TVRINews – Willemstad, Curacao

Sepanjang sejarah gelaran Piala Dunia FIFA, banyak negara sangat kecil yang mampu lolos. Pada Piala Dunia 2026 ini, Curacao melakukannya.  

Lolos ke putaran final Piala Dunia mungkin sudah dianggap biasa bagi negara-negara besar dengan kekuatan sepak bola luar biasa seperti Brasil, Jerman, Spanyol, atau Argentina. Namun, hal itu, kelolosan ke Piala Dunia, merupakan sumber kegembiraan bagi negara-negara kecil.

Meskipun beberapa negara dengan populasi sangat besar di dunia jarang berpotensi memenuhi syarat untuk lolos seperti Tiongkok, India, dan Indonesia, negara-negara yang jauh lebih kecil justru telah menunjukkan prestasi yang melebihi ukuran (populasi negara) mereka.

TVRI mencoba menelusuri statistik dan memilih 10 negara terkecil yang pernah lolos ke Piala Dunia. Indikatornya adalah jumlah populasi negara tersebut menjelang dan saat berlangsungnya Piala Dunia, dimulai dari negara berpenduduk paling besar.

Slovenia – 1,9 juta

Sebagai bagian dari Yugoslavia lama, negara Slovenia secara tradisional lebih menyukai bola tangan dan ski hingga awal milenium baru. Sepak bola kemudian menyeruak. 

Dipimpin oleh Zlatko Zahovic – mantan gelandang serang Yugoslavia U-21 yang pernah membela klub FC Porto, Olympiacos, Valencia CF, dan SL Benfica – Slovenia lolos ke Euro 2000.

Dua tahun berselang, Slovenia secara mengejutkan mengalahkan Rumania dalam pertandingan play-off untuk lolos ke putaran final Piala Dunia 2022. Sayangnya, Slovenia kalah dalam ketiga pertandingan Piala Dunia di Korea Selatan dan Jepang itu, dengan Zahovic dipulangkan di tengah turnamen setelah pertengkaran hebat dengan sang pelatih.

Slovenia lolos lagi ke Piala Dunia pada 2010. Usai menang 1-0 atas Aljazair, Slovenia ditahan Amerika Serikat 2-2 dan kalah tipis 0-1 dari Inggris yang membuat mereka tersingkir di fase grup. 

Kini, meskipun tidak lolos ke Piala Dunia 2026, Slovenia masih berharap mengulang sukses 2002 dan 2010 dengan pemain seperti Jan Oblak dan Benjamin Sesko. 

Uruguai – 1,9 juta

Uruguai adalah tim yang paling melampaui ekspektasi dalam sepak bola dunia. Mereka berhasil memenangi dua Piala Dunia (1930, 1950) dan dua medali emas Olimpiade (1924, 1928).

Pada saat final Piala Dunia pertama tahun 1930 yang diselenggarakan dan dimenangi Uruguai, populasi negara itu kurang dari 2 juta jiwa. Bahkan pada tahun 2025, Uruguai hanya memiliki 3,4 juta penduduk. Menariknya, negara di belahan Amerika Selatan ini terus menghasilkan talenta sepak bola kelas dunia.

Uni Emirat Arab – 1,9 juta

Uni Emirat Arab (UEA) lolos ke Piala Dunia pada 1990. Artinya, mereka mencapai turnamen tersebut bertahun-tahun sebelum negara-negara raksasa Asia seperti Jepang dan Arab Saudi melakukan debut mereka. 

Dengan insentif berupa mobil Rolls-Royce untuk setiap pencetak gol, negara kecil di Teluk Persia ini melakukan perjalanan ke Italia dengan penuh harapan. Namun, UEA malah mengalami tiga kekalahan telak, masing-masing dari Kolombia, Jerman Barat, dan Yugoslavia.

UEA memiliki kesempatan untuk kembali mencapai putaran final Piala Dunia pada 2026. Sayang, UEA hanya berada di posisi kedua di bawah Qatar di Grup A putaran keempat kualifikasi zona Asia. 

UEA juga kalah agregat 2-3 dari Irak di putaran kelima untuk tiket ke play-off antarkonfederasi. Mereka berpeluang ke Piala Dunia 2026 jika Iran mundur karena konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

Kuwait – 1,5 juta

Ekspansi kuota peserta putaran final Piala Dunia menjadi 24 tim pada 1982 membuat tim-tim asal Afrika dan Asia bertambah. 

Kuwait adalah salah satu dari lima negara yang melakukan debut mereka di putaran final Piala Dunia di Spanyol, menunjukkan performa yang baik di grup yang sulit bersama Inggris, Prancis, dan Cekoslowakia. 

Namun, satu-satunya penampilan mereka di putaran final hingga saat ini terutama diingat karena Pangeran Fahad berlari ke lapangan dan meminta wasit untuk membatalkan gol Prancis. 

Mungkin, Piala Dunia akan lebih baik dan menarik jika hal-hal gila seperti itu masih diperbolehkan terjadi. 

Irlandia Utara – 1,4 juta

Meskipun secara historis dianggap sebagai “saudara tiri” sepak bola Inggris, Irlandia Utara telah menunjukkan performa yang melebihi ekspektasi di Piala Dunia. Aksi heroik Irlandia Utara pada tahun 1982 telah menjadi legenda, setelah mengalahkan tuan rumah Spanyol dan mencapai babak kedua.

Namun, penampilan mereka pada tahun 1958 bahkan lebih baik, lolos ke perempat final setelah mengalahkan Cekoslowakia dan bermain imbang dengan Jerman Barat. 

Prancis mengakhiri mimpi tim Ulster pada kedua kesempatan tersebut. Adapun penampilan terakhir Irlandia Utara adalah tersingkir di babak grup pada tahun 1986.

Setelah kekalahan tipis di babak play-off tahun 2018 melawan Swiss, harapan Irlandia Utara untuk kembali lolos ke Piala Dunia pada tahun 2026 ini masih ada jika mampu mengalahkan Italia di semifinal play-off (pada 26 Maret) dan kemudian menang atas Wales atau Bosnia dan Herzegovia di final play-off  (31 Maret).

Trinidad dan Tobago – 1,3 juta

Setelah beberapa kali nyaris berhasil, Trinidad dan Tobago akhirnya lolos ke Piala Dunia 2006 di tengah suasana gembira di seluruh Karibia.

Di pertandingan pembuka, Trinidad dan Tobago berhasil menahan tim Swedia yang saat itu diperkuat Henrik Larsson dan Zlatan Ibrahimovic dengan hasil imbang tanpa gol. 

Inggris bahkan membutuhkan dua gol di menit-menit akhir untuk menghindari hasil imbang yang memalukan di pertandingan kedua Trinidad dan Tobago, sebelum kekalahan yang penuh perjuangan melawan Paraguai mengakhiri petualangan Soca Warriors.

Paraguai – 860 ribu

Karena sensus tahun 1930 yang gagal dan perang yang pecah pada tahun 1932, publik tidak dapat memastikan jumlah penduduk Paraguai secara tepat ketika mereka melakukan debut di Piala Dunia perdana. 

Berdasarkan sensus yang dilakukan pada tahun 1924 dan 1936, yang menunjukkan peningkatan populasi dari 828.968 menjadi 992.420, tidak diragukan lagi bahwa mereka adalah salah satu finalis terkecil yang pernah ada. 

Paraguai mengalahkan Belgia dan kalah dari Amerika Serikat pada tahun 1930. Kemudian mereka lolos ke delapan Piala Dunia berikutnya, termasuk turnamen pada tahun 2026 sekarang. Kini, populasi Paraguai adalah 7,2 juta jiwa.

Tanjung Hijau – 528 ribu

Salah satu kisah paling luar biasa dari kualifikasi Piala Dunia 2026 terjadi di Grup D zona Afrika (CAF), ketika Tanjung Hijau (Cape Verde dalam bahasa Inggris atau Cabo Verde dalam bahasa Spanyol) mengalahkan Kamerun untuk memuncaki klasemen gunamengamankan tempat di turnamen pertama mereka. 

Berdasarkan luas wilayah, negara kepulauan di lepas pantai barat Afrika ini adalah negara terkecil yang pernah bermain di putaran final dan merupakan negara terkecil kedua dalam hal populasi.

Islandia – 340 ribu

Setelah terkenal mengalahkan Inggris di Euro 2016 dan mencapai perempat final, Islandia menjadi peserta Piala Dunia terkecil sepanjang sejarah saat mereka mencapainya pada 2018.

Memimpin grup kualifikasi yang berisi Kroasia, Turki, dan Ukraina bukanlah prestasi yang mudah. Artinya, skuad yang tangguh ini berangkat ke Rusia dengan penuh harapan. 

Namun begitu, hasil imbang yang mengesankan di pertandingan pembuka melawan Argentina diikuti oleh kekalahan dari Nigeria dan Kroasia memastikan Islandia tersingkir dari babak penyisihan grup. 

Curacao – 185 ribu 

Kekecewaan pelatih Jamaika, Steve McClaren, menjadi kegembiraan bagi Curacao setelah negara di Pulau Karibia itu menjadi negara dengan populasi terkecil di dunia yang mampu lolos ke Piala Dunia 2026. 

Melaju ke putaran ketiga kualifikasi zona Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF) dengan memenangi Grup C, Curacao kembali menggila dengan memuncaki Grup B di putaran ketiga usai menahan Jamaika 0-0 di laga terakhir untuk lolos langsung ke Piala Dunia 2026. 

Dengan populasi hanya 185 ribu jiwa – hampir sama dengan Kota Pagar Alam di Sumatra Selatan atau Kota Sungai Penuh di Jambi – dan dipimpin mantan pelatih Belanda, Dick Advocaat, Curacao mampu menembus putaran final Piala Dunia untuk kali pertama pada 2026 ini.