Bintang Prancis, Kylian Mbappe. Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews - Paris, Prancis
Leboeuf membandingkan sifat Mbappe dengan kerelaan berkorban yang dimiliki oleh pilar lini belakang seperti Saliba dan Kante.
Kritik tajam melanda internal tim nasional Prancis menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026. Legenda sepak bola Prancis, Frank Leboeuf, secara terbuka mempertanyakan kelayakan Kylian Mbappe sebagai pemimpin utama dalam skuad asuhan Didier Deschamps.
Penunjukan penyerang Real Madrid tersebut sebagai kapten sejak 2023 dinilai tidak mencerminkan kebutuhan taktis kolektif tim. Leboeuf melihat adanya ego yang terlalu besar dalam diri Mbappe sehingga berpotensi mengganggu keharmonisan performa di atas lapangan.
Mantan bek yang membawa Prancis menjuarai Piala Dunia 1998 ini menilai esensi kepemimpinan sejati justru lahir dari kerelaan untuk berkorban demi organisasi permainan. Oleh karena itu, ia menganggap keputusan mempertahankan ban kapten di lengan Mbappe merupakan sebuah kekeliruan besar.
Leboeuf mengidentifikasi karakteristik Mbappe menjadi hambatan utama dalam menyatukan visi bermain seluruh anggota tim. Penilaian objektif tersebut disampaikannya berdasarkan pengamatan mendalam terhadap rekam jejak kepemimpinan sang megabintang.
"Tidak, Kylian Mbappe bukanlah seorang pemimpin bagi saya karena dia terlalu egoistis dalam pemikirannya, dalam cara dia berpikir," kata Leboeuf dikutip dari SportsBoom.
Mantan pemain Chelsea tersebut juga menegaskan pandangannya sama sekali tidak bermaksud menyerang kepribadian personal Mbappe di luar lapangan hijau. Fokus kritiknya murni tertuju pada filosofi sepak bola modern yang dianut oleh mantan penggawa Paris Saint-Germain tersebut.
"Sekali lagi, dia anak yang hebat, berpendidikan baik, tetapi pemikirannya, cara berpikirnya tentang sepak bola, tidak sejalan dengan nilai-nilai saya dalam permainan," ucapnya.
Sebagai alternatif solusi, Leboeuf menyodorkan nama-nama pemain pilar lini belakang dan gelandang bertahan yang dinilai memiliki determinasi tinggi. Ia memandang para pemain di sektor tersebut jauh lebih layak menjadi panutan bagi rekan-rekan setimnya.
"Itulah mengapa saya menyukai orang-orang seperti William Saliba and N'Golo Kante, pemain seperti itu yang siap berkorban untuk tim," ujarnya.
Di samping itu, nama Antoine Griezmann turut disebut sebagai representasi figur ideal yang memahami cara bermain demi kemenangan bersama. Dedikasi pemain senior tersebut dianggap menjadi contoh nyata dari sebuah komitmen taktis yang sesungguhnya dibutuhkan oleh Prancis.
"Itulah perbedaannya bagi saya, dan itulah yang paling penting bagi saya. Antoine Griezmann juga merupakan pemimpin sejati dalam hal cara dia bermain dan cara dia berpikir tentang sepak bola," ujarnya.
Kedisiplinan dalam transisi bertahan juga menjadi parameter penting yang digunakan Leboeuf untuk menguliti kelemahan gaya main Mbappe. Ia memberikan pujian khusus kepada barisan penyerang sayap lain yang mau turun membantu mengamankan area pertahanan saat tim digempur musuh.
"Saya menyukai komentar Ousmane Dembele, yang mengatakan bahwa jika saya tidak membantu pertahanan, pelatih tidak akan memasukkan saya," tuturnya.
Ketidakseimbangan ini dikhawatirkan dapat menjadi celah fatal saat Prancis bersaing dengan tim raksasa seperti Argentina, Spanyol, dan Brasil. Leboeuf menegaskan status kebintangan seorang pemain tidak akan pernah melampaui kepentingan soliditas sebelas pemain di lapangan.
"Dan itulah realitas sepak bola. Mbappe adalah seorang superstar, tetapi dia bukan rekan setim terbaik di dunia; itulah masalah saya," ungkapnya.