TVRINews - New York, Amerika Serikat

Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, memilih tak menghadiri partai final Argentina vs Spanyol sebagai bentuk protes terhadap sejumlah keputusan FIFA yang dianggap kontroversial. 

Piala Dunia 2026 tak hanya dikenang karena aksi spektakuler di atas lapangan, tetapi juga dipenuhi berbagai kontroversi yang memicu perdebatan di dunia sepak bola. Turnamen pertama dengan format 64 tim ini menghadirkan sejumlah keputusan yang menuai kritik dari federasi, pemain, hingga pecinta sepak bola.

Tapi di balik gemerlap pertandingan, muncul isu-isu yang menyangkut integritas kompetisi, kebijakan FIFA, hingga hubungan yang semakin memanas dengan UEFA.

Bahkan, Presiden UEFA Aleksander Ceferin dikabarkan memilih tidak menghadiri partai final Argentina vs Spanyol sebagai bentuk protes terhadap sejumlah keputusan FIFA yang dianggap kontroversial. 

Keputusan tersebut disebut sebagai bentuk protes terhadap arah kebijakan FIFA di bawah kepemimpinan Gianni Infantino. Ketidakhadiran orang nomor satu UEFA di laga puncak menjadi sorotan karena jarang terjadi dalam sejarah hubungan kedua organisasi sepak bola tersebut.

Berikut lima bentuk protes keras UEFA terhadap FIFA di Piala Dunia 2026, yang jadi alasan Ceferin tidak memenuhi undangan FIFA untuk menghadiri laga final di New York New Jersey Stadium., dikutip dari BBC:

1. Kasus Folarin Balogun Memicu Kemarahan UEFA

Folarin Balogun, striker Timnas Amerika Serikat.

Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda

Hubungan FIFA dan UEFA semakin memanas setelah striker Amerika Serikat, Folarin Balogun, lolos dari ancaman hukuman menyusul adanya intervensi Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

UEFA menilai keputusan tersebut mencederai prinsip kesetaraan dalam penegakan aturan. Dalam pernyataannya, UEFA menegaskan bahwa ketika kepastian penerapan aturan tidak lagi dijamin oleh pihak yang bertugas menjaganya, maka integritas pertandingan dan kredibilitas sebuah kompetisi ikut dipertaruhkan.

Kasus ini menjadi salah satu isu yang paling banyak diperbincangkan selama turnamen berlangsung.

2. UEFA Tak Setuju Konser Haltime Show

Penyanyi legendaris Madonna (tengah) menggandeng dua legenda Brasil, Ronaldinho (kiri) dan Ronaldo, dalam pembukaan Halftime Show Final Piala Dunia 2026 di New York New Jersey Stadium.

Foto: TVRI/Grafis/Yusuf

Final Piala Dunia 2026 menghadirkan konsep baru berupa pertunjukan hiburan di jeda pertandingan yang membuat waktu istirahat membengkak hingga sekitar 27 menit. Inovasi yang diusulkan Gianni Infantino tersebut justru menuai kritik dari berbagai kalangan, termasuk UEFA. 

Banyak pihak menilai sepak bola tidak perlu meniru konsep hiburan ala olahraga Amerika karena dapat mengganggu ritme pertandingan dan mengubah tradisi Piala Dunia yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Perdebatan mengenai keseimbangan antara aspek hiburan dan kemurnian olahraga pun semakin mengemuka.

3. Penolakan Format 64 Tim

UEFA juga secara terbuka menolak usulan memperluas Piala Dunia menjadi 64 peserta, sebuah gagasan yang sempat didorong FIFA.

Federasi sepak bola Eropa menilai format tersebut akan membuat kalender kompetisi semakin padat, meningkatkan risiko kelelahan pemain, serta menurunkan kualitas pertandingan. 

Menurut UEFA, ekspansi yang terlalu besar justru berpotensi mengurangi nilai eksklusivitas turnamen paling bergengsi di dunia tersebut.

Perbedaan pandangan mengenai masa depan Piala Dunia menjadi salah satu sumber ketegangan baru antara dua organisasi sepak bola terbesar dunia itu.

4. Harga Tiket yang Melambung 

Kontroversi lain muncul dari tingginya harga tiket pertandingan yang disebut memicu keresahan di internal UEFA. Banyak pihak menilai harga yang dipatok terlalu mahal sehingga mengurangi akses bagi suporter umum untuk menyaksikan langsung pertandingan Piala Dunia.

5. Kasus Wasit Omar Artan Jadi Sorotan

Wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan.

Foto: TVRI/Grafis/Yusuf

Wasit FIFA asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, gagal bertugas di Piala Dunia 2026 setelah pemerintah Amerika Serikat menolak izin masuknya, meski ia telah mengantongi visa dan masuk dalam daftar wasit resmi FIFA. 

Keputusan tersebut memicu perhatian luas karena dianggap sebagai persoalan di luar sepak bola yang berdampak langsung pada penyelenggaraan turnamen.

Sebagai bentuk dukungan, UEFA kemudian menunjuk Artan sebagai wasit Piala Super UEFA. Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal solidaritas terhadap Artan sekaligus menjadi salah satu simbol memburuknya hubungan UEFA dan FIFA selama Piala Dunia 2026.