TVRINews - Jakarta

Jangan biarkan Gerd Muller leluasa menguasai bola ketika berada di area pertahanan, karena itu sama saja mempersilakannya untuk mencetak gol.

David Winner dalam bukunya yang berjudul Brilliant Orange: The Neurotic Genius of Dutch Football menggambarkan Gerd Muller sebagai penyerang bertubuh pendek, gemuk, dan selalu tampak canggung.

Akan tetapi, ketika bola sudah berada dalam penguasaannya, lawan akan sulit menghentikan. Gerd Muller mampu melewati adangan musuh dengan akselerasi jarak pendek. Kerap kali pemain lawan terjatuh karena pergerakannya yang tak terduga.

Keunggulan itu disempurnakan dengan insting mencetak gol yang luar biasa. Pria kelahiran 3 November 1945 selalu berada di posisi terbaik untuk melakukan penyelesaian akhir mematikan. Karena itulah julukan Der Bomber disematkan kepadanya.

"Kecepatannya (Gerd Muller) luar biasa. Dalam latihan saya pernah bermain melawannya, dan saya tidak pernah punya kesempatan," kata Franz Beckenbauer, dikutip dari laman UEFA.

Piala Dunia 1970 yang berlangsung di Meksiko jadi panggung bergengsi pertama Muller. Dia merupakan andalan lini depan Timnas Jerman Barat asuhan Helmut Schon. Tampil dalam enam pertandingan, 10 gol disarangkan ke gawang lawan.

Muller keluar sebagai bintang lapangan saat Jerman Barat unggul 2-1 atas Maroko dalam laga perdana Grup 4 Piala Dunia 1970. Satu asis diberikannya kepada Uwe Seeler pada menit 56 yang membuat skor menjadi imbang 1-1. Berselang 24 menit kemudian, giliran dia yang mengukir namanya di papan skor.

Peran pentingnya dalam skuad Jerman Barat semakin terlihat jelas di pertandingan kedua menghadapi Bulgaria. Jerman Barat berhasil menang dengan skor 5-2, di mana Muller menyumbangkan tiga gol dan satu asis.

Muller mencetak hattrick dalam dua pertandingan beruntun Piala Dunia 1970 saat Jerman Barat mengalahkan Peru dengan skor 3-1. Rentetan hasil positif itu menempatkan mereka di posisi puncak klasemen Grup 4.

Melangkah ke perempat final, lawan yang dihadapi Jerman Barat tak lagi mudah. Kali ini Inggris yang coba menghentikan impian Franz Beckenbauer dan kawan-kawan mengulangi kesuksesan menjuarai Piala Dunia 1954.

Pertemuan ini sekaligus menjadi ajang bagi Jerman Barat untuk balas dendam. Karena pada edisi sebelumnya, Piala Dunia 1966, mereka dikalahkan oleh Inggris dengan skor 2-4 di partai puncak.

Duel ini berlangsung sengit. Inggris lebih dulu unggul dua gol lewat Alan Mullery dan Martin Peters. Jerman Barat yang dikenal sebagai tim bermental baja berhasil bangkit.

Beckenbauer memangkas ketertinggalan pada menit 68. Ketika laga menyisakan delapan menit lagi, Uwe Seeler membuat kedudukan imbang 2-2. Pertandingan dilanjutkan ke tambahan waktu.

Pada momen inilah Muller menunjukkan ketajamannya. Ketika laga memasuki menit 108, dia berhasil membobol gawang Inggris yang dikawal Peter Bonetti memanfaatkan asis Stan Libuda. Jerman Barat mengakhiri laga dengan keunggulan 3-2.

Melangkah ke semifinal, Jerman Barat menantang Italia yang sebelumnya menang telak 4-1 atas tuan rumah Meksiko. Duel wakil Eropa di semifinal ini melahirkan momen paling mengesankan dari Piala Dunia 1970.

Tujuh gol tercipta dalam pertandingan yang dilangsungkan di Stadion Azteca, Mexico City. Lima di antaranya tercipta ketika pertandingan sudah memasuki waktu tambahan. Drama menegangkan yang membuat laga ini diberi nama "Game of Century".

Dua gol disumbangkan Muller untuk Jerman Barat dalam pertandingan ini. Namun, torehan itu tak cukup untuk menyelamatkan timnya dari kekalahan dengan skor 3-4.

Laga terakhir Jerman Barat di Piala Dunia 1970 menghadapi Uruguai dalam perebutan tempat ketiga. Muller tidak mencetak gol, namun memberikan asis kepada Wolfgang Overath untuk membuat timnya menang 1-0.

Sebanyak 10 gol di Piala Dunia 1970 mengantarkan Der Bomber menjadi top scorer. Berkat penampilan yang memukau di turnamen ini membuatnya dianugerahi Ballon d'Or tahun itu.