TVRINews - Washington DC, Amerika Serikat

Sejumlah kelompok advokasi memperingatkan, pengunjung ke Amerika Serikat selama Piala Dunia 2026 berisiko menghadapi penahanan sewenang-wenang atau deportasi.

Organisasi hak asasi manusia Human Rights Watch (HRW) mendesak FIFA untuk menekan pemerintah Amerika Serikat agar menetapkan “ICE Truce” selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026. 

Dalam laporan yang diterbitkan pada Senin (27/4/2026), HRW meminta adanya jaminan publik dari otoritas federal agar tidak melakukan operasi penegakan hukum imigrasi di sekitar pertandingan dan lokasi acara.

Piala Dunia 2026 yang untuk pertama kalinya akan diikuti 48 tim akan digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026. Turnamen ini diperkirakan menarik jutaan penggemar dari seluruh dunia.

Lembaga U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) selama ini menjadi simbol kebijakan keras terhadap imigrasi yang dijalankan pemerintahan Presiden Donald Trump. 

Sejumlah kelompok hak asasi manusia mengkritik kebijakan tersebut karena dianggap memicu pelanggaran kebebasan berbicara dan hak atas proses hukum, serta menciptakan lingkungan yang tidak aman, terutama bagi kelompok minoritas.

Namun, Trump menilai kebijakan tersebut diperlukan untuk meningkatkan keamanan domestik dan menekan imigrasi ilegal.

“FIFA perlu bertindak segera untuk mengatasi risiko pelanggaran hak asasi manusia bagi atlet, penggemar, dan pekerja,” kata pernyataan resmi HRW, dikutip dari Reuters, Selasa (28/4/2026). “Salah satu langkah konkret yang dapat dilakukan adalah bekerja untuk meyakinkan pemerintahan Trump agar menetapkan ‘ICE Truce’

HRW juga menambahkan, “Gianni Infantino dan rekan-rekannya di FIFA harus menggunakan pengaruh mereka untuk menuntut agar pemerintahan Trump melakukan hal yang benar demi kelancaran turnamen." 

"Cabut larangan perjalanan yang diskriminatif, hentikan operasi penegakan imigrasi yang abusif di sekitar lokasi Piala Dunia, lindungi hak anak-anak, dan berkomitmen menjaga kebebasan berkumpul serta berpendapat.”

Gencatan ala Olimpiade

Gagasan “ICE Truce” ini terinspirasi dari konsep “Olympic Truce,” tradisi sejak Yunani kuno ketika negara-negara kota yang berperang menghentikan konflik agar atlet dan penonton dapat bepergian dengan aman menuju ajang olahraga.

Juru bicara Gedung Putih, Davis Ingle, menyatakan kepada Reuters bahwa Piala Dunia 2026 akan menjadi salah satu acara terbesar dalam sejarah, dengan 11 kota tuan rumah di Amerika Serikat. 

“Ini akan menjadi acara monumental yang membutuhkan koordinasi erat antara pemerintahan Trump, FIFA, serta mitra federal, negara bagian, dan lokal,” ujar Ingle.

“Presiden Trump fokus memastikan ajang ini tidak hanya menjadi pengalaman luar biasa bagi semua penggemar dan pengunjung. Tapi juga yang paling aman dalam sejarah, dan tidak ada taktik menakut-nakuti yang didorong kelompok aktivis liberal dan media sayap kiri yang akan mengubah hal itu,” ia menambahkan.

Kekhawatiran makin meningkat setelah sejumlah kelompok advokasi mengeluarkan imbauan perjalanan, yang memperingatkan bahwa pengunjung ke Amerika Serikat selama Piala Dunia berisiko menghadapi penahanan sewenang-wenang atau deportasi. 

Mereka juga memperingatkan kemungkinan terjadinya profiling rasial, pemeriksaan perangkat elektronik, serta perlakuan tidak manusiawi di fasilitas detensi imigrasi.

Peringatan tersebut menyusul pernyataan Amnesti Internasional pada Maret lalu yang menyebut turnamen ini mulai menjauh dari janji sebagai acara yang “aman, bebas, dan inklusif.”

Sementara itu, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menyatakan akan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan keamanan turnamen. 

“Misi kami sederhana, memastikan tiap penggemar baik warga Amerika maupun pengunjung memiliki pengalaman yang aman dan tak terlupakan,” kata juru bicara DHS.

“Pengunjung internasional yang datang secara legal ke Amerika Serikat untuk Piala Dunia tidak perlu khawatir. Yang menjadi target penegakan hukum imigrasi adalah mereka yang berada secara ilegal titik." 

"Spekulasi sebaliknya tidak berdasar. Pada saat yang sama, pengunjung asing harus proaktif dan mulai menyiapkan dokumen perjalanan mereka jauh-jauh hari.”

HRW juga mengungkapkan telah mengirim surat kepada Infantino untuk meminta rincian mengenai nominasi, juri, dan proses seleksi penghargaan perdamaian FIFA yang pertama. 

Presiden Trump sendiri menerima penghargaan tersebut pada Desember 2025 lalu atas upayanya mendorong dialog dan deeskalasi konflik di berbagai kawasan.

“Dengan menciptakan penghargaan ini, Infantino berisiko mengubah Piala Dunia 2026 menjadi ajang ‘sportswashing’ lain di dunia yang sudah terlalu banyak memiliki praktik semacam itu,” kata HRW. Hingga saat ini, FIFA belum memberikan tanggapan resmi atas laporan tersebut.