TVRINews - Zurich, Swis

Hasil mengejutkan bisa selalu dinanti di Piala Dunia. 

Piala Dunia, dengan tingkat persaingan tinggi untuk kejayaan yang abadi, senantiasa menghadirkan hasil-hasil mencengangkan yang di luar perkiraan awal. Tim favorit sesekali tumbang di tangan tim yang di atas kertas memiliki peluang kecil sebab kemampuan yang dianggap lebih rendah.

Daftar kejutan diawali dengan tumbangnya kubu yang mengeklaim sebagai negara asal sepak bola modern di tangan tim yang berisi pemain-pemain semiprofesional. Kejutan besar empat tahun lalu dari wakil Asia menutup bagian pertama dari dua tulisan ini. Sambil menanti bagian keduanya, silakan nikmati bagian pertama ini.


Inggris 0-1 AS (1950)

Walau mengklaim sebagai pioner sepak bola, Inggris melakoni Brasil 1950 sebagai Piala Dunia pertama  setelah menolak undangan FIFA di tiga turnamen sebelumnya. Inggris memperlihatkan kefavoritan usai menang 2-0 atas Cili di laga pertama grup. Di sisi lain, AS hanya berisi pemain semiprofesional.

Kepercayaan diri berlebih Inggris mendapat ganjalan di Belo Horizonte. Setelah meluputkan banyak peluang, Inggris dihukum gol sundulan pemain berdarah Haiti, Joe Gaetjens, sebelum turun minum. Inggris mendapat imbas buruk dari hasil di luar perkiraan ini, tersingkir setelah kalah dari Spanyol di laga berikutnya.


Italia 0-1 Korea Utara (1966)

Korea Utara melakoni turnamen perdana mereka di Inggris 1966 ini. Italia mesti memenangi partai terakhir di grup ini untuk bisa lolos. Harapan itu sirna setelah kopral angkatan darat Korut, Pak Doo-ik, mencetak gol tunggal di laga ini. Italia pun masuk kotak. 

Hasil ini menjadi pernyataan mengenai sensasionalnya Korea Utara. Mereka hampir meneruskan kejutan besar mereka di fase gugur dengan unggul tiga gol atas Portugal di perempat final. Namun, Portugal akhirnya dapat memapar kenaifan Korut hingga bisa berbalik menang 5-3.



Argentina 0-1 Kamerun (1990)

Italia 1990 baru partisipasi kedua Kamerun di putaran final Piala Dunia. Argentina masih menjadi favorit karena Diego Maradona masih menjadi kapten di sana. Namun, Argentina melempem di laga pembukaan turnamen. 

Kamerun tidak diunggulkan karena tersingkir di fase grup Piala Afrika sebagai juara bertahan turnamen. Francois Omam-Biyik memastikan kejutan dengan mencetak gol semata wayang partai di Milan ini melalui sundulan yang menaklukkan Nery Pumpido. Argentina gagal menyamakan skor walau lawan mesti bermain dengan sembilan pemain karena tekel-tekel keras. Kamerun kemudian melejit untuk menjuarai grup dan mencapai perempat final. 


Jerman Barat 1-2 Aljazair (1982)

Jerman Barat selalu menjadi favorit, termasuk di Piala Dunia 1982. Apalagi, lawan mereka di partai pembukaan grup cuma debutan dari Afrika. 

Akan tetapi, Aljazair mengejutkan jagat sepak bola ketika itu. Pahlawan kemenangan Aljazair adalah Rabah Madjer yang memang tampil apik di Eropa. Sebagai catatan tambahan, Madjer adalah pencetak gol untuk Porto ke gawang Bayern Munchen di final Piala Champion 1987. 

Selanjutnya, Aljazair kalah dari Austria, dan menang atas Cile di laga terakhir. Namun, wakil Afrika itu gagal lolos karena Jerman Barat menang 1-0 atas Austria dalam partai kontroversial yang dinilai main mata. 


Brasil 1-2 Norwegia (1998)

Brasil, sang juara bertahan, sudah memenangi dua pertandingan sebelumnya di Grup A, sementara Norwegia hanya dua kali imbang. Selecao Brasileiro diperkirakan tidak berkesulitan melewati tim Skandinavia tersebut. Faktanya tidak semudah ramalan. 

Selecao sudah tampak kerepotan sehingga baru bisa mencetak gol pembuka pada menit ke-78 melalu Bebeto. Namun, Tore Andre Flo mengagetkan dengan gol penyeimbang lima menit kemudian. Kjedil Rekdal mematri kemenangan kedua Norwegia di Piala Dunia dari titik putih (89'). Mengikuti salah satu kejutan besar di Prancis 1998 ini, tim beralias Landslaget (berarti timnas) itu juga lolos ke fase gugur.


Prancis 0-1 Senegal (2002)

Les Bleus Prancis dijagokan sebagai juara bertahan. Senegal hanyalah tim debutan di Korea-Jepang 2002 ini. Di awal tahun, Senegal bisa mengalahkan dua finalis Piala Afrika, tapi Prancis masih diisi banyak pemain bagus walau tampil tanpa Zinedine Zidane yang cedera. Selain itu, Prancis juga merupakan juara Eropa dua tahun sebelumnya.

Senegal besutan Bruno Metsu akhirnya memberikan kejutan melalui penyelesaian Papa Bouba Diop pada menit ke-30. Hasil ini mengawali mimpi buruk buat Prancis di Piala Dunia 2002. Senegal mengukir sejarah dengan melaju sampai perdelapan final. 


Italia 0-1 Kosta Rika (2014)

Kosta Rika dianggap underdog melihat tiga tim lainnya di grup yang merupakan mantan juara. Kosta Rika sudah mengagetkan sebelumnya saat menumbangkan Uruguay. Meski demikian, menghadapi Italia yang sudah tiga kali juara dunia, Los Ticos kembali tidak difavoritkan.

Akan tetapi, Kosta Rika mematahkan banyak perkiraan. Bryan Ruiz mengukir gol tunggal di laga tersebut dengan sundulan. Di sisi lain, kiprah tangguh Keylor Navas di bawah mistar yang membuat Italia frustrasi, sampai akhir duel.


Jerman 1-2 Jepang (2022)

Jepang memperlihatkan kemantapan mental di partai pembuka Grup E ini. Jerman memimpin sejak menit ke-33 lewat penalti Ilkay Gundogan sampai menit ke-75. Setelah Ritsu Doan menyamakan kedudukan, Takuma Asano memberikan kemenangan untuk Samurai Blue dengan gol menit ke-83.

Hasil ini menandai kemenangan pertama Jepang atas mantan juara atau bahkan finalis di putaran final Piala Dunia. Setelah Jerman, Jepang merontokkan lagi eks kampiun, Spanyol, di laga terakhir untuk memuncaki klasemen akhir Grup E.