TVRINews - Jakarta

Rafael van der Vaart dinilai telah melontarkan pernyataan rasis saat jadi komentator laga Belanda vs Jepang.

Pernyataan Rafael van der Vaart saat menjadi komentator laga Grup F Piala Dunia 2026 antara Belanda vs Jepang pada Senin (15/6/2026) menuai banyak kecaman. Pernyataannya bertendensi rasis terhadap skuad berjuluk Samurai Blue.

Saat itu, van der Vaart mengomentari kegagalan pemain Belanda, Micky van de Ven dalam mengawal pergerakan Koki Ogawa yang berujung gol penyama kedudukan menjadi 2-2. "Mereka terlihat sama, tentu saja, mungkin ia mengira begitu," katanya.

Komentar pria yang mencatatkan 109 penampilan untuk Belanda itu kemudian banyak dibicarakan. Tak ingin masalah berlarut-larut, van der Vaart mengutarakan permintaan maaf secara terbuka.

"Tidak pernah menjadi niat saya untuk menyinggung, menyakiti, atau mendiskriminasi siapa pun. Saya menentang rasisme dalam segala bentuknya dan menghormati orang-orang dari setiap latar belakang, etnis, dan budaya," kata van der Vaart, dikutip dari BBC.

"Saya memahami bahwa sebagian orang mungkin menganggap kata-kata saya menyinggung atau menyakitkan. Saya sungguh menyesalkan hal itu. Jika komentar saya telah menyebabkan rasa sakit atau kekecewaan, saya ingin menyampaikan permintaan maaf yang tulus. Itu sama sekali bukan niat saya," ia menambahkan.

Organisasi Kick It Out dan Frank Soo Foundation menjadi pihak yang lantang mengecam van der Vaart. Mereka merasa ucapan seperti itu tidak keluar dari seorang mantan pemain yang banyak menjadi idola masyarakat.

"Sangat mengecewakan mendengar mantan pemain menyebarkan hinaan bernada rasial terhadap tim Jepang, lalu memperburuk keadaan dengan mencoba membela komentar tersebut sebagai sebuah lelucon," ujarnya.

"Bahkan jika ia mengklaim tidak memiliki niat rasis ketika mengatakannya, komentar tersebut tetap dapat berdampak pada pihak yang terlibat dan komunitas Asia Timur serta Asia Tenggara secara lebih luas, sebagaimana yang telah kita lihat pada contoh-contoh sebelumnya yang ditujukan kepada para pemain."

Kedua organisasi tersebut meminta kepada para komentator yang bertugas selama Piala Dunia 2026 untuk lebih berhati-hati dalam berucap. Jangan sampai kejadian memalukan seperti ini terulang kembali.

"Piala Dunia menarik audiens televisi global yang sangat besar, sehingga penting bagi para tamu dan komentator untuk berhati-hati menggunakan bahasa mereka. Penyiar juga harus bertanggung jawab atas orang-orang yang tampil dalam program mereka, baik melalui pendidikan tambahan atau pelatihan."