Para pendukung Argentina terlihat sebelum pertandinga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona CONMEBOL melawan Venezuela di Buenos Aires, Argentina, 4 September 2025. Foto: Xinhua/Martin Zabala
TVRINews - Buenos Aires, Argentina
Pemerintah Argentina berkomitmen penuh menegakkan hukum moral selagi Lionel Messi berjuang memimpin tim meraih trofi juara berturut-turut.
Sengkarut urusan logistik dan imigrasi menjadi potret buram yang mewarnai hari-hari di pergelaran akbar Piala Dunia 2026. Berbagai persoalan izin perjalanan serta penolakan visa penonton, delegasi tim, hingga perangkat pertandingan terus bermunculan dalam beberapa pekan terakhir hingga membuat publik kewalahan mengikuti perkembangannya.
Kasus pertama menimpa tim nasional Iran yang secara mengejutkan dilarang menggelar pemusatan latihan di wilayah Amerika Serikat, padahal seluruh laga fase grupnya dijadwalkan berlangsung di sana. Akibat boikot tersebut, armada Iran terpaksa memindahkan markas persiapan darurat ke negara tetangga, Meksiko.
Nasib serupa juga menimpa salah satu wasit terbaik Benua Afrika, Omar Artan, yang ditolak masuk ke wilayah Paman Sam saat tiba di pintu imigrasi bandara. Tanpa alasan yang jelas, pengadil lapangan tersebut dipaksa membatalkan tugasnya dan langsung diterbangkan kembali ke kampung halamannya saat itu juga.
Bahkan, tepat satu hari sebelum laga perdana, skuad Uruguai terpaksa telantar di Meksiko karena dilarang melanjutkan penerbangan menuju Amerika Serikat. Di saat yang sama, ribuan suporter dari berbagai negara peserta juga harus melewati mimpi buruk akibat proses pengurusan visa yang berbelit-belit.
Di tengah kekacauan tersebut, Lionel Messi tetap mengusung misi besar untuk mengukir sejarah baru dengan membawa negaranya mempertahankan takhta juara dunia berturut-turut. Namun secara mengejutkan, Pemerintah Argentina justru bersikap pasang badan dengan aktif menjegal sekitar 13.000 suporter mereka sendiri agar tidak bisa menginjakkan kaki di dalam stadion.
Berdasarkan laporan harian olahraga Spanyol, AS, otoritas berwenang dari Argentina telah menyetorkan daftar hitam berisi belasan ribu nama ke pemerintah Amerika Serikat. Seluruh nama yang diajukan tersebut merupakan para orang tua yang terbukti menunggak atau melarikan diri dari kewajiban membayar utang tunjangan anak.
Wali Kota Buenos Aires, Jorge Macri, menegaskan individu yang tidak bertanggung jawab terhadap darah dagingnya sendiri tidak layak mendapatkan hiburan di pesta sepak bola terakbar. Langkah tegas ini diambil demi memberikan efek jera sekaligus menegakkan keadilan moral di tengah masyarakat.
Jika mereka tidak menafkahi anak-anak mereka, mereka tidak akan diizinkan masuk ke dalam stadion," kata Macri memberikan argumen logis di balik kebijakan ekstrem tersebut.
Pemerintah Argentina sendiri sejatinya telah lama mengoperasikan sebuah sistem penegakan hukum terpadu yang diberi nama program Safe Stands. Program ini dirancang khusus untuk memburu serta menghukum para pelanggar hukum yang dinilai mampu membeli tiket pertandingan mahal namun mengabaikan kewajiban nafkah keluarga.
Sejak diperluas pada 2023, sistem pelacak digital ini tercatat telah menyaring lebih dari empat juta data identitas penduduk di berbagai wilayah. Lewat operasi senyap tersebut, otoritas keamanan berhasil menerbitkan ribuan surat larangan masuk stadion hingga mendeteksi sejumlah buronan yang masuk daftar pencarian orang.
Selain menyasar para pengemplang tunjangan anak, koordinasi ketat dengan intelijen Amerika Serikat juga dilakukan untuk mencekal suporter yang memiliki rekam jejak aksi kekerasan. Menteri Keamanan Nasional Argentina, Patricia Bullrich, menyatakan bahwa negara tidak akan menoleransi perilaku destruktif yang dapat merusak citra bangsa di dunia internasional.
"Daftar tersebut mencakup lebih dari 15.000 orang yang akan dilarang masuk ke stadion. Bagi kami, ini sangat penting karena tidak boleh ada orang kejam yang telah melakukan kejahatan apa pun di stadion Argentina yang dapat menghadiri acara olahraga ini," ucap Bullrich.
Terlepas dari dinamika pelarangan suporter tersebut, perjuangan Argentina akan resmi dimulai dengan melawan Aljazair di Kansas City Stadium pada Rabu (17/6/2026). Setelah itu, skuad asuhan Lionel Scaloni dijadwalkan bersua Austria dan Yordania.