TVRINews – Le Havre, Prancis

Kiper Timnas RD Kongo, Lionel Mpasi, berbagi cerita mengenai keberhasilan lolos ke Piala Dunia 2026.

Keberhasilan Timnas Republik Demokratik Kongo lolos ke Piala Dunia 2026 menjadi kebanggaan tersendiri bagi Lionel Mpasi. Kiper berusia 31 tahun itu masih terbayang kebahagiaan usai memastikan kemenangan 1-0 atas Jamaika di play-off kualifikasi interkonfederasi.

Sejak tidak lagi menjadi bagian dari Zaire, ini kali pertama RD Kongo berhasil lolos ke Piala Dunia. Pada tujuh edisi sebelumnya, tim berjuluk Les Leopards selalu gagal di kualifikasi zona Afrika.

Di Piala Dunia 2026, mereka akan bersaing dengan Portugal, Uzbekistan, dan Kolombia dalam perebutan tiket ke babak gugur dari Grup K. Tantangan akan semakin berat, namun bagi para penggemar RD Kongo, yang utama sekarang adalah merayakan kelolosan terlebih dahulu.

Para pemain yang pulang dari pertandingan melawan Jamaika disambut bak pahlawan. Lionel Mpasi yang berkarier di Ligue 1 bersama Le Havre bercerita kepada Radio Internasional Prancis (RFI) tentang apa yang ia rasakan saat mendapat sambutan yang luar biasa.

Apakah Anda masih merasakan kebahagiaan lolos ke Piala Dunia 2026?

Saya tidak tahu apakah saya sudah kembali ke kenyataan. Tapi, saya ingat senyuman dan perayaan setelah pertandingan selesai. Rasa lega karena berhasil melakukannya, dan itu tidak terlukiskan.

Saya rasa saya baru akan benar-benar menyadari ketika kami tiba di Piala Dunia 2026. Saat ini, terlalu banyak hal yang berputar di kepala saya untuk sepenuhnya dicerna.

Setelah perayaan di Meksiko, tim kembali ke Kinshasa (ibu kota RD Kongo) untuk melanjutkan pesta. Bagaimana rasanya?

Itu sungguh gila. Kami melihat sendiri orang-orang telah menunggu selama 52 tahun. Kami dipanggil oleh presiden, dan itu sangat berarti bagi kami. Saya pikir kami tidak akan pernah mengalami hal seperti itu lagi dalam hidup kami.

Saat ini, orang tua saya berusia sekitar 50 tahun. Ayah saya mungkin baru berusia 8 atau 10 tahun ketika Zaire bermain di Piala Dunia. Begitu banyak orang di RD Kongo yang belum pernah melihat tim nasional di Piala Dunia.

Apakah Anda merasa ada warisan Zaire di Piala Dunia 1974 di dalam tim?

Ketika kembali ke RD Kongo, kami menyadari bahwa kami telah membuat sejarah. Nama kami dan generasi kami akan terukir selamanya dalam sejarah negara ini.

Hal ini sangat berarti karena kami tahu apa yang dipertaruhkan, terutama dengan apa yang terjadi di bagian timur negara ini, yaitu perang. Ketika kembali, kami merasa telah mengembalikan senyum dan harapan orang-orang.

Sambutan tak hanya didapatkan para pemain di Kinshasa. RD Kongo juga banyak mendapat dukungan saat play-off di Meksiko. Bagaimana Anda melihat itu?

Jujur saja, kami sangat terkejut saat pertandingan play-off karena banyak warga Kongo yang hadir. Mereka datang dalam jumlah besar dari Amerika Serikat dan Kanada. Bahkan, warga Kongo dari seluruh dunia berkumpul karena mereka tahu betapa pentingnya momen ini.

Ada juga warga Meksiko yang mendukung kami. Itu luar biasa. Saat kami menonton pertandingan Kaledonia Baru melawan Jamaika, warga Meksiko meneriakkan "Kongo! Kongo!" Dukungan warga Meksiko bersama penggemar Kongo yang datang sangat luar biasa.

Anda berharap itu berlanjut di Piala Dunia 2026?

Kami berharap akan ada dukungan yang sama besarnya, atau bahkan lebih besar, di Piala Dunia nanti. Saya yakin orang-orang mau pergi memberi dukungan langsung, meski tidak akan mudah bagi mereka mendapatkan visa.

Apakah Anda merasa ini sebagai puncak karier?

Saat saya tiba di Le Havre, saya sudah mengatakan bahwa ini adalah momen terbaik dalam karier dan saya merasa berada di puncak performa. Bermain di Ligue 1 di usia 31 tahun, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Saat ini, lolos kualifikasi dan berpotensi bermain di Piala Dunia adalah puncak karier saya. Ketika saya melihat dari mana saya berasal dan apa yang telah saya lalui, itu adalah sumber kebanggaan terbesar.

Le Havre dan RD Kongo adalah tim yang terbiasa berjuang untuk mempertahankan posisi di klasemen atau lolos kualifikasi. Apakah hal itu membantu Anda berkembang?

Saya merasa cocok dengan itu karena mencerminkan perjalanan karier saya selama ini. Saya harus selalu bekerja keras dan tidak pernah menyerah. Sama halnya di klub ini.

Kami bukan yang terbaik. Kami tidak memiliki gaji tertinggi atau fasilitas terbaik. Kami berjuang setiap hari dengan apa yang dimiliki. Situasinya sama ketika saya di RD Kongo. Kami gigih dan berjuang hingga akhir.

Banyak pemain RD Kongo di Ligue 1. Kalian saling berhubungan?

Kami telah membangun sesuatu di tim nasional. Sekarang, ketika kami bertemu di Ligue 1, bukan hanya sekadar sesama pemain Kongo, tetapi seperti bertemu keluarga.

Ketika Ngal'ayel Mukau dan kapten kami, Chancel Mbemba, datang ke sini bersama Lille, kami langsung bertukar jersei.

Apa satu momen dari perjalanan karier Anda yang akan selalu diingat?

Tanpa ragu, saya akan menjawab perayaan bersama seluruh tim RD Kongo di Meksiko. Kami semua berada di lapangan. Pemain, staf pelatih, dan orang-orang dari kementerian bersama-sama membentangkan spanduk bertuliskan "lolos ke Piala Dunia". Itu adalah gambar yang akan tetap terpatri dalam ingatan saya untuk waktu yang sangat lama.