TVRINews – London, Inggris

Setelah Arsenal kalah dalam adu penalti melawan PSG di final Liga Champions, pelatih Timnas Inggris disarankan memilih sejumlah pemain yang pantas untuk menjadi algojo.

Setelah tidak pernah kalah dari fase liga hingga babak gugur, Arsenal FC akhirnya menyerah secara menyakitkan di final Liga Champions 2025-2026. Sabtu (30/05/2026) lalu, mereka takluk dari juara bertahan Paris Saint-Germain (PSG) Piala Dunia 2026 lewat adu penalti, 3-4, usai bermain imbang 1-1.

Tembakan penendang terakhir (kelima) Arsenal, Gabriel Magalhaes, melambung di atas mistar gawang PSG yang dijawa Matvey Safonov. Itu kegagalan kedua The Gunners setelah tembakan penendang kedua Eberechi Eze melebar ke kiri tian gawang.

Tim Nasional Inggris – yang juga sudah memanggil Eze – sangat mungkin menghadapi situasi adu penalti pada Piala Dunia 2026 di Amerika Utara. 

Kendati memenangi tiga dari empat adu penalti terakhir, Inggris memiliki sejarah yang rumit dalam hal tendangan 11 meter. 

Dari 10 adu penalti di turnamen utama (Piala Dunia maupun Kejuaraan Eropa), Three Lions hanya mampu memenangi tiga. Itu termasuk kemenangan adu penalti melawan Swis di perempat final Kejuaraan Eropa 2024.

Pengambil Penalti Inggris

Sejumlah pengamat dan analis sepak bola Inggris menilai, salah satu pemain yang bisa diberikan tanggung jawab dan diandalkan Inggris untuk adu penalti di Piala Dunia nanti adalah Harry Kane. 

“Pertama tentu Harry Kane. Orang mungkin akan bertanya apa yang terjadi dengannya di Doha, saat menjadi penendang kedua melawan Prancis,” ucap Rory Jennings dalam episode terkini Inside England. 

“Namun secara umum, Harry Kane sempurna untuk momen besar dan krusial. Ia mampu meringankan beban Inggris. Jadi, saya kira ia harus menjadi penendang pertama jika Inggris dihadapkan pada situasi adu penalti.” 

Kane hanya tiga kali tidak masuk menendang penalti di laga kompetitif sejak kegagalannya melawan Prancis di Piala Dunia 2022. Sementara itu, sepanjang kariernya, Kane sukses menjebol gawang lawan dari titik putih dan hanya 14 kali gagal.

Kane adalah tipe pemain yang bisa diandalkan di saat krusial dan dalam momen-momen menegangkan. Untuk penendang berikutnya, Jennings mengakui pendekatannya untuk memilih sangatlah mendasar, yakni melihat pemain besar namun tidak terlalu menyukai pemain bertahan. 

“Saya tahu orang mengakui Harry Maguire pernah menjadi penendang penalti hebat Inggris. Eric Dier juga bagus saat final Liga Champions 2012. Demikian pula David Luiz yang nyaris sempurna jika mengambil penalti,” ucap Jennings.

“Tetapi, saya ingin pemain yang benar-benar besar sebagai penendang penalti pertama. Hanya pemain besar yang bisa diandalkan untuk mengambil penalti pertama dan itu dimiliki para penyerang.

“Jadi, setelah Harry Kane, saya memilih Jude Bellingham – pemain spesialis laga besar lainnya – sebagai penendang kedua. Selanjutnya, saya yakin Declan Rice brilian mengambil penalti. Ivan Toney, satu-satunya alasan ia masuk skuad Inggris saya rasa untuk menghadapi situasi ini.” 

Untuk penendang kelima, Jennings agak bingung memilih antara Anthony Gordon dan Marcus Rashford. Jennings menyebut, jika ia di posisi pelatih Timnas Inggris Thomas Tuchel, dirinya akan lebih dulu menanyakan kesanggupan Gordon dan Rashford.

“Ingat, tendangan penalti Nicolas Anelka di Moskow (final Liga Champions 2008) tidak masuk karena ia benar-benar tidak mau menjadi algojo adu penalti itu,” tutur Jennings. 

Flex, kreator konten sepak bola dan penyiar terkemuka di Inggris, juga sependapat dengan Jennings soal Kane sebagai penendang pertama. Salah satu alasannya karena ia pencetak gol terbanyak sepanjang masa Inggris.

Saat ditanya siapa penendang kedua, ketiga, hingga kelima, Flex menyebut: “Saya ingin kapten, saya ingin jimat tim, saya ingin ia di sana. Jadi, buat saya Harry Kane penendang pertama. 

“Saya memilih Ivan Toney sebagai penendang kedua karena ia tipe pemain yang bisa membuat Inggris solid dalam menyerang, menciptakan tekanan ke tim lain,” ucap Flex. 

“Bellingham menjadi penendang ketiga. Sebagai pemain Real Madrid, ia sudah sering menghadapi momen-momen besar. Penendang keempat Reece James dan kelima Declan Rice.” Namun setelah berdiskusi, Flex akhirnya lebih memilih Bukayo Saka daripada James. “Saka yang seharusnya salah satu penendang. Saka sudah ada dalam daftar sebelumnya karena saya juga memasukkan Bellingham, Toney, dan Rice. Namun Saka memang seharusnya ada dari awal.” 

Olly Clink – produser, reporter, dan komentator radio olahraga top Inggris – juga memasukkan nama Kane dan Bellingham di antara lima penendang Inggris jika menghadapi situasi adu penalti. Sementara tiga lainnya adalah Saka, Toney, dan Anthony Gordon.

“Kane penendang pertama, Saka kedua, Toney ketiga karena saya nilai penalti ketiga itu pivot. Untuk penendang keempat saya pilih Gordon dan Bellingham kelima karena saya yakin ia tidak akan gagal dalam penalti. 

Timnas Inggris terlibat dalam empat adu penalti di Piala Dunia sejak pertama kali merasakannya pada 1990 di Italia. Namun, mereka hanya bisa sekali menang, mengalahkan Kolombia di 16 besar Piala Dunia 2018.

Rekor Adu Penalti Inggris di Piala Dunia

  • 1990: Kalah 3-4 dari Jerman (masih Jerman Barat) di semifinal
  • 1998: Kalah 3-4 dari Argentina di 16 besar
  • 2006: Kalah 1-3 dari Portugal di perempat final
  • 2018: Menang 4-3 atas Kolombia di 18 besar