TVRINews - Zurich, Swis

Murat Yakin untuk kedua kalinya berhasil membawa Swis lolos ke Piala Dunia.

Murat Yakin lebih cocok menjadi bintang film atau model ketimbang menjadi pelatih. Sebuah media digital Swis, Zuerich24 pada 2024 menampilkan berita tentang pelatih Timnas Swis ini dengan memuji ketampanannya.

"Jika New York Times saja mengatakan demikian, pasti benar. Pelatih tim nasional kita, Murat Yakin, bukan hanya ahli taktik ulung tetapi juga tampan," demikian komentar media yang berlokasi di Zurich, Swis tersebut.

New York Times melalui X sebelumnya memang menyampaikan; "Murat Yakin begitu sinematik sehingga dia tampak seperti orang yang akan dipanggil untuk menyelamatkan Liam Neeson (aktor film)". Pada 2021 silam, surat kabar Swis yang juga berasal dari Zurich, NZZ juga menerbitkan kolom dengan judul: "Muri (Murat Yakin) yang Seksi: Pelatih Timnas Swis selalu hadir di mana-mana."

The Athletic pada 2024 silam juga menampilkan artikel tentang siapa pelatih paling sytlish di Euro 2024, termasuk juga tentang gaya pakaiannya. Dan, Murat Yakin ada di antara kategori pelatih stylish tersebut.

Bakal dilihat di Piala Dunia 2026 nanti, apakah ketampanan Murat Yakin akan bertahan lama atau hanya sampai fase grup. Dia menjadi harapan Swis di Piala Dunia 2026 ini. Sejak Swis berhasil ke perempat final di Piala Dunia 1954, pencapaian tersebut tidak pernah lagi terjadi. Dalam tiga edisi terakhir Piala Dunia yaitu 2014, 2018, dan 2022, tim berjulukan A-Team atau Nati selalu berakhir di 16 besar.

Dalam Piala Dunia 2026 ini, Swis berada di Grup B bersama Kanada, Bosnia-Herzegovina, dan Qatar. Melihat lawan-lawan yang akan dihadapi Granit Xhaka dan kawan-kawan tersebut, peluang Swis untuk lolos dari fase grup sangat terbuka tentunya.

Ini akan menjadi Piala Dunia kedua Murat Yakin sebagai pelatih Timnas Swis setelah Piala Dunia 2022 lalu. Dalam Piala Dunia yang digelar di Qatar tersebut, Swis lolos ke fase knockout. Namun, di 16 besar, mereka justru digulung Portugal 1-6. Kekalahan telak tersebut membuat posisi Murat Yakin disorot. Namun, Asosiasi Sepak Bola Swis mempertahankan sang pelatih, hingga saat ini.

Murat Yakin berhasil membawa Swis lolos langsung ke Piala Dunia 2026 setelah meraih juara Grup B kualifikasi, dengan rapor 4 kemenangan dan 2 kali imbang dari 6 laga kualifikasi. Dalam empat laga awal, Swis tidak terkalahkan, tiga di antaranya menang, dan semuanya berakhir dengan clean sheet. Pertahanan yang kokoh, sistem permainan yang sama, serta menurunkan pemain yang tidak banyak perubahan adalah faktor yang membuat Swis berhasil ke Piala Dunia 2026.

"Dalam laga uji coba musim panas lalu, kami memutuskan untuk menggunakan pola empat bek. Lalu, setelah kami lihat berjalan dengan baik, kami tetap dengan sistem tersebut. Lagi pula, semua itu terlihat seperti kualifikasi yang cepat, jadi kami sudah harus siap sejak di momen pertama," kata Murat Yakin tentang keberhasilannya membawa Swis lolos.

Sepanjang kualifikasi, Murat Yakin menggunakan pola yang beragam namun tetap dengan pertahanan empat bek, 4-2-3-1, 4-4-1-1, hingga 4-3-3. Tidak perlu waktu lama untuk membawa Swis ke Piala Dunia 2026. Pelatih yang memiliki darah Turki ini menyatakan bahwa Swis memiliki peluang untuk meraih hasil yang lebih baik setelah keberhasilan mereka ke perempat final Piala Eropa 2024.

"Kami membuktikan potensi kami di Kejuaraan Eropa dan nyaris lolos ke semifinal. Kepercayaan diri kami tinggi dan tujuan kami adalah memainkan Piala Dunia terbaik yang pernah dimainkan oleh tim nasional Swis sebelumnya," kata Murat Yakin. Meraih minimal prempat final, akan menjadi langkah yang lebih baik bagi Swis di Piala Dunia 2026 nanti.

Mantan Bek yang Gagal ke Piala Dunia 1994

Murat Yakin, kakak dari Hakan Yakin, adalah mantan bek Timnas Swis. Dia bermain untuk A-Team sejak 1994 hingga 2004 dalam 49 laga dengan mencetak empat gol. Kariernya sebagai pemain Timnas Swis ditandai pula dengan kegagalannya masuk skuad untuk Piala Dunia 1994 silam. Ketika itu, Timnas Swiss di bawah asuhan pelatih asal Inggris Roy Hodgson memiliki bek muda dari klub Grasshopers berusia 19 tahun yaitu Murat Yakin.

Namun demikian, peluang Murat Yakin untuk tampil di Piala Dunia 1994 yang digelar di Amerika Serikat lenyap setelah dirinya dicoret dari tim oleh pelatih Roy Hodgson karena pelanggaran disiplin. Murat Yakin mengunjungi bar hotel bersama rekan satu tim setelah jam malam.

Meskipun dianggap sebagai bek yang menjanjikan, Murat Yakin dipulangkan dari kamp pelatihan sebelum turnamen di Amerika Serikat. Meski demikian, setelah turnamen tersebut, dia tetap bermain untuk Timnas Swis dan menjadi andalan tim ini.

Bawa Thun dan Basel Juara

Murat Yakin mengawali karier kepelatihannya sebagai asisten pelatih di Concordia Basel, Grasshoppers sebelum akhirnya mendapatkan posisi sebagai pelatih kepala di FC Frauenfeld. Pada 2008 hingga 2009 dia dipercaya menangani tim B Grasshoppers.

Juli 2009, Murat Yakin mendapatkan posisi pelatih pertamanya dengan FC Thun di Liga Challenge Swis, divisi kedua. Selama dua musim, ia memimpin 74 pertandingan dengan rata-rata poin per pertandingan 1,72, membimbing tim meraih gelar liga pada 2010 dan mendapatkan promosi ke Liga Super Swis.

Keberhasilan ini menandai terobosan, membangun reputasi Murat Yakin dalam membangun tim yang tangguh dan terorganisir. Sejak saat itu, kariernya sebagai pelatih pun semakin menantang dan menarik.

Murat Yakin melatih sejumlah klub termasuk FC Basel sejak 2012 hingga 2014. Di tim ini, dia berhasil membawa klub ini juara liga (Liga Super Swiss) dua musim beruntun yaitu pada 2012-2013 dan 2013-2014. Sukses membawa Basel juara liga pada 2013-2014 membuat Murat Yakin mendapatkan penghargaan sebagai Pelatih Terbaik Liga Super Swis pada 2013-2014 dan 2017-2018.

Biodata Murat Yakin

Nama: Murat Yakin
Kelahiran: Basel, 15 September 1974, Swis

Karier Melatih: Thun (2009-2011), Luzern (2011-2012), Basel (2012-2014), Spartak Moscow (2014-2015), Schaffhausen (2016-2017), Grashoppers (2017-2018), Sion (2018-2019), Schaffhausen (2019-2021), Swis (2021-kini)

Prestasi sebagai Pelatih:

Juara Swis Challenge League 2009-2010
Juara Liga Swis 2012-2013, 2013-2014