TVRINews – Paris, Prancis

Sebagai salah satu tim favorit juara di Piala Dunia 2026, Prancis memiliki sederet pemain hebat yang masuk kategori terbaik

Kurang dari dua bulan lagi Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko, akan dimulai. Sebagai salah satu tim dengan performa impresif dalam beberapa tahun terakhir, Prancis memiliki bisnis yang belum selesai. 

Empat tahun lalu, skuad yang (masih) ditangani Didier Deschamps itu kalah secara menyakitkan dari Argentina di pertandingan final Piala Dunia Qatar lewat adu penalti. Les Bleus pun kehilangan kesempatan merebut trofi ketiga Piala Dunia setelah 1998 dan 2018.

Tentu tidak akan mengagetkan jika Les Bleus akan membayar kegagalan mereka itu pada tahun ini. Mereka memiliki segalanya, dari kedalaman skuad, kualitas teknis pemain dan cadangannya, hingga performa konsisten hingga kini menempati peringkat pertama dunia. 

Regenerasi Prancis juga tidak pernah habis sejak memenangi Piala Dunia 1998. Lantas, siapa saja pemain terbaik Les Bleus sepanjang masa? Berikut 10 pemain terbaik Prancis dimulai dari posisi terbawah.

N’Golo Kante

Sempat disamakan dengan gelandang bertahan Prancis lainnya, Claude Makelele, N'Golo Kante berhasil melewati kompatriotnya itu setelah bangkit dari Ligue 2, memenangi segalanya dalam permainan, dan menjadi salah satu gelandang terhebat di generasinya.

Penampilannya selama kampanye perebutan gelar di Liga Primer Inggris bersama Leicester City dan Chelsea FC sudah cukup mengesankan, sebelum menakjubkan di final Liga Champions melawan Manchester City pada 2021 melengkapi rangkaian prestasinya.

Kante selalu tak tertandingi bagi Deschamps di tim nasional. Ia terkenal karena mampu menembus kerja keras dua gelandang di panggung internasional dan membantu Prancis mencapai tiga final turnamen besar serta memenangkan Piala Dunia pada tahun 2018.

Just Fontaine

Just Fontaine mencetak 13 gol dalam satu Piala Dunia. Prancis akhirnya memang tersingkir di semifinal pada tahun 1958. Tetapi striker Reims kelahiran Maroko ini telah mengukir sejarah yang tetap dikenang hingga hari ini dan mungkin akan selamanya. 

Tidak hanya jumlah golnya pada tahun 1958 merupakan rekor untuk Piala Dunia, tetapi juga dicapai dalam enam pertandingan dan menjadikan Fontaine sebagai pencetak gol terbanyak keempat sepanjang masa di Piala Dunia bersama Lionel Messi. 

Prancis finis di posisi ketiga setelah hat-trick Pele mengakhiri upaya mereka dan Fontaine pensiun karena cedera pada usia 28 tahun. Secara keseluruhan, Fontaine mencetak 30 gol yang luar biasa dalam 21 penampilan senior untuk negaranya. 

Didier Deschamps

Jauh sebelum memimpin negaranya meraih Piala Dunia sebagai seorang pelatih, Didier Deschamps adalah seorang pemimpin yang fenomenal dan citra sempurna seorang kapten.

Ia memimpin Prancis meraih kemenangan Piala Dunia pertama mereka di rumah sendiri pada tahun 1998. Dijuluki gelandang pengangkut air, Deschamps adalah seorang pengatur permainan yang brilian dan pesaing yang tangguh. Ia juga memiliki kelas dengan bola di kakinya.

Deschamps juga luar biasa di level klub. Ia menjadi kapten termuda yang memenangi Liga Champions saat di Olympique de Marseille (1993) dan kemudian memenanginya lagi bersama Juventus FC (1996).

Marcel Desailly

Seperti Deschamps, sebagai Marcel Desailly juga memenangi Liga Champions baik bersama Marseille dan sebuah klub Serie A Liga Italia. 

Desailly adalah pesepak bola luar biasa. Seorang pemain dengan kemampuan atletik dan teknis. Ia mampu melakukan tekel keras sebagai bek tengah sama baiknya saat bermain sebagai gelandang bertahan di klub raksasa Italia, AC Milan. 

Juara Liga Champions 1994 bersama I Rossoneri yang dikenal memiliki bek-bek tengah kelas dunia, kekuatan mereka bertambah karena Desailly mampu menjadi poros kelas dunia juga. 

Kepemimpinannya ditandai dengan visi dan kepintarannya membaca permainan, operan progresif, insting menyerang yang kuat, serta kekuatan fisik mumpuni. Singkatnya, Desailly adalah bek komplit baik dari sisi teknis maupun fisik. 

Keberhasilan memenangi Piala Dunia 1998 dan Kejuaraan Eropa (Euro) 2000 menjadi bukti kehebatan Desailly.

Lilian Thuram

Lilian Thuram menjadi salah satu pemain sepak bola paling dicintai dari generasi ikonik di Prancis. Putra-putranya, Marcus dan Khephren, keduanya kini menjadi pemain internasional Prancis, sedang meniti karier di olahraga ini dan tidak mungkin ada lebih banyak penerus yang lebih baik darinya. 

Thuram adalah bek yang tidak tertandingi sepanjang kariernya yang cemerlang, elegan serta tangguh dan agresif saat tidak menguasai bola. Ia bermain sebagai bek kanan di Piala Dunia 1998 dan bek tengah timnas Prancis yang mencapai final delapan tahun kemudian.

Ia juga berjaya di level klub. Thuram adalah pemain integral dalam tim legendaris Parma di akhir tahun 1990-an sebelum pindah ke Juventus dan kemudian FC Barcelona. 

Thuram mungkin hanya memenangi dua gelar liga, tetapi reputasi dan medali internasional Thuram seharusnya sudah cukup bagi siapa pun.

Eric Cantona

Saat Euro 2004 dan Piala Dunia 2006, Eric Cantona justru mendukung Inggris, mungkin mencerminkan perjuangannya di sepak bola internasional. King Cantona dicoret dari timnas Prancis setelah tendangan kung-fu yang dilakukannya ke seorang penggemar Crystal Palace dan tidak pernah mendapatkan kembali tempatnya ketika Zinedine Zidane masuk.

Akibat ulahnya itu, posisi Cantona di jajaran ikon sepak bola Prancis telah menurun. Namun tidak bisa disangkal bila kecemerlangan dan kegeniusan mantan kapten Manchester United itu. Ia tetap menjadi ikon budaya hingga saat ini. 

Cantona adalah pemain sepak bola yang memikat dengan kekuatan, visi, dan momen-momen penting dalam pertandingan besar. Jangan lupakan betapa mengejutkannya ketika Prancis meninggalkannya di rumah untuk Kejuaraan Eropa 1996. 

Cantona mungkin tidak mendapatkan kesempatan yang adil untuk Prancis, tetapi ia tetap salah satu pemain terbaik sepanjang masa yang dihasilkan oleh negara tersebut.

Patrick Vieira

Keberhasilan Prancis memenangi Piala Dunia 1998 dengan mengalahkan Brasil di final, 3-0, mendongkrak nama dua pemain lini tengah mereka di Inggris. 

Sejumlah media besar Inggris memuji gol ketiga Les Bleus dari Emmanuel Petit dan penampilan gemilang Patrick Vieira di lini tengah. Ruang pers Arsenal FC hingga kini masih membingkai potongan berita tersebut.

Vieira di masa jayanya mungkin adalah gelandang paling komplet yang pernah ada. Ia akan memenangi setiap bola lepas (ball recovery) di tengah lapangan, dan dapat melaju ke depan dengan kecepatan dan kekuatan. 

Vieira akan melawan lawan dengan tangan kosong jika perlu, tetapi juga dapat memberikan umpan dengan standar tertinggi.

Gelandang Prancis ini tidak hanya bermain dari kotak penalti ke kotak penalti dan dari garis pinggir lapangan ke garis pinggir lapangan. Prancis dan Arsenal tampak seperti memiliki pemain tambahan dan pemain yang mereka miliki selalu menjadi lebih baik karena kehadiran Vieira di samping mereka.

Pemain lawan juga tidak bisa main-main dengan Vieira. Gelandang ini memiliki reputasi yang sangat garang, yang setara dengan rival dan rekan sejawatnya di Manchester United, Roy Keane. 

Meskipun terkadang berujung pada kartu merah, sebagian besar berarti lawan takut akan kehadirannya. 

Vieira adalah pemain sepak bola yang luar biasa bagi klub dan negara, memenangi tiga gelar bersama The Gunners dan menjadi jantung negaranya selama hampir satu dekade. Vieira akan masuk ke lini tengah mana pun dalam sejarah sepak bola Prancis dan dia akan mengendalikannya.

Michel Platini

Semasa aktif bermain, Michel Platini memiliki tiga kemampuan yang membuat seorang pesepak bola diidolakan, yakni kecepatan, elegan, dan operan akurat. Itulah mengapa ia pantas dijuluki Le Roi – Sang Raja. Hingga kini pun, Platini tetap salah satu pemain sepak bola terhebat sepanjang masa. 

Platini adalah pencetak gol yang produktif, meraih gelar capocannoniere (pencetak gol terbanyak) di Italia ketika mencetak gol di Serie A bukanlah hal yang mudah, dan mampu melewati pemain lawan seolah-olah mereka adalah kun (cone) lalu lintas.

Ada masanya Platini sangat dicintai. Ia adalah otak di Saint-Etienne sebelum memenangi Kejuaraan Eropa bersama tim Prancis pada 1984 dan memimpin Juventus meraih kejayaan Piala Eropa pada tahun 1985. Ia melengkapi setiap prestasi tersebut dengan Ballon d'Or. 

Platini adalah pemain Prancis paling berbakat yang belum pernah memenangi Piala Dunia. Berkat reputasi segudangnya itulah Platini pantas berada di posisi ketiga dalam daftar 10 pemain terbaik sepanjang masa Prancis. 

Thierry Henry

Pertandingan final Piala Dunia 1998 masih terasa menyakitkan bagi Thierry. Ia seharusnya masuk menjadi pemain pengganti sebelum Desailly dikartu merah. 

Walaupun baru berusia 20 tahun ketika turnamen tersebut diadakan di negaranya, Henry yang kala itu menjadi pemain sayap AS Monaco ini akhirnya tampil mengesankan untuk negaranya pada tahun 1998 – ia menjadi pencetak gol terbanyak untuk Les Bleus – tetapi sepak bola belum melihat apa pun saat itu.

Setelah sempat bermain di posisi sayap di Juventus, karier Henry melesat setelah ia pindah ke Inggris dan menjadi pencetak gol terbanyak dalam empat musim Liga Primer bersama Arsenal.

Ditangani pelatih Arsene Wenger, Henry membawa The Gunners meraih gelar tak terkalahkan dan mencetak rekor assist yang hingga kini belum terpecahkan. Henry kembali ke sayap kiri di Barcelona, memenangi treble, dan mencetak rekor pencetak gol terbanyak sepanjang masa untuk negaranya dengan 51 gol. 

Namun, bahkan pencapaian karier ini pun tidak sepenuhnya menggambarkan kegeniusan Henry. Ia lebih kuat dari striker mana pun namun mampu menunjukkan keanggunan yang jarang dimiliki pemain lain. Ia sangat cepat namun kreatif, dan terkadang bergerak tanpa tujuan namun selalu berada di tempat yang dibutuhkan.

Zinedine Zidane

Inilah pemain sepak bola terhebat sepanjang masa Prancis. Penampilan fenomenal Zinedine Zidane untuk Juventus dalam perjalanan menuju final Liga Champions pada tahun 1997 dan 1998 membawanya ke perhatian global. Tetapi di Stade de France 1998-lah ia benar-benar memperkenalkan dirinya di panggung besar.

Zidane mencetak dua gol di final Piala Dunia, menjadi pemain sepak bola termahal dalam sejarah, dan memimpin Prancis meraih trofi internasional kedua berturut-turut di Kejuaraan Eropa tahun 2000. 

Di level klub, pria kelahiran Marseille, Prancis, keturunan Aljazair itu menginspirasi Real Madrid untuk meraih Liga Champions 2002, berkat gol tendangan voli fantastis. 

Tidak ada yang mampu memikat imajinasi seperti Zidane. Ia bermain seolah tanpa usaha keras apalagi agresif. Ia memiliki sentuhan terlembut dan tembakan terkeras, serta mampu menggiring bola dan mengoper sebaik siapa pun dalam sejarah olahraga ini.

Ia menampilkan satu penampilan gemilang terakhir, mendominasi pertandingan sendirian di Piala Dunia 2006 dan mencetak gol penalti Panenka di awal final. Sesuai dengan legendanya, ia mengakhiri kariernya dengan gemilang. 

Di pertandingan itu, Zidane diusir karena menanduk bek Italia, Marco Materazzi, dan berjalan melewati trofi, dan tidak pernah lagi terlihat di lapangan dengan sepatu Adidas Predator.

Zidane telah memberi warna lain dalam sepak bola, tidak hanya Prancis namun juga dunia. Lewat teknik dan gaya permainannya, Zidane mampu membuktikan keindahan sepak bola tidak harus ditunjukkan dengan gaya keras ataupun bermain agresif.

Mungkin akan sangat sulit, atau bahkan tidak ada yang akan mampu menyamai atau mewarisi apa yang sudah ditunjukkan Zidane kepada dunia antara tahun 1989 sampai 2006.