Timnas Jerman siap mengukir sejarah baru di Piala Dunia 2026. Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews – Bavaria, Jerman
Di Piala Dunia 2026, para pemain Timnas Jerman diminta tidak mengulang protes yang pernah mereka lakukan di Qatar 2022.
Direktur Olahraga Jerman Rudi Voeller meminta dengan tegas kepada seluruh anggota skuad negaranya di Piala Dunia 2026 untuk menghindari pernyataan maupun sikap yang berbau politis selama turnamen berlangsung di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko, mulai 11 Juni sampai 19 Juli mendatang.
Berbicara di kamp pra-Piala Dunia Tim Nasional Jerman di utara Bavaria, Voeller mengungkapkan bila para pemain tidak diperintah untuk bungkam. Namun, mereka didorong untuk menjaga agar olahraga dan politik “bagaimanapun tetap terpisah” selama putaran final berlangsung.
Voeller mengatakan, memang tidak akan ada pelatihan media khusus menjelang turnamen di Amerika Utara, dan ini tidak seperti menjelang Piala Dunia 2022 di Qatar.
“Jika ada yang mau melakukannya, silakan lakukan (pernyataan dan sikap terkait politik) menjelang turnamen digelar,” kata Voeller pada Rabu (27/05/2026) lalu.
“Kendati begitu, jika tidak ada juga sampai saat ini, sudah seharusnya tidak memulainya sekarang,” ucap striker Timnas Jerman (termasuk saat masih bernama Jerman Barat) pada 1982 sampai 1994 itu.
Pria berusia 66 tahun itu berharap Jerman belajar dari pengalaman empat tahun lalu di Qatar, ketika menjelang turnamen Die Mannschaft justru lebih memikirkan tentang larangan simbol-simbol politik, daripada membangun taktik.
Di Qatar, para pemain Jerman berpose dengan menutup mulut dengan tangan saat sesi foto menjelang pertandingan pertama melawan Jepang. Sikap itu menjadi bentuk protes terhadap FIFA yang mengancam akan menghukum pemain uang mengenakan ban lengan berlogo dan warna “OneLove” - kampanye antidiskriminasi, antirasisme, dan hak-hak LGBT.
Sejumlah komentator menduga tindakan para pemain itu ikut berkontribusi atas hancurnya Jerman di Piala Dunia 2022. Usai kalah 1-2 dari Jepang, Jerman ditahan Spanyol 1-1 di laga kedua. Mereka lalu menang 4-2 atas Kosta Rika namun tetap tersingkir karena kalah selisih gol dari Spanyol yang finis di peringkat kedua.
“Setiap pemain sepenuhnya menyadari situasinya. Lagipula, sejumlah besar anggota skuad saat ini juga merupakan bagian dari tim yang pergi ke Qatar,” kata Voeller, salah satu pemain pilar Timnas Jerman saat merebut Piala Dunia 1990 (masih Jerman Barat).
“Tentu saja, kita tidak akan melihat pengulangan dari apa yang terjadi sebelumnya – yaitu, (pemain dan ofisial) meluncurkan berbagai kampanye atau melakukan wawancara dan melaporkan secara kritis tentang isu-isu tertentu tepat sebelum pertandingan.”
Terakhir, Voeller menegaskan bila dirinya akan menyerahkan kepada media untuk melaporkan isu-isu politik.