Pelatih Skotlandia, Steve Clarke Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews - Edinburgh, Skotlandia
Clarke menegaskan bahwa setiap laga adalah final, dimulai dari pertemuan krusial melawan Haiti.
Skotlandia kini siap mewujudkan mimpi besar di Piala Dunia 2026. Skuad Tartan Army sudah tidak sabar untuk tampil pada putaran final ajang bergengsi tersebut setelah terakhir kali ambil bagian pada 1998.
Guna memperkenalkan kehadiran Skotlandia di turnamen Amerika Utara sekaligus mengobarkan semangat basis penggemarnya di New York, pelatih Steve Clarke baru-baru ini mengunjungi Manhattan. Ia berpartisipasi dalam acara Tartan Week, termasuk parade ikonik menyusuri Sixth Avenue yang dipadati masyarakat setempat.
Pengalaman tersebut memberikan gambaran berharga bagi pria berusia 63 tahun itu mengenai atmosfer yang akan dihadapi timnya. Skotlandia dijadwalkan melawan Brasil, Haiti, dan Maroko di Grup C demi mengukir sejarah lolos ke babak gugur untuk pertama kalinya.
"Kami memperkirakan akan mendapat dukungan besar, terutama dari para penggemar yang ada di Amerika. Kami berada di sini untuk Tartan Week dan Anda bisa melihat sendiri betapa luar biasanya antusiasme serta sambutan yang kami terima," kata Clarke dikutip laman resmi FIFA.
"Seluruh masyarakat di Skotlandia sangat bersemangat menyambut Piala Dunia, namun datang ke sini dan merasakan energi serupa dari komunitas ekspatriat Skotlandia di New York merupakan pengalaman luar biasa. Saya yakin Tartan Army versi Amerika akan datang dalam jumlah besar musim panas nanti dan menciptakan momen yang tak terlupakan bagi semua orang," Clarke melanjutkan.
Selain faktor dukungan suporter yang militan, Clarke percaya kekuatan utama timnya terletak pada kebersamaan antarpemain yang sangat solid. Semangat juang kolektif tersebut diyakini akan menjadi pembeda saat Skotlandi beraksi di Piala Dunia 2026.
"Kami adalah kelompok pemain yang sangat terorganisasi dan memiliki disiplin tinggi dalam menjalankan instruksi. Setiap kali turun ke lapangan, mereka membawa kebanggaan besar untuk mewakili negara dan hal itu tercermin jelas dalam setiap performa yang mereka tunjukkan," ucapnya.
"Mereka tidak pernah ingin mengecewakan negara maupun rekan setimnya sendiri, sehingga kami memiliki semangat tim yang fantastis dan tidak bisa dibeli dengan uang," ia menambahkan.
Laga paling dinanti Skotlandia di fase grup adalah duel melawan raksasa sepak bola Brasil. Pertemuan ini akan menjadi rekor kelima kalinya kedua negara saling berhadapan di babak penyisihan grup Piala Dunia sepanjang sejarah ajang tersebut.
Namun, Clarke memilih untuk tetap rendah hati dan meminta anak asuhnya fokus penuh pada laga pembuka melawan Haiti. Pertandingan tersebut dilansungkan di Stadion Boston pada 13 Juni mendatang.
"Semua orang mungkin membicarakan laga kontra Brasil, tetapi bagi kami pertandingan terpenting adalah partai pertama melawan Haiti karena kami harus fokus dari satu laga ke laga berikutnya," tuturnya.
Bagi Clarke, partisipasi di Piala Dunia kali ini merupakan pencapaian emosional yang sangat membanggakan. Ia merasa beruntung bisa merasakan atmosfer turnamen terbesar di dunia ini sebagai pelatih setelah gagal mencapainya saat masih aktif merumput sebagai pemain profesional.
"Saya memiliki karier yang cukup bagus sebagai pemain tetapi tidak sempat mencicipi Piala Dunia, sehingga saya sempat berpikir kesempatan itu sudah hilang. Di usia hampir 63 tahun, saya akhirnya mendapat peluang memimpin negara saya di Piala Dunia dan ini sungguh luar biasa," ungkapnya.
Keberhasilan lolos ke Piala Dunia 2026 dianggap memiliki makna yang sangat mendalam bagi seluruh rakyat Skotlandia. Sebagai negara dengan tradisi sepak bola yang kuat, absen dalam waktu yang terlalu lama di turnamen besar sempat membuat publik merasa tidak nyaman.
"Kami sangat bangga dengan pencapaian ini setelah melalui kampanye kualifikasi yang hebat hingga berhasil memuncaki grup dan lolos secara otomatis. Sekarang, semua orang di Skotlandia sudah sangat tidak sabar untuk menantikan perhelatan akbar ini dimulai," ujarnya.