Pelatih Timnas Afrika Selatan, Hugo Broos. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - Jakarta
Hugo Broos memiliki karier yang panjang sebagai pelatih. Piala Dunia 2026 akan jadi akhir dari perjalanannya.
Hugo Broos memimpin tim nasional Afrika Selatan di Piala Dunia 2026. Ia kembali ke turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia setelah penantian selama 40 tahun.
Broos pertama kali merasakan atmosfer Piala Dunia pada 1986. Ketika itu ia menjadi salah satu pemain dalam skuad Belgia yang berhasil menempati peringkat keempat.
Empat tahun setelahnya, pria kelahiran Humbeek tersebut memilih untuk gantung sepatu. Namun, ia tak lepas dari sepak bola, Broos melanjutkan karier sebagai pelatih bersama R.W.D. Molenbeek.
Tiga tahun kemudian, Club Brugge merekrutnya. Di periode inilah ia menorehkan banyak prestasi dengan memenangi kompetisi Belgia sebanyak tiga kali, 1991, 1995, dan 1996.
Broos berkiprah sebagai pelatih klub Belgia selama 20 tahun dan berhasil menyabet penghargaan Pelatih Terbaik sebanyak empat kali. Ia sempat menangani Excelsior Mouscron, Anderlecht, hingga Genk.
Petualangan Broos di luar negeri dimulai pada musim 2008 bersama klub Yunani, Panserraikos. Ia hanya bertahan semusim di sana, lalu pindah ke Turki untuk gabung dengan Trabzonspor.
Karier Broos di luar negeri tidak berjalan mulus. Lima bulan menangani Trabzonspor, ia didepak oleh manajemen. Pilihan selanjutnya pulang ke Belgia untuk melatih Zulte Waregem di pertengahan musim.
Selepas meninggalkan Zulte Waregem, Broos menjadi asisten pelatih di Al Jazira Club, Uni Emirat Arab mendampingi Franky Vercauteren. Namun, lagi-lagi tidak bertahan lama karena pada 2012 dilakukan perombakan jajaran pelatih.
Dua tahun tanpa pekerjaan, tawaran dari klub Aljazair, JS Kabylie datang kepada Broos untuk memimpin tim di sisa empat bulan kompetisi. Di musim berikutnya, NA Hussein Dey yang merekrutnya untuk satu musim penuh.
Juara Piala Afrika
Kamerun merupakan tim nasional pertama yang ditangani oleh pria bernama lengkap Hugo Henri Broos ini. Ia menggantikan Volker Finke yang dipecat beberapa bulan sebelumnya.
Pemilihan Broos ini sempat memunculkan sejumlah kritik terhadap Federasi Sepak Bola Kamerun (Fecafoot). Rekam jejaknya di level klub kurang meyakinkan, sementara tim berjuluk Les Lions Indomptables sedang berjuang di kualifikasi Piala Afrika 2017.
Saat itu, Kamerun sedang memimpin klasemen Grup M berkat kemenangan di dua pertandingan awal atas Mauritania dan Gambia. Tugas pertama Broos adalah memimpin anak asuhnya menjamu Afrika Selatan, dan hasilnya kurang memuaskan karena imbang 2-2.
Tiga hari kemudian, giliran Kamerun melawat ke markas Afrika Selatan. Lagi-lagi Broos tidak berhasil meraih kemenangan perdana karena ditahan imbang tanpa gol.
Di tengah keraguan besar publik terhadap kemampuannya, Broos membawa Kamerun memenangi laga melawan Mauritania dan Gambia. Hasil tersebut mengantarkan mereka lolos ke Piala Afrika 2017.
Tergabung ke dalam Grup A, Kamerun berhasil mencatatkan satu kemenangan dan dua kali imbang. Mereka berhak melangkah ke perempat final dengan status runner-up di bawah Burkina Faso.
Kamerun berhasil membuat kejutan besar. Senegal yang saat itu menjadi salah satu kandidat juara berhasil mereka kalahkan melalui adu penalti. Kepercayaan diri tim semakin meningkat.
Lawan yang dihadapi di semifinal adalah Gana, tim yang pada Piala Afrika 2015 menjadi runner-up. Kamerun bermain penuh semangat, dan sukses mengamankan kemenangan 2-0 melalui gol Michael Ngadeu-Ngadjui dan Christian Bassogog.
Kamerun tak berhenti memberi kejutan sepanjang Piala Afrika 2017. Menghadapi Mesir di partai final, mereka menang dengan skor 2-1. Broos dan anak asuhnya bersuka cita merayakan gelar juara ini.
Dari awalnya diragukan sampai bisa mempersembahkan gelar juara, Broos menjalani tugas dengan sangat luar biasa. Ia membangun kedekatan dengan para pemain sehingga rasa saling percaya tumbuh kuat.
"Saya tidak punya 23 pemain. Saya punya 23 teman. Selama beberapa pekan terakhir, kami berubah dari sekadar tim menjadi sebuah keluarga," kata Broos usai final Piala Afrika 2017, dikutip dari BBC.
Sayangnya kisah heroik Broos di Kamerun tidak bertahan lama. Ia dipecat pada Desember 2017 karena gagal mengantarkan Les Lions Indomptables lolos ke Piala Dunia 2018.
Menumbuhkan Harapan
Pada 5 Mei 2021, Federasi Sepak Bola Afrika Selatan (SAFA) mengumumkan Hugo Broos sebagai pelatih tim berjuluk Bafana Bafana. Ia diharap mampu membentuk skuad yang solid untuk bersaing dalam kualifikasi Piala Dunia 2022.
Afrika Selatan memulai perjalanan di kualifikasi zona Afrika dari putaran kedua. Tergabung ke dalam Grup G, mereka bersaing dengan Gana, Etiopia, dan Zimbabwe.
Lima pertandingan awal mereka lalui tanpa kekalahan. Sempat ditahan imbang tanpa gol oleh Zimbabwe di laga perdana, Broos berhasil membangkitkan anak asuhnya dengan rentetan empat kemenangan.
Tersisa satu pertandingan di markas Gana yang harus dilalui Afrika Selatan. Situasinya saat itu mereka memimpin klasemen Grup G dengan keunggulan tiga angka atas Gana.
Impian Afrika Selatan untuk mentas di Piala Dunia 2022 pupus. Gol penalti Andre Ayew pada babak pertama membuat Gana mengakhiri pertandingan dengan keunggulan 1-0.
SAFA sempat mengajukan protes kepada Federasi Sepak Bola Afrika (CAF) dan FIFA terkait hasil ini. Mereka curiga ada upaya pengaturan hasil pertandingan yang terkait dengan perjudian.
"Bagaimana mungkin terjadi lonjakan taruhan tepat sebelum keputusan besar diambil dan karena itu orang-orang bertaruh? Mereka tahu kapan harus bertaruh," ujar Presiden SAFA, Danny Jordaan.
Setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh, Komite Disiplin FIFA menolak protes dari SAFA. Mereka tidak menemukan bukti kuat adanya kecurangan yang dilakukan dalam pertandingan Afrika Selatan melawan Gana.
SAFA yang melihat performa Bafana Bafana meningkat di tangan Broos tetap melanjutkan komitmen lima tahun kontrak yang ditandatangani di awal.
Tantangan selanjutnya adalah kualifikasi Piala Afrika 2023. Hasilnya Afrika Selatan lolos ke putaran final setelah menjadi runner-up Grup K di bawah Maroko.
Racikan strategi Broos memberi hasil maksimal untuk Afrika Selatan yang pada edisi sebelumnya hanya jadi penonton. Ia membawa Bafana Bafana menempati peringkat ketiga turnamen. Hasil yang membuat sang juru taktik semakin dipuja.
"Bafana Bafana telah mengembalikan harapan bangsa terhadap sepak bola dan itu semua berkat Hugo Broos. Jika kita serius tentang kemajuan, bagi saya kita harus membicarakan visi 2030. Broos harus berada di garis depan visi tersebut," ujar mantan kiper Afrika Selatan, Innocent Mayoyo, dikutip dari Soccerladuma.
Menuntaskan Penantian Panjang
2024 dan 2025 menjadi tahun paling menentukan dalam karier Hugo Broos. Ia memimpin Afrika Selatan di kualifikasi Piala Afrika 2025 dan Piala Dunia 2026. Keduanya dilalui dengan sangat baik oleh Bafana Bafana.
Empat kemenangan dan dua kali imbang mengantarkan Afrika Selatan lolos ke Piala Afrika 2025 dengan status pemuncak klasemen Grup K. Sayangnya, perjalanan mereka di putaran final terhenti di babak 16 besar usai kalah 1-2 dari Kamerun.
Penantian 16 tahun Afrika Selatan untuk kembali berlaga di Piala Dunia berakhir. Mereka merebut tiket ke turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko setelah memenangi persaingan Grup C dari Nigeria hanya dengan keunggulan satu angka.
Piala Dunia 2026 akan menjadi kisah terakhir Broos sebagai pelatih. Pria berusia 74 tahun telah memutuskan akan pensiun setelah turnamen ini selesai.
"Ini adalah sprint terakhir, tetapi saya termotivasi seperti 30 tahun yang lalu untuk melakukannya dengan baik. Saya ingin mengakhiri karier dengan momen yang indah," ujarnya.