TVRINews - Lyon, Prancis

Federasi Sepak Bola Kaledonia Baru dalam beberapa tahun terakhir mendorong pemainnya untuk merantau ke Prancis.

Roussillon adalah sebuah kota kecil yang terletak di lembah Rhone, sekitar 40 menit berkendara ke selatan Lyon, Prancis. Sebuah tempat yang mengingatkan bahwa kisah luar biasa sering tersembunyi di lokasi yang tampak biasa saja. 

Ya, di kota (yang sebenarnya lebih mirip desa) itulah berdiri klub semipro Olympique Salaise Rhodia. Klub ini bermain di kompetisi Regional 2, kasta ketujuh (tier 7) Liga Prancis, yang kalau di Indonesia mungkin selevel "tarkam". 

Beberapa pemainnya mengatakan bahwa Roussillon tidak "hidup" untuk klubnya. Akan tetapi, saat Anda melintasi pusat kota untuk menuju Stade de La Terre Rouge, kandang Olympique Salaise Rhodia, Anda mulai meragukan apakah warga kota kecil itu benar-benar tidak peduli terhadap sepak bola. 

Pada hari Minggu yang cerah di wilayah pedesaan Prancis itu, kompetisi kembali bergulir. Sekitar 30 menit sebelum pertandingan dimulai, satu-satunya tribune perlahan terisi. 

Hampir semua orang tampaknya saling mengenal. Tiket masuk pun gratis meski menyuguhkan laga papan atas kompetisi Regional 2 antara tuan rumah Olympique Salaise Rhodia melawan Craponne AS.

Tampak di belakang gawang, sekelompok kecil ultras menjalankan “tugas” mereka: menggoda kiper lawan, menekan wasit, hingga meledek pemain bintang mereka sendiri, Titouan Richard. “Saya ini favorit kecil mereka,” kata Richard sambil tersenyum, dikutip dari The Guardian.

Namun, Richard bukanlah sekadar "pemain pujaan warga lokal" biasa. Ia kini hanya berjarak dua pertandingan untuk tampil di Piala Dunia 2026. Kisah Richard, yang merupakan pemain Timnas Kaledonia Baru, mencerminkan banyak cerita tersembunyi lain di lapangan-lapangan kecil kasta bawah di daratan Prancis.

Kaledonia Baru, yang berada di peringkat ke-150 dunia versi FIFA, telah terbang ke Guadalajara, Meksiko, pekan ini dengan harapan mengamankan tempat di Piala Dunia 2026. 

Untuk mewujudkannya, mereka harus mengalahkan Jamaika, lalu menundukkan Republik Demokratik Kongo dalam laga play-off interkontinental menuju Piala Dunia 2026.

Jika berhasil, itu akan menjadi sejarah pertama bagi wilayah seberang laut Prancis tersebut tampil di Piala Dunia. Peluang ini muncul berkat format Piala Dunia yang diperluas, yang untuk pertama kalinya memberikan jatah otomatis bagi Oseania, diisi oleh Selandia Baru seperti yang diperkirakan. 

Namun, Selandia Baru harus bekerja keras mengalahkan Kaledonia Baru 3-0 sebelum merebut tiket tersebut. “Ketika kami bermain melawan Selandia Baru, mereka semua profesional. Lingkungannya berbeda,” ujar Richard.

Perbedaan itu sangat terasa. Saat pemain Selandia Baru seperti Chris Wood bermain di Premier League (kasta tertinggi Liga Inggris), Richard harus membagi waktu antara latihan, pertandingan, pekerjaan, dan studi di kota kecilnya itu. 

Ia pernah bekerja di Intermarche, jaringan supermarket Prancis, sambil menempuh studi komunikasi. Kini Richard sedang tidak bekerja, tetapi itu justru memberinya ruang.

“Untungnya saya tidak punya pekerjaan saat ini,” ujarnya sambil bercanda. Sebelumnya, ia bahkan harus mengambil cuti tanpa bayaran demi membela Kaledonia Baru.

Kapten Kaledonia Baru, Cesar Zeoula, salah satu dari sedikit pemain yang memiliki kontrak profesional, tidak jauh beda dengan Titouan Richard.

“Kadang perjalanan itu merepotkan, tapi memang harus dijalani,” kata Zeoula, yang bermain di kasta kelima Liga Prancis bersama klub US Chauvigny.

Para pemain biasanya berkumpul di Paris sebelum diterbangkan sejauh 20.000 km oleh federasi mereka. Namun, dulu, perjalanan ke arah sebaliknya jauh lebih sulit.

“Dulu sangat sulit datang ke daratan Prancis. Jauh dari keluarga, harga tiket mahal, tidak semua orang bisa melakukannya. Sekarang jauh lebih mudah,” ujar Zeoula.

Federasi Kaledonia Baru dalam beberapa tahun terakhir mendorong pemain untuk merantau ke Prancis. Pelatih Kaledonia Baru, Johann Sidaner, menjelaskan, “Salah satu tujuan saat saya datang pada Agustus 2022 adalah membangun koneksi dengan Prancis daratan, agar para pemain bisa bermain di level tertentu.”

Strategi ini menjadi makin penting, terutama setelah situasi sulit di tanah asal. “Ada peristiwa yang melemahkan sepak bola di Kaledonia Baru,” kata Sidaner, merujuk pada protes besar terkait reformasi pemilu yang membuat liga sepak bola dihentikan pada Mei 2024. 

Liga mereka baru kembali berjalan normal bulan ini. “Memang benar sepak bola kami mengalami kemunduran,” ia menambahkan. 

Sekali Seumur Hidup

Zeoula merasa seperti bermimpi bisa tampil di semifinal play-off Piala Dunia 2026 Jumat (27/3/2026) dini hari WIB nanti. 

“Ini (play-off) adalah dua pertandingan level elite yang mungkin tidak akan pernah kami mainkan lagi seumur hidup,” ujar Zeoula, yang kini sudah berusia 36 tahun. 

Dengan banyak pemain Kaledonia Baru yang berada di pengujung karier, Zeoula menyebut momen ini akan sangat emosional saat mereka bersatu untuk mencetak sejarah.

Sedangkan sang pelatih menyebut kebersamaan menjadi kekuatan utama mereka. “Memang sulit hidup sendiri, jauh dari keluarga, seperti tercerabut,” kata Sidaner. 

“Mereka tidak selalu bisa memberikan potensi terbaiknya, tetapi ketika bersama, mereka punya budaya yang lebih dari sekadar keluarga. Mereka adalah klan dan suku yang terbiasa bekerja bersama, dan saat bersatu mereka bisa memindahkan gunung,” ia menambahkan.

Sementara menurut Titouan Richard, menjelang kualifikasi, tak ada yang ingin berada di “zona merah”. “Makin dekat, makin sering terpikir. Dalam tiap sesi latihan, Anda harus bekerja lebih keras untuk siap. Belum pernah ada pemain Regional 2 yang hanya dua laga lagi menuju Piala Dunia,” ujarnya, bangga.

Richard kemudian menambahkan, “Kami selalu bilang, dalam sepak bola apa pun bisa terjadi.” Pemain berposisi gelandang ini juga mengakui faktor keberuntungan akan berperan dalam laga melawan Jamaika nanti.

Pada level liga, keberuntungan itu sempat tidak berpihak ketika timnya, Olympique Salaise Rhodia, kalah 2-3 dari AS Craponne dalam kompetisi Regional 2, meski ia mencetak satu gol dan satu asis.

Melihat level kompetisi mereka, mungkin ada yang meremehkan. Namun, itu akan menjadi kesalahan besar. Kaledonia Baru, bagaimanapun, berhasil finis di puncak grup kualifikasi.

“Kalau kami ada di sini (play-off Piala Dunia 2026), itu karena kami pantas. Kami sudah melakukan hal-hal luar biasa,” Richard menegaskan.

Jika mampu menciptakan kejutan lagi, Kaledonia Baru akan memasuki dunia yang sangat berbeda dari Stade de La Terre Rouge di Roussillon, di mana aturan permainan tetap sama, tetapi taruhannya jauh, jauh lebih besar.