Efrain Morales, pemain bertahan tim nasional Bolivia yang lahir dan besar di Amerika Serikat. (TVRI/Grafis/Jovi Arnanda) Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews – Monterrey, Meksiko
Efrain Morales lahir di Georgia, bermain di MLS, dan mewakili Bolivia berkat kewarganegaraan gandanya. Ia sangat ingin berada di Piala Dunia.
Bolivia selangkah lagi untuk mencetak lolos ke Piala Dunia lagi. Setelah penampilan mengejutkan di kualifikasi Amerika Selatan (Conmebol) dengan mengalahkan Brasil, tim nasional Bolivia telah mencapai babak play-off.
Kini hanya tinggal dua pertandingan lagi untuk kembali ke Piala Dunia, sesuatu yang belum mereka raih sejak edisi 1994 di Amerika Serikat (AS), yang tahun ini kembali menjadi tuan rumah turnamen sepal bola terbesar FIFA bersama Kanada dan Meksiko.
Seperti yang diperkirakan, AS lumpuh. Kecemasan ada di mana-mana, terutama di kalangan pemain sepak bola. Salah satu yang membahas situasi tersebut adalah Efrain Andres Morales Badillo.
Efrain Morales adalah pesepak bola Amerika berusia 22 tahun yang memutuskan untuk mewakili Bolivia berkat kewarganegaraan ganda yang diperolehnya melalui ayahnya.
Bek tengah kelahiran Decatur, Georgia, AS, 4 Maret 2004 itu bermain untuk CF Montreal di Liga Sepak Bola Amerika (MLS) dan merupakan pemain kunci di timnya.
Morales juga salah satu pemain andalan tim nasional Bolivia dalam kualifikasi yang membawa mereka ke babak play-off. Ia kini sudah tiba di Monterrey untuk bergabung dengan pemain dan ofisial timnas Bolivia.
“Saya sangat senang berada di sini. Impian saya adalah mencapai Piala Dunia. Tetapi, pertama-tama kami sangat fokus pada Suriname,” ucap Morales seperti dikutip dari situs web resmi FIFA.
Untuk mewujudkan mimpi Piala Dunianya, Bolivia harus mengalahkan Suriname pada semifinal play-off antarbenua FIFA pada Kamis (26/03/2026) waktu setempat di Estadio BBVA, Monterrey, Meksiko, dan berikutnya Irak yang menunggu pemenang duel ini.
Kedengarannya sederhana bagi Bolivia, tetapi sebenarnya tidak. Baik Suriname maupun Irak dipastikan bakal memberikan perlawanan sengit kepada La Verde, julukan untuk timnas Bolivia.
Bolivia tahu bahwa untuk mengamankan tempat di Piala Dunia, mereka harus mampu tampil sempurna di dua pertandingan tersebut. “Kami akan berjuang sampai mati untuk tim nasional,” tutur Morales. Memang itulah yang dirasakan semua pemain Bolivia.
Orang Amerika dengan Akar Bolivia yang Jadi Kunci Permainan La Verde
Efrain Morales muncul sebagai kandidat potensial bagi Bolivia karena kewarganegaraan ayahnya. La Verde tidak ragu-ragu, mereka memanggilnya. Sang bek pun menerima tawaran tersebut.
Morales dengan cepat memenangi hati para penggemar La Verde. Ia menunjukkan level permainan yang tinggi dan memberikan segalanya untuk membantu negaranya mencapai impian Piala Dunia. Itulah mengapa kini ia merasa seperti warga Bolivia biasa.
“Saya orang Bolivia dan memiliki akar budaya tersebut, tetapi saya lahir dan dibesarkan di AS,” ujar Morales.
“Jadi saat melawan Brasil di kualifikasi Amerika Selatan, senang bisa melihat gairah, budaya, dan kecintaan publik Bolivia pada permainan ini. Di sana sangat unik dan berbeda dari apa yang ada di AS.
“Saya tidak benar-benar mengerti betapa seriusnya hal itu sampai kami akhirnya menang. Anda bisa melihat reaksi semua orang, seluruh kota. Suasananya benar-benar luar biasa. “Padahal itu baru kualifikasi dan berkat kemenangan atas Brasil itu kami bisa ke play-off. Jadi saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya lolos ke Piala Dunia.”
Dari situ Efraim Morales telah melihat bagaimana kemenangan-kemenangan seperti ini, turnamen-turnamen seperti ini, dapat berdampak bagi negara.
“Ketika saya mengenakan seragam itu (Bolivia), saya ingin melakukannya lebih untuk mereka daripada untuk diri saya sendiri,” tuturnya.
Morales mengaku ikut merasakan semangat tim nasional Bolivia dan akan mempertahankannya pada hari Kamis nanti melawan Suriname, dan bermimpi melakukan hal yang sama pada hari Selasa (31/3/2026) pekan depan melawan Irak.