Presiden FIFA, Gianni Infantino. Foto: Xinhua/Jia Haocheng
TVRINews – Oslo, Norwegia
NFF dengan yakin menyebut perubahan hukuman Folarin Balogun karena ada tekanan dari pihak luar.
Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF) sedang mempertimbangkan untuk mengajukan pengaduan etik terkait keputusan FIFA mengganti hukuman larangan bermain penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun di Piala Dunia 2026. Mereka menilai kontrovesi tersebut tidak bisa begitu saja ditutup-tutupi.
Presiden NFF, Lise Klaveness, mendesak Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk mengakui keputusan terkait hukuman Balogun merupakan sebuah kesalahan. Belum lagi mengenai kabar adanya tekanan dari pihak luar kepada FIFA yang sudah diketahui oleh publik.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, disebut menelepon langsung Infantino dan meminta agar FIFA meninjau ulang kartu merah yang diterima Balogun saat menghadapi Bosnia dan Herzegovina di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Setelah itu FIFA mengumumkan bahwa hukuman larangan bermain Balogun ditangguhkan, dan diganti dengan masa percobaan selama satu tahun.
"Ketika Anda membengkokkan aturan seperti ini, Anda berada di jalan yang berbahaya dan dapat mengancam integritas permainan. Ini menjadi kekhawatiran bagi sepak bola ketika aturan-aturan mendasar dikompromikan," kata Klaveness, dikutip dari The Times, Jumat (24/7/2026).
"Pertama-tama, hal ini seharusnya tidak pernah terjadi. Sekarang sangat penting untuk bersikap jujur mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Kita semua tahu keputusan ini dipengaruhi oleh kekuatan dari luar dan tidak melalui proses semestinya. Kami membutuhkan pemimpin FIFA untuk mengatakan bahwa ini adalah sebuah kesalahan," ia menambahkan.
Sejak keputusan terkait hukuman Balogun diumumkan, FIFA dan Infantino mendapat banyak kritik. Meski demikian, mereka tak mau mengubah sikap dan secara tegas mengatakan proses yang dilalui sudah sesuai dengan aturan yang berlaku.
"Jika Anda mulai menyesuaikan keputusan terhadap para pemimpin negara dan kepentingan politik, maka perilaku Anda, perilaku organisasi, serta batas sejauh mana pemimpin negara boleh ikut campur akan berubah. Dan itulah yang terjadi," ujar Klaveness.
Ketua Komite Disiplin FIFA, Mohammed Al Kamali dari Uni Emirat Arab, disebut sebagai satu-satunya pihak yang mengambil keputusan tersebut. Sulit bagi Klaveness membayangkan bagaimana FIFA membiarkan pengambilan keputusan penting seperti itu hanya dilakukan oleh satu orang.
"Ketika ada suara eksternal yang sangat kuat memengaruhi Anda, sangat penting agar keputusan diambil oleh lebih dari satu orang. Jika tidak, itu adalah sebuah kesalahan," tuturnya.
Klaveness mengajak pihak lain untuk berani mendesak FIFA memberi penjelasan dan meminta maaf terkait masalah ini. Ia memastikan NFF bakal menjadi pihak yang mengadukan persoalan ini ke Komite Etik FIFA.
"Kasus ini sangat serius dan sangat mengkhawatirkan. Saya berharap kasus ini dapat mendorong lebih banyak orang untuk berani mengangkat persoalan seperti ini tanpa rasa takut. Saya akan membawanya ke rapat dewan dan mendiskusikannya bersama anggota dewan kami. Bagi saya, kasus ini layak masuk dalam ranah pengaduan etik."