FIFA menyiapkan dana 355 juta dolar AS yang dibagikan kepada klub-klub yang pemainnya tampil di Piala Dunia 2026. Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews – Vancouver, Kanada
FIFA selalu mendengarkan kritik terkait dengan penjualan tiket Piala Dunia 2026.
Strategi penjualan tiket Piala Dunia 2026 membuat FIFA menuai banyak kritik. Mereka dinilai tidak lagi memprioritaskan suporter karena mematok harga yang sangat mahal.
Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, mengatakan pihaknya mendengarkan segala kritik yang datang. Mereka akan mengevaluasi kebijakan ini agar persoalan serupa tidak terulang di Piala Dunia 2030.
"Saya akan selalu memahami para suporter dan pendapat mereka, tetapi saya pikir ada berbagai macam harga tiket. Ada yang murah, ada yang lebih mahal," kata Grafstrom, dikutip dari France24, Jumat (1/5/2026).
"Namun tentu saja, kami mendengarkan dan mempertimbangkan komentar-komentar tersebut. Seperti halnya setiap Piala Dunia, kami akan meninjau dan melihat bagaimana kami akan melakukannya untuk yang berikutnya," ia menambahkan.
Kritik paling keras kepada FIFA datang dari Kelompok Suporter Eropa (FSE). Mereka menentang kebijakan penetapan harga dinamis untuk tiket Piala Dunia 2026.
Kebijakan tersebut membuat harga tiket naik tidak terkendali. Hampir di setiap pekan ada kenaikan harga yang membuat suporter semakin sulit untuk membelinya.
FSE melakukan segala upaya untuk memaksa FIFA mengubah kebijakan, salah satunya dengan mengadukannya kepada Komisi Eropa.
Kritik juga datang dari Amerika Serikat. Sejumlah senator bersepakat untuk mengirim surat kepada Presiden Gianni Infantino agar FIFA tidak lagi menerapkan harga dinamis.
Namun, FIFA bersikeras kebijakan yang diambil sudah sesuai aturan yang berlaku di Amerika Serikat, tuan rumah Piala Dunia 2026. Mereka tak mau mengubah apa yang sudah berjalan.
Sikap FIFA tersebut dikhawatirkan akan membuat Piala Dunia 2026 meninggalkan kesan buruk. Dari yang awalnya publik antusias dengan penambahan jumlah peserta dari 32 ke 48, kini malah jadi ajang yang sulit dijangkau.
Grafstrom menepis kekhawatiran tersebut. Ia menegaskan, keuntungan sekitar Rp176 triliun dari perhelatan Piala Dunia 2026 akan dimanfaatkan untuk perkembangan sepak bola dunia ke depannya.
"Warisan yang akan kami tinggalkan juga mencakup apa yang bisa dilakukan dengan uang yang dihasilkan. Ini adalah warisan sejati melalui program FIFA Forward dan untuk benar-benar mengembangkan sepak bola anggota kami. Program ini memberi dampak nyata," tuturnya.