (1). Bahkan jika Amerika Serikat berhasil lolos dari fase grup, kemungkinan besar menghadapi tantangan yang sangat menakutkan di babak gugur nanti.

Namun, seperti yang dikatakan Henry, dunia seolah berhenti berputar ketika Piala Dunia tiba dan segala kejutan bisa saja terjadi di atas lapangan. "Dunia berdiri diam saat Piala Dunia ada, dan Anda tidak tahu apa yang akan terjadi sepanjang waktu, jadi Anda harus berada di sana dan menyaksikannya."

Terlepas dari hasil akhirnya nanti, Amerika Serikat memiliki peluang unik untuk menyetarakan level permainan mereka dengan negara-negara besar di masa depan. Amerika Serikat saat ini masih menjadi satu-satunya negara dengan sistem pay-to-play yang sayangnya cenderung mengeksklusi keluarga berpenghasilan rendah dari pembinaan sepak bola.

Investasi dari pendapatan Piala Dunia 2026 diharapkan bisa dialokasikan kembali ke masyarakat untuk menghapus hambatan masuk bagi talenta-talenta muda berbakat. "Orang-orang di dalam lingkaran sepak bola Amerika ingin berada di garda terdepan sepak bola global," kata Howard memberikan pandangannya tentang visi masa depan.

"Untuk melakukan itu, kita harus menempatkan banyak dolar yang dihabiskan, yang akan didapat melalui Piala Dunia ini, kembali ke akar rumput untuk mencoba mengangkat dan memperkuat potensi sepak bola," Howard melanjutkan.

"Seluruh dunia telah melakukan itu. Kita memiliki peluang nyata untuk melakukannya kali ini," Howard menutup pernyataannya dengan penuh optimisme.