Ilustrasi skuad Inggris Foto: TVRI/Grafis/Mohamad Yusuf
TVRINews – Coyoacan, Meksiko
Seorang ahli fisiologi terkemuka menjelaskan apa yang akan dialami para pemain Inggris saat menghadapi Meksiko di Stadion Azteca pada babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Kemenangan dramatis Tim Nasional Inggris atas Republik Demokratik Kongo, 2-1, di babak 32 besar pada Selasa lalu waktu Kota Meksiko, memastikan mereka merebut tiket 16 besar Piala Dunia 2026.
Di 16 besar, Three Lions akan menghadapi salah satu tuan rumah, Meksiko, pada hari Minggu (05/07/2026) waktu setempat di venue “keramat” mereka, Mexico City Stadium alias Estadio Azteca.
Mexico City Stadium—nama yang dipakai saat turnamen besar digelar—adalah stadion terbesar di Amerika Latin dan tempat pertandingan sepak bola dunia yang ikonik.
Terletak di Coyoacan, Mexico City, stadion ini memiliki kapasitas resmi 87.523 penonton dan berada pada ketinggian 2.200 meter (7.220 kaki) di atas permukaan laut (mdpl).
Salah satu ahli fisiologi terkemuka Inggris akhirnya menjelaskan bagaimana berada di ketinggian membuat tekanan atmosfer lebih rendah, sehingga lebih sulit untuk memasukkan oksigen ke dalam tubuh.
Akibatnya, tubuh tidak dapat menyerap oksigen seefisien biasanya, sehingga jantung berdetak lebih cepat untuk mengimbangi rendahnya pasokan oksigen dalam darah.
Profesor Mike Tipton dari Extreme Environments Laboratory di Universitas Portsmouth menyatakan bahwa tekanan udara di dalam Azteca akan 23% lebih rendah dibanding tekanan udara standar di permukaan laut. Hal ini mengakibatkan jumlah molekul oksigen per tarikan napas berkurang sekitar 23%.
“Ini berarti detak jantung dan laju pernapasan meningkat sebagai upaya tubuh untuk mengompensasi kekurangan oksigen,” ucap Tipton kepada media asal Inggris, Mirror.
“Meskipun demikian, aktivitas dan performa aerobik menurun sekitar 10%, sementara waktu pemulihan dan tingkat kelelahan meningkat sekitar 15% karena tubuh lebih mengandalkan sumber energi anaerobik (tanpa oksigen) yang memiliki keterbatasan waktu jauh lebih besar. Kemampuan kognitif yang kompleks juga dapat menurun.”
Tipton menambahkan, semua kondisi ini bakal menuntut perubahan dalam strategi dan pola permainan, termasuk lebih banyak pergantian pemain serta tempo permainan yang lebih lambat.
Di dataran tinggi, jumlah maksimum oksigen yang dapat digunakan tubuh akan berkurang, sehingga aktivitas fisik yang berkelanjutan terasa jauh lebih berat.
Hal ini disebabkan oleh rendahnya tekanan oksigen di dalam paru-paru, yang memengaruhi efisiensi pertukaran oksigen—baik antara alveoli paru-paru dan darah (tempat oksigen diserap) maupun antara darah dan jaringan tubuh (tempat oksigen dilepaskan).
Seiring berjalannya waktu, tubuh dapat beradaptasi dengan kesulitan menyerap oksigen ini—sebuah keuntungan yang dimiliki oleh tim Meksiko.
Inggris akan menghadapi Meksiko di Stadion Azteca, Mexico City, pada Senin (06/07/2026) pagi WIB. Statistik El Tri di Azteca memang fantastis, memenangi 70 dari 89 pertandingan kompetitif dengan hanya menelan dua kekalahan.
Rekor kandang mereka yang luar biasa sebagian disebabkan oleh faktor ketinggian lokasi stadion. Meksiko telah mengalahkan Afrika Selatan, Korea Selatan, Republik Ceko, dan Ekuador tanpa kebobolan sama sekali dalam turnamen ini.
Aspek lain dari lokasi dataran tinggi adalah pergerakan benda di udara menjadi lebih cepat. Kecepatan lari jarak pendek (sprint) bisa meningkat karena berkurangnya hambatan udara, namun hal ini juga akan membuat pemain lebih cepat kelelahan.
“Udara yang lebih ‘tipis’ membuat bola melaju lebih jauh. Pemain yang tidak terbiasa mungkin akan melakukan operan yang terlalu kuat, namun mereka bisa melepaskan tembakan dari jarak yang lebih jauh,” kata Tipton, menjelaskan.
“Meskipun secara teori pemain bisa berlari lebih cepat, mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk memulihkan diri di antara sesi lari cepat tersebut.
“Suhu udara menurun seiring bertambahnya ketinggian, sehingga udara akan terasa lebih sejuk di lokasi dataran tinggi. Dehidrasi tetap menjadi potensi masalah di ketinggian.
“Saat bertanding di Meksiko, Inggris mengganti faktor tekanan fisiologis akibat suhu panas dengan tekanan akibat ketinggian—kedua faktor tersebut sama-sama menantang kondisi fisiologis tubuh serta menuntut penyesuaian strategi dan perilaku demi mengoptimalkan performa.”