FIFA diminta memastikan keamanan tim peserta Piala Dunia 2026 Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews - Jakarta
Bukan hal baru jika politik internasional membayangi sebuah event olahraga global seperti Piala Dunia, setidaknya pada tahap awal sebelum aksi sepak bola mengambil alih headline.
Waktu tersisa kurang dari 100 hari sebelum Piala Dunia 2026. Konflik perang Iran kontra Israel dan Amerika Serikat serta dampaknya di Timur Tengah menambah kompleksitas masalah turnamen yang diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada ini.
Bagaimana konflik tersebut akan memengaruhi event olahraga paling banyak ditonton di dunia, menjadi isu terbaru yang harus dihadapi para penyelenggara. Dalam hal ini, FIFA dan panitia pelaksana Piala Dunia 2026 (FIFA World Cup 2026 Organizing Committee).
Sebelumnya mereka sudah bergulat dengan beberapa tatangan. Yaitu kekerasan kartel di salah satu kota tuan rumah di Meksiko, rencana Fan Fest di Amerika Serikat yang terancam batal, serta kritik dari suporter akibat harga tiket yang meroket.
Pejabat dari tim-tim yang sudah lolos kualifikasi akan bertemu dengan staf FIFA di Atlanta pada pekan ini, di antaranya untuk membahas hal tersebut.
Turnamen akan dimulai 11 Juni 2026 ketika Meksiko menghadapi Afrika Selatan di Mexico City, dan berakhir pada 19 Juli 2026. Ini akan menjadi Piala Dunia terbesar dalam sejarah dengan 48 tim peserta, meningkat dari 32 tim pada edisi sebelumnya di Qatar.
Namun, makin dekat menuju kick-off, tantangan yang harus dilalui pun makin besar. Berikut ini enam tantangan yang dihadapi FIFA dan panitia kurang dari 100 hari jelang Piala Dunia 2026, dikutip dari PBS News, Kamis (5/3/2026).
1. Latar Belakang Ketegangan Geopolitik
Bukan hal baru jika politik internasional membayangi sebuah event olahraga global seperti Piala Dunia, setidaknya pada tahap awal sebelum aksi sepak bola mengambil alih headline.
Jelang Piala Dunia 2022 lalu, perlakuan Qatar terhadap pekerja migran menjadi sorotan di luar lapangan. Aneksasi Krimea dan keracunan seorang mata-mata di Inggris juga menjadi fokus saat Rusia menjadi tuan rumah pada 2018.
Kemudian di Brasil pada 2014 dan Afrika Selatan pada 2010, kekhawatiran soal kejahatan dan keamanan sempat mewarnai persiapan.
Piala Dunia 2026 diperkirakan akan dimulai di tengah ketegangan politik yang melibatkan AS dan beberapa negara peserta. Banyak negara terkena dampak tarif perdagangan, dan beberapa menghadapi pembatasan perjalanan.
Denmark, yang masih bisa lolos melalui play-off pada Maret mendatang, sempat terguncang oleh pernyataan Presiden Donald Trump yang menyerukan agar AS mengambil alih salah satu wilayah Denmark, Greenland. Kini dengan sisa waktu 100 hari, AS sedang terlibat dalam konflik militer dengan Iran, salah satu tim yang sudah memastikan tiket ke putaran final.
2. Status Iran di Piala Dunia Masih Belum Jelas
Iran dijadwalkan memainkan dua pertandingan fase grup di Inglewood, California, dan satu pertandingan di Seattle. Namun, apakah timnas Iran akan datang ke AS masih belum pasti.
“Hal yang pasti adalah bahwa setelah serangan ini, kita tidak dapat diharapkan menantikan Piala Dunia dengan penuh harapan,” kata pejabat sepak bola tertinggi Iran, Mehdi Taj, pekan lalu.
Taj menyampaikannya ketika AS dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa pejabat senior lainnya.
Meski demikian, Iran belum mengumumkan bahwa mereka akan menarik diri dari turnamen, dan hingga kini tidak ada tim yang lolos yang melakukan hal tersebut dalam 75 tahun terakhir. Iran, yang merupakan tim dengan peringkat kedua tertinggi di Asia, tergabung di grup yang sama dengan Belgia, Mesir, dan Selandia Baru.
Trump menanggapi status Iran dengan meremehkan. “Saya sebenarnya tidak peduli,” katanya kepada Politico pada Selasa (3/3/2026). “Saya pikir Iran adalah negara yang sangat kalah. Mereka berjalan dengan sisa-sisa tenaga.”
FIFA belum segera menanggapi permintaan komentar soal apakah pejabat federasi Iran hadir dalam lokakarya di Atlanta.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
3. Festival Penggemar Dipangkas
Fan Fest atau Festival Penggemar telah menjadi bagian penting dari pengalaman Piala Dunia dalam dua dekade terakhir. Festival ini memberikan kesempatan bagi ribuan penggemar yang tidak memiliki tiket pertandingan untuk merasakan atmosfer Piala Dunia dengan berkumpul bersama untuk menyaksikan laga di layar besar.
Beberapa rencana tersebut kini mulai direvisi di AS. New York/New Jersey membatalkan Fan Fest di Jersey City, meskipun telah mulai menjual tiket untuk acara yang direncanakan buka tiap hari selama turnamen.
Menjual tiket sendiri merupakan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk zona penggemar Piala Dunia, yang sejak diluncurkan pada edisi 2006 di Jerman, selalu gratis. Seattle juga mengurangi rencana awalnya dan menjadwalkan ulang di lokasi yang lebih kecil, sementara Boston memangkas event-nya menjadi 16 hari saja.
Kepala operasional panitia tuan rumah FIFA di Miami mengatakan dalam sebuah sidang kongres pada 24 Februari 2026, bahwa mereka mungkin akan membatalkan acara tersebut jika tidak menerima pendanaan federal dalam 30 hari. Polisi Kansas City menyatakan kota mereka memiliki kebutuhan mendesak akan dana federal untuk mempersiapkan keamanan.
4. Ancaman pada Pertandingan di Foxborough
Stadion tim New England Patriots di Foxborough, Massachusetts, dijadwalkan menjadi tuan rumah tujuh pertandingan Piala Dunia 2026. Dimulai dari Haiti vs Skotlandia pada 13 Juni 2026 dan berakhir dengan pertandingan perempat final pada 9 Juli 2026. Itulah rencana FIFA.
Namun Dewan Terpilih Foxborough menolak mengeluarkan izin untuk pertandingan Piala Dunia di stadion tersebut dan menetapkan batas waktu 17 Maret 2026 untuk pembayaran sebesar 7,8 juta dolar AS (Rp131,9 miliar).
Angka tersebut diperkirakan untuk biaya polisi dan pengeluaran lainnya. Foxborough mengatakan mereka tidak termasuk dalam perjanjian tuan rumah FIFA dengan Boston.
5. Penolakan Terhadap Harga Tiket FIFA
FIFA mengatakan memiliki sekitar 7 juta kursi untuk mengisi pertandingan Piala Dunia, dan bulan lalu menyatakan menerima 500 juta permintaan tiket. Presiden FIFA Gianni Infantino menyatakan semua 104 pertandingan telah terjual habis.
Namun beberapa fans menerima email pekan lalu, yang menawarkan jendela penjualan tiket tambahan selama 48 jam.
Harga tiket FIFA pada bulan Desember 2025 sempat mencapai hingga 8.680 dolar AS per tiket (setara Rp146,7 juta). Setelah mendapat kritik, FIFA mengatakan akan menawarkan beberapa ratus tiket seharga 60 dolar AS (sekitar Rp1 juta) untuk tiap pertandingan kepada 48 federasi nasional yang berlaga.
Federasi-federasi tersebut akan menentukan bagaimana mendistribusikannya kepada para penggemar setia mereka yang telah menghadiri pertandingan sebelumnya.
Sebagian besar kursi di platform penjualan kembali tiket FIFA justru dipasarkan di atas angka 1.000 dolar AS. Mereka berupaya memotong pasar sekunder dan mendapatkan biaya 15% ekstra dari pembeli dan penjual.
6. Kekerasan Kartel di Meksiko
Kemampuan Meksiko untuk menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2026 mendapat sorotan setelah meningkatnya kekerasan pekan lalu di negara bagian Jalisco menyusul tewasnya bos kartel kuat oleh militer. Ibu kota negara bagian tersebut, Guadalajara, dijadwalkan menjadi tuan rumah empat pertandingan fase grup.
Pemerintah Meksiko menegaskan Piala Dunia tidak akan terpengaruh dan Presiden Claudia Sheinbaum mengatakan tidak ada risiko bagi para penggemar yang datang ke turnamen.
Presiden FIFA Gianni Infantino mengatakan kepada Sheinbaum bahwa ia memiliki kepercayaan penuh pada Meksiko sebagai salah satu tuan rumah. Infantino berkali-kali berjanji bahwa Piala Dunia 2026 akan menjadi yang terbesar dan paling inklusif.