Kekalahan 1-7 dari Jerman jadi yang terbesar dialami Brasil sejak hampir seabad silam. Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews - Rio de Janeiro, Brasil
Ambisi Brasil meraih gelar di rumahnya kembali menemui kegagalan besar. Spanyol juga membuat catatan terburuk.
Piala Dunia 2014 digelar di negara yang sahih mengeklaim sebagai negeri sepak bola. Brasil selalu lekat dengan Piala Dunia. Setidaknya dua rekor fantastis mereka genggam, yakni juara lima kali Piala Dunia dan satu-satunya tim yang belum pernah absen di putaran final turnamen akbar dunia tersebut.
Dengan reputasi sebagai penghasil bakat-bakat alamiah, Brasil senantiasa menjadi favorit. Apalagi, perhelatan Piala Dunia 2014 dihelat di depan publiknya.
Sejak pembagian grup, publik tuan rumah sudah mengharapkan perjalanan yang mulus. Undian menempatkan Brasil sebagai unggulan di Grup A.
Perihal undian, FIFA menggunakan peringkat untuk penentuan unggulan. Brasil menjadi kekecualian sebagai tuan rumah. Saat undian, Selecao berada di peringkat ke-11, lebih rendah daripada tim-tim seperti Belanda (peringkat 8), Italia (9), dan Inggris (10). Tiga wakil Eropa itu mesti menerima kenyataan berada di Pot 4.
Undian Piala Dunia 2014 ini menjadi cukup menarik. Pot 2 berisi wakil Afrika dan Amerika Selatan yang total berjumlah tujuh tim. Pot 3 untuk tim-tim dari Asia dan Amerika Utara. Pot 4 diisi para wakil Eropa, termasuk tiga tim yang peringkatnya lebih tinggi daripada Brasil.
Untuk menggenapi Pot 2, satu tim Eropa digeser ke sana dengan undian secara acak. Sebelum undian pembagian grup terkait pergeseran tersebut, sempat muncul kontroversi karena awalnya tim Eropa dengan ranking terendah, Prancis, yang masuk Pot 2. Banyak pihak yang menduga Sekretaris Jenderal FIFA, Jerome Valcke, yang menyarankannya dengan dukungan Presiden UEFA yang seperti Valcke adalah orang Prancis, Michel Platini. Italia akhirnya masuk Pot 2 melalui pengundian acak.
Saat fase grup berlangsung, turnamen menyiratkan keseruan dan produktivitas tinggi. Baru pada laga ke-13, antara Iran dan Nigeria, hadir partai yang berakhir imbang nirgol. Deret produksi gol ini yang terpanjang sejak Piala Dunia 1930.
Fase grup menghasilkan 136 gol, hanya sembilan gol lebih sedikit daripada jumlah gol sampai final di edisi sebelumnya, Piala Dunia 2010. Angka itu terbanyak sejak jumlah partisipan menjadi 32 tim pada Piala Dunia 1998. Rata-rata 2,83 gol per laga terbesar di fase grup sejak Piala Dunia 1958.
Kejutan terbesar ditelurkan Spanyol. Sang juara bertahan gagal melaju ke 16 besar. Menorehkan satu kemenangan saja dan dua kali kalah, La Rojak gagal melaju dari Grup B, kalah bersaing dengan Belanda dan Cili. Spanyol menjadi satu-satunya tim unggulan yang gagal melangkah ke fase gugur.
Yang lebih menyesakkan pendukung Spanyol, skuad besutan Vicente del Bosque itu sudah dipastikan masuk kotak di laga kedua usai kalah dari Cili dengan skor 0-2. Si Merah menjadi juara bertahan tercepat yang tersingkir sejak Italia di Piala Dunia 1950. Spanyol juga menjadi juara bertahan keempat yang mandek di fase grup setelah Italia di Brasil 1950, Brasil di Inggris 1966, dan Prancis di Korea-Jepang 2002.
Pencapaian menarik dicatatkan Afrika. Untuk pertama kalinya wakil Benua Hitam melangkah ke fase gugur. Dua tim Afrika itu adalah Nigeria (runner-up Grup F) dan Aljazair (runner-up Grup H).
Efek Cedera Neymar
Di perdelapan final, semua juara grup bisa melewati lawan-lawannya. Babak 16 besar di Piala Dunia 2014 ini menghasilkan catatan unik, yakni untuk pertama kalinya lebih dari satu adu penalti mesti menjadi penentuan.
Di perempat final, dengan kemenangan 1-0 atas Prancis, Jerman mencetak rekor Piala Dunia dengan empat semifinal beruntun. Belanda lolos ke semifinal dua kali berturut-turut usai mengungguli Kosta Rika dalam adu penalti. Tim Krul, kiper yang dimasukkan khusus buat adu tostosan, menjadi pahlawan De Oranje dengan menangkal dua eksekusi lawan.
Di delapan besar tersebut, Brasil melaju usai mengalahkan Kolombia dengan skor 2-1. Akan tetapi, bintang utama mereka, Neymar, mengalami cedera tulang belakang dan mesti absen sampai akhir turnamen.
Imbas abensi Neymar sangat terasa di semifinal. Di Estadio Mineirao, Belo Horizonte, Jerman menggebuk Selecao dengan telak, 7-1. Skor kekalahan itu menjadi yang terbesar yang dialami Brasil sejak 1920. Air mata kembali tertumpah dari pendukung Brasil di rumahnya setelah kegagalan di Piala Dunia 1950.
Miroslav Klose mengukir torehan tersendiri dari laga itu. Golnya pada menit ke-23 memastikan koleksinya di Piala Dunia menjadi 16 gol, melewati legenda Brasil, Ronaldo. Klose juga menjadi pemain pertama yang tampil di empat semifinal Piala Dunia.
Argentina lolos ke semifinal usai menepis perlawanan Belanda. Albiceleste unggul adu penalti atas De Oranje. Ron Vlaar dan Wesley Sneijder menjadi dua algojo Belanda yang gagal. Hiburan buat Belanda adalah peringkat ketiga setelah menang 3-0 atas Brasil.
Final yang merupakan ulangan Piala Dunia 1986 dan 1990 berlangsung ketat hingga mengharuskan perpanjangan waktu. Jerman akhirnya keluar sebagai kampiun melalui gol Mario Gotze pada menit ke-113 di laga puncak di Maracana, Rio de Janeiro.