TVRINews - Jakarta, Indonesia

Bagi Pantai Gading dan debutan Curacao, mencuri poin di dua laga awal menjadi harga mati yang sulit didapatkan.

Grup E Piala Dunia 2026 mempertemukan Jerman, Ekuador, Pantai Gading, dan Curacao dengan peta kekuatan yang cukup timpang. Der Panzser menjadi sorotan utama berkat taburan pemain bintang seperti Jamal Musiala, Florian Wirtz, Joshua Kimmich, Manuel Neuer, Kai Havertz, hingga Antonio Ruediger.

Ekuador memang tidak memiliki sejarah mentereng di Piala Dunia, namun poros kekuatan yang digalang Moises Caicedo, Willian Pacho, dan Piero Hincapie menjadi fondasi kokoh. Sementara itu, Pantai Gading kembali ke panggung dunia untuk pertama kalinya sejak 2014, sedangkan Curacao mencatatkan debut bersejarah di ajang bergengsi ini.

Di atas kertas, Jerman dan Ekuador menjadi dua tim yang paling difavoritkan untuk melaju ke babak gugur sebagai juara grup dan runner-up. Menarik untuk membedah komposisi tim di Grup E untuk melihat peta persaingan dan peluang mereka lolos ke fase berikutnya.

Misi Bangkit Raksasa Eropa

Jerman merupakan kekuatan tradisional yang selalu diunggulkan sepanjang periode 2002 hingga 2014 berkat kesuksesan menembus semifinal empat kali beruntun, termasuk saat mengangkat trofi juara di Brasil. Namun dalam dua edisi terakhir, langkah mereka selalu kandas secara tragis di fase grup.

Skuad asuhan Julian Nagelsmann saat ini sama sekali tidak kekurangan pemain bintang. Dominasi Bayern Munchen masih terasa kental lewat tujuh pemainnya termasuk Jamal Musiala, Manuel Neuer yang kini berusia 40 tahun, Joshua Kimmich, Jonathan Tah, serta Leon Goretzka.

Di luar pilar Bayern, lini serang dan bertahan diperkuat Florian Wirtz (Liverpool), Antonio Rudiger (Real Madrid), Kai Havertz (Arsenal), dan Leroy Sane (Galatasaray). Uniknya, skuad Jerman kali ini memiliki banyak keterikatan dengan Amerika Serikat, salah satunya lewat bek Nico Schlotterbeck yang merupakan mantan rekan setim Gio Reyna di Dortmund.

Selain itu ada Malick Thiaw yang pernah bermain bersama Christian Pulisic di Milan sebelum pindah ke Newcastle, serta Nathaniel Brown, pemain keturunan Jerman-Amerika yang akhirnya menembus skuad final berisi 26 pemain ini. Kejutan justru datang dari dicoretnya sejumlah nama besar seperti Karim Adeyemi, Marc-Andre ter Stegen, dan Niclas Fuellkrug yang terpaksa ditinggal di rumah.

Kendati demikian, kedalaman skuad Die Mannschaft dinilai tetap mengerikan untuk bersaing di papan atas. Mereka diprediksi langsung tancap gas demi meraih kemenangan meyakinkan atas tim debutan Curacao pada laga pembuka.

Hasil positif juga diincar saat bersua Pantai Gading pada laga kedua agar posisi mereka aman. Langkah ini krusial demi menghindari partai hidup-mati yang rumit melawan Ekuador di laga pemungkas grup.

Kuda Hitam Berbahaya dari Amerika Latin

Ekuador mencicipi debut Piala Dunia pada edisi 2002 dan setelah itu berhasil lolos tiga kali lagi ke putaran final. Catatan terbaik tim Amerika Latin ini tercipta pada 2006, yang menjadi satu-satunya momen keberhasilan mereka lolos dari fase grup sebelum akhirnya dijegal di babak 16 besar.

Komposisi skuad La Tri saat ini dihuni oleh talenta-talenta kelas dunia yang merumput di kompetisi tertinggi Eropa. Moises Caicedo kini telah mencatatkan lebih dari 100 penampilan bersama Chelsea setelah memecahkan rekor transfer senilai 100 juta paun atau sekitar Rp2,29 triliun dari Brighton.

Lini pertahanan Ekuador juga sangat mewah berkat kehadiran Willian Pacho yang sukses meraih gelar Liga Champions berturut-turut sebagai bek tengah PSG. Nasib berbeda dialami rekannya sesama bek, Piero Hincapie, yang baru saja menelan pil pahit setelah Arsenal kalah dari PSG di final Liga Champions pekan lalu.

Sektor bek kiri diisi oleh Pervis Estupinan yang mengemas 84 penampilan bersama Brighton sebelum bergabung dengan Christian Pulisic di AC Milan. Untuk urusan menggedor jala lawan, mereka masih mengandalkan striker gaek berusia 36 tahun, Enner Valencia, yang kini merumput bersama Pachuca di Liga MX.

Ekuador juga memiliki wonderkid berusia 19 tahun, Kendry Paez, yang sudah ditebus Chelsea saat masih berumur 16 tahun. Para pencinta MLS mungkin juga akrab dengan gelandang tengah Pedro Vite yang mengoleksi 105 penampilan bersama Vancouver Whitecaps sebelum hijrah ke Pumas UNAM.

Jika mampu mengamankan poin penuh atas Pantai Gading di laga perdana, langkah Ekuador untuk lolos ke babak berikutnya akan terbuka lebar. Mereka berpeluang besar mengunci tiket fase gugur saat bersua Curacao di laga kedua sebelum menantang Jerman di partai terakhir.

Kembalinya Sang Gajah Afrika

Pantai Gading pertama kali merasakan atmosfer Piala Dunia pada 2006, namun langkah mereka langsung terhenti di babak penyisihan grup. Skenario buruk yang sama kembali terulang pada edisi 2010 dan 2014, sebelum akhirnya absen dalam dua edisi terakhir karena gagal di kualifikasi.

Kini Les Elephants telah kembali ke panggung tertinggi dan mengusung misi besar untuk mencetak sejarah baru. Penyerang Manchester United, Amad Diallo, diharapkan mampu menjadi motor serangan utama bersama mantan penyerang side Arsenal, Nicolas Pepe, yang kini membela Villarreal.

Sektor lini tengah mereka tampak cukup solid karena dihuni oleh pemain-pemain berpengalaman yang malang melintang di Eropa. Franck Kessie yang merupakan mantan pilar AC Milan kini bermain untuk Al-Ahli, ditemani Jean Michael Seri yang pernah membela Fulham dan kini berseragam Maribor.

Satu tempat di posisi gelandang bertahan akan diisi oleh mantan pemain PSV, Ibrahim Sangare, yang saat ini memperkuat Nottingham Forest. Status bukan unggulan harus mereka terima saat memulai kampanye Piala Dunia ini dengan menantang ketangguhan Ekuador.

Pantai Gading wajib menunjukkan perlawanan sengit demi mencuri poin di laga pembuka tersebut. Ujian yang jauh lebih berat sudah menanti mereka di laga kedua saat harus berhadapan dengan raksasa Eropa, Jerman.

Dongeng Indah Sang Debutan

Curacao menorehkan tinta emas dengan berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah sepak bola mereka. Sebagian besar pemain di dalam skuadnya lahir dan tumbuh besar di Belanda, sehingga gaya bermain Eredivisie sangat kental terasa di tim ini.

Gelanggang Leandro Bacuna yang pernah mencatatkan 116 penampilan bersama Aston Villa kini menjadi motor permainan meski hanya bermain untuk Igdir di kasta kedua Liga Turki. Di sektor gelandang serang, ada Tahith Chong yang sempat tampil lima kali bagi Manchester United dan pernah menjadi rekan setim Josh Sargent di Werder Bremen sebelum kini berlabuh di Sheffield United.

Ketajaman lini depan akan bertumpu pada Jurgen Locadia yang sempat berkarier di FC Cincinnati dan kini membela Miami FC. Di klub tersebut, ia bermain bersama penjaga gawang Eloy Room yang merupakan mantan tembok terakhir Columbus Crew.

Aroma PSV Eindhoven juga sangat terasa di sektor belakang melalui kehadiran duo bek Armando Obispo dan Shurandy Sambo. Kedua pemain ini pernah bahu-membahu bersama dua penggawa Timnas AS, Sergino Dest dan Ricardo Pepi, meskipun Sambo kini telah pindah ke Sparta Rotterdam.

Kekuatan lini bertahan kian lengkap dengan adanya Riechedly Bazoer, pemain multiposisi mantan penggawa Ajax yang kini merumput bersama Konyaspor. Menariknya, Curacao juga memiliki penyerang sayap berusia 24 tahun, Sontje Hansen, yang punya memori manis menghancurkan Amerika Serikat.

Hansen adalah aktor utama yang mencetak dua gol dan satu asis saat Belanda melumat AS 4-0 di Piala Dunia U-17 2019. Skuad muda AS yang dihancurkannya kala itu dihuni oleh nama-nama yang kini menjadi bintang seperti Ricardo Pepi, Gio Reyna, dan Joe Scally.

Langkah Curacao di turnamen ini dipastikan sangat terjal karena harus langsung bersua Jerman di laga perdana. Tugas mereka tidak akan menjadi lebih mudah lantaran harus menghadapi Ekuador pada pertandingan kedua.

Kondisi ini bisa membuat posisi Curacao sudah di ujung tanduk sebelum melakoni laga pemungkas. Padahal, laga terakhir melawan Pantai Gading sejatinya adalah pertandingan yang paling realistis bagi mereka untuk mendulang poin di atas kertas.

Jadwal Lengkap Grup E

Senin, 15 Juni; Pukul: 00.00 WIB (Houston Stadium): Jerman vs Curacao

Senin, 15 Juni; Pukul: 06.00 WIB (Philadelphia Stadium): Pantai Gading vs Ekuador 

Minggu, 21 Juni; Pukul: 03.00 WIB (Toronto Stadium): Jerman vs Pantai Gading

Minggu, 21 Juni; Pukul: 07.00 WIB (Kansas City Stadium): Ekuador vs Curacao

Jumat, 26 Juni; Pukul: 03.00 WIB (New Jersey Stadium): Ekuador vs Jerman

Jumat, 26 Juni; Pukul 03.00 WIB (Philadelphia Stadium): CuraƧao vs Pantai Gading