TVRINews - Los Angeles, Amerika Serikat

Garcia kini fokus memulihkan fisik para pemainnya menjelang pertandingan penentu yang sangat krusial melawan Selandia Baru.

Pelatih tim nasional Belgia, Rudi Garcia, meratapi buruknya penyelesaian akhir anak asuhnya setelah ditahan Iran dalam laga kedua Grup G Piala Dunia 2026. Duel tersebut tuntas dengan skor tanpa gol di Los Angeles Stadium, Senin (22/6/2026) dini hari WIB.

Belgia sebenarnya sangat mendominasi penguasaan bola dan terus menggempur gawang Iran sepanjang pertandingan. Namun, berulang kali peluang didapatkan selalu digagalkan kiper Alireza Beiranvand, yang tampil gemilang dengan melakukan serangkaian penyelamatan penting.

Hingga saat ini, Belgia baru mampu mengumpulkan dua poin dari dua pertandingan di fase grup. Catatan tersebut tentu sangat mengecewakan mengingat Setan Merah datang ke Piala Dunia 2026 dengan status sebagai tim yang paling difavoritkan untuk lolos dari Grup G.

"Kami seharusya bisa menang dengan selisih tiga gol melawan Iran, tetapi performa kami di lini depan tidak cukup efisien. Kami memiliki banyak sekali peluang mencetak gol, dan ketika Anda gagal mengonversinya menjadi gol, maka Anda tidak akan bisa memenangkan pertandingan," kata Garcia usai laga dikutip dari Reuters.

Juru taktik berusia 62 tahun tersebut menjelaskan sebenarnya anak asuhnya sudah menjalankan rencana permainan dengan sangat baik di lapangan. Para pemain Belgia sukses mengantisipasi gaya main Iran yang sejak awal diperkirakan tampil bertahan sembari mengincar skema serangan balik cepat.

"Kami mendominasi jalannya laga, jadi secara taktik dan rencana permainan kami sudah bermain persis seperti yang kami inginkan. Namun, kami terlalu banyak membuang peluang dan sangat kekurangan efisiensi di depan gawang lawan," ujarnya.

Tugas berat Belgia menjadi kian lebih sulit ketika bek muda Nathan Ngoy diganjar kartu merah langsung pada pertengahan babak kedua. Ngoy terpaksa diusir keluar lapangan oleh wasit setelah kedapatan menjatuhkan Mehdi Taremi yang tengah berlari bebas dalam posisi berhadapan satu lawan satu dengan kiper.

Garcia menilai pelanggaran fatal berujung pengusiran tersebut merupakan sebuah kesalahan yang lumrah dilakukan oleh seorang pemain sepak bola berusia muda. Meski demikian, ia tetap melayangkan pujian tinggi atas respons luar biasa dari anak asuhnya yang terus tampil menekan demi memburu gol kemenangan yang tak kunjung tercipta.

"Bermain selama 30 menit dengan kekurangan satu orang pemain adalah hal yang sangat sulit dilakukan di panggung sebesar Piala Dunia," ucapnya.

Secara khusus, Garcia menunjuk penjaga gawang Iran, Alireza Beiranvand, sebagai faktor pembeda utama yang menggagalkan ambisi Belgia untuk meraup poin penuh. Ia bahkan tidak segan menyebut sosok berusia 33 tahun tersebut sebagai pemain dengan performa terbaik di sepanjang laga.

Mantan pelatih AS Roma itu mengakui start Belgia di Piala Dunia 2026 memang masih jauh dari ekspektasi publik. Kendati demikian, ia tetap yakin anak asuhnya mampu lolos ke babak 32 besar.

"Ada kalanya Anda berada dalam situasi di mana Anda wajib menang, dan dalam situasi sekarang inilah kami harus menang. Tentu saja saya sangat berharap kami bisa memulai turnamen ini dengan hasil yang lebih baik, tetapi hal seperti ini adalah bagian dari dinamika kehidupan," ungkapnya.

Pada laga pemungkas grup Belgia dijadwalkan menantang Selandia Baru. Sementara itu, di pertandingan lain, Iran akan saling sikut dengan Mesir untuk memperebutkan tiket fase gugur.

"Persaingan di grup ini sama sekali tidak bisa dikatakan lemah. Kami harus membuktikan bahwa kami mampu mengalahkan Selandia Baru dan melaju ke babak 32 besar, namun yang pertama harus kami lakukan adalah beristirahat, memulihkan fisik, dan bersiap menghadapi laga penentuan ini," tuturnya.