TVRINews - Jakarta, Indonesia

Menyambut H-1 Piala Dunia 2026, inilah berbagai fakta unik yang masuk dalam kategori nomor 1 atau "paling pertama" maupun "satu-satunya" sepanjang sejarah.

Hari yang dinanti-nanti oleh miliaran pasang mata di seluruh jagat raya akhirnya tiba besok. Mulai Kamis (11/6/2026) atau Jumat dini hari WIB, panggung sepak bola tertinggi akan resmi bergulir di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. 

Edisi ke-23 ini bukan sekadar turnamen biasa, melainkan sebuah megaproyek sepak bola yang bisa mencatatkan sejarah baru olahraga paling populer di planet bumi. 

Menyambut H-1 Piala Dunia 2026, inilah berbagai fakta yang masuk dalam kategori nomor 1 atau "paling pertama" maupun "satu-satunya" dalam ajang yang berlangsung selama 39 hari tersebut.

1. Pertama Kali dengan Format 48 Tim dan Fase Gugur 32 Besar

Piala Dunia 2026 mencatatkan sejarah mutlak sebagai turnamen pertama yang memperluas kepesertaannya secara masif, dari yang semula 32 tim menjadi 48 tim kontestan. 

Langkah berani FIFA ini menambah kuota secara signifikan bagi berbagai konfederasi, memberikan kesempatan lebih besar bagi negara-negara berkembang untuk merasakan ketatnya atmosfer panggung dunia. Akibat penambahan ini, total laga membengkak drastis dari 64 pertandingan menjadi 104 pertandingan yang tersebar selama 39 hari penuh.

Tidak hanya jumlah peserta yang bertambah, format kompetisi pun berubah total demi mengakomodasi puluhan negara tersebut. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, fase gugur atau sistem gugur akan dimulai dari babak 32 besar, bukan lagi langsung ke babak 16 besar seperti edisi-edisi sebelumnya. 

Sebanyak 12 juara grup, 12 runner-up, ditambah 8 tim peringkat ketiga terbaik akan saling hantam sejak awal fase gugur, menciptakan tensi tinggi dan drama yang jauh lebih menegangkan bagi para penonton.

2. Pertama Kali Digelar Tiga Negara Tuan Rumah Bersama

Sepanjang sejarahnya, turnamen ini hampir selalu diidentikkan dengan satu negara tunggal yang menjadi pusat perhatian dunia. Skenario dua tuan rumah bersama baru pernah terjadi satu kali, yaitu saat Jepang dan Korea Selatan memimpin gelaran Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang. 

Namun, edisi 2026 mendobrak batasan tersebut dengan menjadi edisi pertama dalam sejarah yang digawangi oleh tiga negara sekaligus secara korporatif: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Kolaborasi tiga negara raksasa CONCACAF ini melibatkan total 16 kota tuan rumah yang terbentang sangat luas secara geografis, mulai dari pesisir Pasifik hingga Teluk Meksiko. 

Format tiga negara ini memicu kompleksitas logistik yang belum pernah ada sebelumnya, termasuk tantangan perbedaan zona waktu yang mencolok serta perjalanan udara ribuan mil bagi tim peserta. 

Meski begitu, sinergi infrastruktur super modern dari ketiga negara ini diprediksi akan memecahkan rekor jumlah penonton terbanyak sepanjang masa.

3. Pertama Kali Tiga Tuan Rumah Sekaligus Dapat Tiket Otomatis ke Piala Dunia

Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko lolos otomatis sebagai tuan rumah. Belum pernah ada tiga negara sekaligus yang memperoleh tiket otomatis karena status tuan rumah dalam satu edisi Piala Dunia.

4. Jepang Tim Pertama Lolos ke Piala Dunia 2026

Tim pertama di luar tiga negara tuan rumah (Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko) yang berhasil lolos ke Piala Dunia 2026 adalah Jepang.

Tim berjulukan Samurai Biru ini mengamankan tiket putaran final secara matematis pada tanggal 20 Maret 2025 melalui babak kualifikasi zona Asia (AFC), menyisakan tiga pertandingan di putaran ketiga. Kelolosan ini sekaligus menandai penampilan kedelapan mereka secara berturut-turut di ajang Piala Dunia sejak debut mereka pada 1998.

Setelah Jepang, negara berikutnya yang menyusul lolos dalam waktu berdekatan pada bulan Maret 2025 adalah Selandia Baru (24 Maret 2025), disusul oleh Iran dan sang juara bertahan Argentina pada hari yang sama (25 Maret 2025).

5. Pertama Kali Juara Harus Bermain Delapan Laga

Seiring bertambahnya babak kompetisi, tim yang menjadi juara kini harus memainkan delapan pertandingan. Pada format lama, juara hanya membutuhkan tujuh laga untuk mengangkat trofi.

Hal ini membuat kedalaman skuad menjadi faktor yang semakin penting. Rotasi pemain dan manajemen kebugaran berpotensi menentukan keberhasilan sebuah tim dalam perjalanan panjang menuju final.

6. Estadio Azteca, Satu-satunya Stadion Tiga Edisi Piala Dunia

Besok malam, jutaan mata akan tertuju ke Mexico City saat laga pembuka dimainkan. Estadio Azteca akan menahbiskan dirinya sebagai satu-satunya stadion di kolong langit yang pernah menggelar pertandingan putaran final Piala Dunia dalam tiga edisi berbeda, yakni pada tahun 1970, 1986, dan kini 2026. 

Dua stadion di Meksiko lainnya yang jadi tuan rumah Piala Dunia 2026, Estadio Guadalajara dan Estadio Monterrey, baru dibangun pada 2010 dan 2015.

Estadio Azteca yang legendaris ini menyimpan memori kolektif yang tak ternilai harganya bagi sejarah dunia. Di lapangan inilah mendiang Pele mengangkat trofi Jules Rimet pada 1970, dan di sini pula Diego Maradona mencetak gol "Tangan Tuhan" serta "Gol Abad Ini" yang ikonik ke gawang Inggris pada 1986. 

Menjadi venue pembuka besok, Estadio Azteca kembali menorehkan tinta emas yang sulit disamai oleh stadion mana pun dalam waktu dekat. 

7. Brasil Satu-satunya Negara yang Tidak Pernah Absen di Piala Dunia

Di tengah segala pembaruan format, teknologi, dan jumlah tim yang serba-pertama, ada satu hal yang sifatnya absolut dan tidak berubah. Tim Nasional Brasil datang ke turnamen tahun 2026 dengan menegaskan status mereka sebagai satu-satunya negara di dunia yang tidak pernah absen satu kali pun dalam sejarah Piala Dunia.

Sejak turnamen pertama kali digagas di Uruguai pada 1930 hingga edisi ke-23 besok di Amerika Selatan, Meksiko, dan Kanada, Selecao selalu sukses mengamankan tiket putaran final.

Rekor keikutsertaan 23 kali berturut-turut ini menempatkan Brasil di puncak piramida supremasi sepak bola dunia, jauh meninggalkan rival-rival terdekatnya seperti Jerman atau Italia. 

Ditambah koleksi 5 gelar juara dunia yang mereka miliki, status "satu-satunya" tim dengan rekor kehadiran sempurna ini jadi beban sekaligus motivasi besar bagi generasi baru Brasil untuk mengakhiri puasa gelar mereka yang sudah berlangsung sejak 2002.