TVRINews - New Jersey, Amerika Serikat

Dua dekade terakhir banyak negara Afrika mulai mengandalkan pemain diaspora di Eropa untuk memperkuat timnas mereka. Strategi ini terbukti meningkatkan daya saing secara drastis.

Penampilan mengesankan Maroko saat menundukkan Brasil pada laga pembuka Piala Dunia 2026, serta hasil mengejutkan ketika Tanjung Hijau menahan imbang Spanyol bukan terjadi secara kebetulan. 

Terdapat strategi panjang di balik sukses itu, terutama dalam memanfaatkan pemain diaspora yang berkembang di berbagai klub Eropa sehingga mampu meningkatkan kualitas skuad secara signifikan.

Seluruh 11 pemain inti Maroko yang tampil sebagai starter lahir di luar negeri dan dibina oleh klub-klub Eropa. Satu-satunya pengecualian adalah penjaga gawang Yassine Bounou yang lahir di Kanada, tetapi tumbuh dan berkembang di Maroko.

Dikutip dari Reuters, dalam dua dekade terakhir, banyak negara Afrika mulai mengandalkan komunitas diaspora di Eropa untuk memperkuat tim nasional mereka. Strategi ini terbukti meningkatkan daya saing secara drastis. 

Tidak ada contoh yang lebih mencolok dibandingkan Tanjung Hijau, negara kepulauan dengan populasi sekitar 600.000 jiwa yang mengandalkan pemain kelahiran maupun besar di Eropa hingga akhirnya mampu lolos ke Piala Dunia.

Padahal, sekitar 20 tahun lalu mereka bahkan belum pernah mengikuti babak kualifikasi Piala Dunia. 

Arus migrasi global, perubahan besar dalam regulasi kelayakan pemain FIFA, serta semakin agresifnya pencarian bakat diaspora telah mengubah peta sepak bola dunia.

Apa Aturan Kelayakan Pemain Diaspora Menurut FIFA?

Seluruh pemain yang tampil di Piala Dunia wajib memiliki kewarganegaraan dari negara yang mereka wakili. FIFA bahkan melakukan pemeriksaan fisik terhadap paspor setiap pemain.

Untuk mencegah sebuah negara memberikan kewarganegaraan secara instan kepada pemain asing hanya demi memperkuat tim nasional, FIFA menetapkan syarat tambahan. 

Seorang pemain harus telah tinggal di negara tersebut selama minimal lima tahun atau memiliki orang tua maupun kakek-nenek yang lahir di negara tersebut.

Sejarah Aturan Kelayakan Pemain Diaspora

Pada masa-masa awal penyelenggaraan Piala Dunia, belum ada aturan tegas mengenai kelayakan pemain membela sebuah negara. 

Salah satu contoh paling terkenal adalah Luis Monti yang memperkuat Argentina pada Piala Dunia 1930, kemudian empat tahun berselang membela Italia setelah bergabung dengan Juventus.

Setelah itu FIFA menerapkan aturan yang sangat ketat. Seorang pemain yang sudah tampil dalam pertandingan internasional resmi untuk suatu negara, baik di level junior maupun senior, langsung terikat secara permanen dan tidak dapat berpindah membela negara lain.

Bagaimana Aturan Itu Berubah?

Federasi sepak bola negara-negara Afrika Utara menjadi pihak pertama yang mendorong perubahan regulasi agar pemain dapat berganti kewarganegaraan olahraga.

"Kami menganggap tidak adil jika pemain keturunan Afrika dipanggil ke tim junior negara-negara Eropa, tetapi kemudian tidak pernah mendapat kesempatan bermain di level senior," kata mantan Presiden Federasi Sepak Bola Aljazair, Mohamed Raouraoua, yang menjadi salah satu arsitek perubahan aturan tersebut

"Usulan kami adalah memberi kebebasan kepada para pemain untuk menentukan pilihan mereka sendiri," Raouraoua menambahkan.

Menurut Raouraoua, kehadiran pemain diaspora memberikan keuntungan besar bagi negara-negara Afrika. "Memiliki pemain-pemain seperti ini merupakan manfaat besar bagi banyak tim Afrika. Hal itu meningkatkan kualitas sepak bola secara keseluruhan," ujarnya.

FIFA kemudian mengubah statuta mereka pada 2003 dengan mengizinkan pemain berpindah asosiasi nasional selama memenuhi syarat memiliki kewarganegaraan ganda, dan belum pernah bermain untuk tim nasional senior dalam pertandingan resmi.

Awalnya FIFA menetapkan batas usia maksimal 21 tahun bagi pemain yang ingin berpindah federasi. Namun aturan itu kemudian direvisi sehingga pemain dari segala usia tetap dapat mengajukan perpindahan sepanjang memenuhi seluruh persyaratan yang berlaku.

Siapa Pemain Pertama yang Memanfaatkan Aturan Baru?

Bek Antar Yahia menjadi pemain pertama yang memanfaatkan perubahan regulasi tersebut. Ia melakoni debut bersama tim U-23 Aljazair dalam laga kualifikasi Olimpiade pada Januari 2004, hanya dua pekan sebelum menjalani debut bersama tim nasional senior.

Sebelumnya Yahia merupakan pemain Timnas Prancis kelompok usia U-20. Setiap proses perpindahan asosiasi nasional harus melalui pengajuan resmi dan memperoleh persetujuan dari FIFA.

Siapa Saja yang Mengikuti Jejak Itu?

Sejumlah nama besar kemudian memanfaatkan aturan baru tersebut. Pierre-Emerick Aubameyang dan Frederic Kanoute sama-sama pernah membela Timnas Prancis junior sebelum memutuskan memperkuat Gabon dan Mali. Keduanya bahkan berhasil meraih penghargaan Pemain Terbaik Afrika.

Kapten Senegal, Kalidou Koulibaly, juga telah mencatatkan lebih dari 100 penampilan internasional setelah memilih membela negara Afrika Barat tersebut meski sebelumnya pernah bermain untuk Timnas Prancis U-20.

Fenomena serupa juga terjadi di luar Afrika. Gelandang Declan Rice yang pernah memperkuat seluruh kelompok usia Republik Irlandia akhirnya beralih membela Inggris dan berkembang menjadi salah satu pilar utama lini tengah The Three Lions.

Dampak Besar di Piala Dunia 2026

Piala Dunia 2026 mencatat fenomena luar biasa. Sebanyak 289 pemain, atau hampir 25 persen dari seluruh peserta turnamen yang digelar di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat, membela negara yang bukan merupakan tempat kelahiran mereka.

Sebagian besar dari mereka memanfaatkan perubahan aturan kewarganegaraan olahraga yang diterapkan FIFA dan kini menikmati kesempatan tampil di panggung sepak bola terbesar di dunia.

Salah satu contoh terbaru adalah Ibrahim Mbaye. Remaja Senegal tersebut mencetak gol ke gawang Prancis pada Selasa, padahal kurang dari satu tahun sebelumnya ia masih memperkuat Timnas Prancis junior.

Perubahan regulasi FIFA yang memberi ruang bagi pemain diaspora untuk menentukan pilihan karier internasional terbukti telah mengubah wajah sepak bola dunia. 

Negara-negara dengan populasi kecil maupun sumber daya terbatas kini memiliki peluang lebih besar bersaing di level tertinggi berkat talenta yang berkembang di berbagai penjuru dunia, menjadikan persaingan di Piala Dunia semakin kompetitif dan berwarna.