TVRINews – Taskent, Uzbekistan

Fabio Cannavaro membawa pengalamannya sebagai kapten dan bek tengah pemenang Piala Dunia (2006) ke Timnas Uzbekistan.

Pergantian pelatih kepala Tim Nasional Sepak Bola Uzbekistan dari Timur Kapadze ke Fabio Cannavaro pada awal Oktober 2025 lalu sempat menimbulkan tanda tanya, mengapa pelatih yang membawa White Wolves ke puataran final Piala Dunia untuk pertama kalinya pada 2026 ini.

Kapadze sendiri sebelumnya menggantikan Srecko Katanec yang memimpin Uzbekistan sampai pertengahan kampanye kualifikasi. Di bawah Kapadze, Uzbekistan tampil menggila dengan hanya kalah sekali dalam 15 laga. 

Mereka mengantongi 21 poin dalam 10 pertandingan putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia, catatan yang sudah memenuhi syarat untuk lolos kualifikasi meskipun turnamen belum diperluas menjadi 48 peserta. Itulah mengapa muncul pertanyaan mengapa Kapadze diganti. 

Kedatangan Cannavaro sekaligus menandai awal dari babak baru Timnas Uzbekistan. Pengalaman, kepemimpinan, dan disiplin taktis, menjanjikan Uzbekistan lebih energik dan stylish dari sisi teknis.

Mantan pelatih Dinamo Zagreb, yang meninggalkan klub Kroasia itu pada April 2025 setelah hanya 14 pertandingan, itu membawa pengalaman global dan mentalitas pemenang. Ya, Cannavaro adalah kapten Timnas Italia saat memenangi Piala Dunia 2006. 

Pria Italia berusia 52 tahun itu akan didampingi oleh asisten pelatih Eugenio Albarella, pelatih kebugaran Francesco Troise, dan pelatih kiper Antonio Chimenti saat Uzbekistan bersiap untuk debut bersejarah mereka di panggung sepak bola terbesar.  

Taktik dan Manajemen Cannavaro

Pendekatan taktis Cannavaro sebagai manajer Tim Nasional Uzbekistan berpusat pada struktur yang disiplin dan terorganisasi yang memprioritaskan kekakuan taktis sambil melengkapi bakat teknis alami skuad. 

Mengambil alih Serigala Putih untuk debut bersejarah mereka di panggung global, Cannavaro membawa perpaduan beberapa prinsip inti. 

Pertama, formasi. Cannavaro sangat menyukai formasi 4-2-3-1 yang dinilainya mampu menyeimbangkan setiap lini dan mudah beradaptasi saat transisi antara soliditas saat bertahan dan serangan cepat.

Kedua, disiplin pertahanan. Dengan statusnya sebagai legenda pemain bertahan peraih Piala Dunia (2006), Cannavaro menekankan kesadaran spasial, cakupan pertahanan, dan integritas struktural.  

Ketiga, pengembangan pemain. Cannavaro juga berperan sebagai mentor bagi para gelandang dan pemain bertahan bertalenta tinggi milik Uzbekistan. Salah satu fokus Cannavaro adalah para pemimpin lini seperti bek tengah berusia 22 tahun Abdukodir Khusanov sebagai kompas tim.

Keempat, latihan intensitas tinggi. Staf pelatihnya (termasuk pelatih kebugaran Francesco Troise) berfokus pada peningkatan intensitas pemain domestik secara drastis untuk menjembatani kesenjangan antara Liga Super Uzbekistan dan level tertinggi sepak bola internasional.

Terakhir, adaptabilitas pragmatis. Alih-alih memaksakan sistem yang terlalu kaku, Cannavaro bekerja sama erat dengan staf lokalnya untuk merangkul mentalitas tangguh dan pantang menyerah para pemain Uzbekistan, memadukan akar taktik Italia-nya dengan gaya bermain tim yang energik dan teknis.

Tanpa Beban di Grup Berat

Di Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko mulai 11 Juni sampai 19 Juli nanti, Uzbekistan akan tergabung di salah satu klub berat. Di Grup K, mereka akan bersaing dengan Portugal, Republik Demokratik Kongo, dan Kolombia. 

Pertandingan pertama Uzbekistan adalah melawan Kolombia di Mexico City Stadium, Meksiko, pada 18 Juni pukul 09.00 pagi WIB. Berikutnya, Portugal sudah menunggu di Houston, AS, pada 24 Juni pukul 00.00 WIB. Terakhir, Uzbekistan akan melawan RD Kongo di Atlanta, AS, pada 28 Juni pukul 06.30 WIB.

Seperti dikutip Euronews, Cannavaro mengakui Piala Dunia 2026 menjadi yang pertama baginya turun sebagai pelatih dan Uzbekistan juga perdana turun di ajang ini. 

Kendati begitu, Cannavaro masih percaya jika Piala Dunia memungkinkan tim-tim yang tidak diunggulkan mampu membuat kejutan sampai menghantam skuad favorit.

Portugal dan Kolombia adalah tim-tim yang berada di 20 besar dunia. Sementara, banyak pemain Kongo yang turun di Ligue 1 (Prancis) dan Premier League (Inggris). Namun, menurut Cannavaro, di Piala Dunia, orang tidak bisa menyebut satu tim lebih kuat daripada yang lain.

Dengan kondisi-kondisi itu, Cannavaro menginstruksikan pemainnya untuk tampil lepas tanpa beban, menikmati permainan, dan harus gembira karena bisa menjadi bagian dari turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia ini.     

Biodata Fabio Cannavaro

Nama lengkap: Fabio Cannavaro
Kelahiran: Napoli, Italia, 13 September 1973 (52)
Kewarganegaraan: Italia

Karier Melatih: 

  • Guangzhou Evergrande (November 2014 – Juni 2015)
  • Al Nassr (Oktober 2015 – Februari 2016)
  • Tianjin Quanjian (Juli 2016 – November 2017)
  • Guangzhou Evergrande (November 2017 – September 2021)
  • Timnas Tiongkok (Maret 2019 – April 2019, caretaker)
  • Benevento (September 2022 – Februari 2023)
  • Udinese (April 2024 – Juni 2024)
  • Dinamo Zagreb (Desember 2024 – April 2025)
  • Timnas Uzbekistan (Oktober 2025 – sekarang)

Prestasi sebagai Pelatih:

Tianjin Quanjian 

  • China League One (Divisi II atau kasta ketiga Liga Cina): Juara 2016 

Guangzhou Evergrande

  • Chinese Super League (kasta tertinggi Liga Cina): Juara 2019
  • Chinese FA Super Cup: Juara 2018

Penghargaan Individu: 

  • Pelatih Terbaik Asosiasi Sepak Bola Cina: 2017