Panayotis Alexander "Alexi" Lalas adalah mantan pemain sepak bola asal Amerika Serikat. TVRI/Grafis/Dede Foto: TVRI/Grafis/Dede
TVRINews - Jakarta
"Apa yang kuketahui soal soccer? Tak ada. Saya tahu soal football, Benito, football." Begitu ujaran seseorang yang diperankan aktor papan atas Hollywood saat ini, Timothee Chalamet, dalam iklan sebuah aparel menyambut Piala Dunia 2026.
Tak pernah saya duga sebelumnya bila sebuah iklan aparel yang berhasil membuat saya tersenyum menyambut Piala Dunia 2026. Bagi saya, perhelatan ini adalah yang paling mendebarkan, dalam arti yang rada kacau.
Dalam beberapa bulan terakhir, persiapan Piala Dunia 2026 diwarnai beberapa peristiwa yang bikin resah dan gelisah. Mulai dari kemungkinan keterlibatan Dinas Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) bentukan pemerintah AS yang berpotensi menampilkan kekerasan terhadap pengunjung sampai imbas perang antara AS-Israel dan Iran, yang repotnya merupakan peserta Piala Dunia 2026.
Hanya, saya takkan membahas kisah-kisah "mendebarkan" itu. Tulisan ini akan membahas yang saya rasa lebih santai: persoalan sepak bola di Amerika Serikat yang sedikit tersentil dalam iklan tersebut di atas. Maka, bahasan tentu bukan tentang bintang-bintang yang ada di iklan Adidas itu, termasuk yang lawas-lawas dan dibikin muda puluhan tahun kayak Zinedine Zidane, Alessandro Del Piero, dan David Beckham.
Buat saya, seperti disentil Chalamet, selalu merasa problematis antara dua istilah ini: "football" dan "soccer". Buat saya, sepak bola yang akan dirayakan sedunia setiap empat tahun sekali adalah "football". Namun, berkat penelusuran untuk tugas menyusun tulisan ini, ternyata istilah "soccer" tidak melenceng jauh. Menurut Britannica, asal-usul "soccer" adalah dari slang penyingkatan untuk "Association Football". Istilah "soccer" itu dimunculkan mahasiswa Inggris pada abad ke-18 guna membedakan dari "Rugby Football".
Pada akhirnya, walau asalnya dari Inggris juga, "soccer" yang dipilih untuk mengistilahkan sepak bola. Lagipula, Amerika memiliki football-nya sendiri.
Namun, akar perbedaan itu sepertinya karena Amrik memiliki kecenderungan untuk nyeleneh, tampil beda dari yang berlaku di belahan dunia lain.
Selain itu, Amerika Serikat merupakan pula bangsa yang membanggakan produk kultural, jika bisa disebut begitu, yang mereka hasilkan. Budaya yang menjadi populer di seluruh dunia bak harus datang dari Negeri Paman Sam. Popularitas itu didorong mesin-mesin produksi budaya pop andalan mereka dengan segala keahlian menelurkan "propaganda", dari yang terang-terangan sampai yang terselubung. Hollywood, sebagai contoh, menghasilkan film-film yang seperti memonopoli perhatian dunia, seakan-akan hanya dari sana film layar lebar yang bermutu. Academy Awards, Oscar, melabeli "film asing" untuk film produksi dari luar AS.
Begitu pula dengan musik. Saat sebelum dihajar arus deras informasi melalui internet, musik Amrik merajalela dengan MTV sebagai motornya. Tentu pada kadar tertentu pendapat itu bisa dimentahkan. Inggris dengan British Invasion sejak The Beatles dan Rolling Stones dapat mengguncang dunia termasuk AS. Belakangan ini, K-pop bisa merebut perhatian berskala global.
Bisnis Pertunjukan
Hasrat tampil beda diikuti kebanggaan diri pada kultur nasional terlihat pada olahraga hingga memunculkan hegemoni dalam arti yang sangat subjektif. Bisbol, hoki es, dan bola basket menjadi olahraga populer di sana. AS mengembangkan sepak bolanya sendiri, yakni american football.
Gridiron, istilah lain dari sepak bola amerika itu, lebih mirip rugbi dengan perlengkapan pengaman di badan atas dan kepala (helm). Bola yang dipakai bukan berbentuk bulat, melainkan oval yang lebih mirip telur atau buah lemon. Yang mungkin bikin heran penggemar football asli, yang di AS menjadi "soccer", kebanyakan aksi football america menggunakan tangan. Kaki praktis dipakai untuk berlari, sementara tangan membawa "lemon" sampai ke ujung lapangan untuk touchdown. Bola lonjong itu hanya sesekali disepak, yakni untuk field goal bernilai 3 poin, untuk extra point bernilai 1 poin, saat kick-off untuk memulai paruh permainan atau setelah mencetak skor, di tengah permainan untuk menjauhkan bola dari wilayah sendiri sebelum berganti penguasaan bola.
Di sisi lain, basket menghasilkan catatan tersendiri yang agak berlawanan dengan kebanggaan kaukasian atau orang kulit putih di sana. Olahraga ini segera direbut masyarakat Afrika-Amerika dengan keunggulan fisiknya begitu pintu terbuka setelah diskriminasi rasial menyurut. Perhatian khusus lainnya pada basket, mengingat olahraga ini juga dimainkan di banyak negara, adalah bintang yang mendunia, terutama Michael Jordan. Penikmat sepak bola yang enggak bisa main basket seperti saya bahkan menilai "His Airness" MJ23 adalah olahragawan terbesar perihal level kompetitifnya.
Yang lebih menggemaskan, semua cabang-cabang populer di negeri sendiri itu dilabeli Kejuaraan Dunia. Peraih trofinya adalah juara dunia. Yang terpenting bagi Amrik, semuanya adalah pertunjukan. Ya, di sana, olahraga sering sekadar bisnis pertunjukan.
Statis, Kolektivis
Maka, saat Negeri Paman Sam menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 dengan jumlah pertandingan terbanyak, dengan porsi yang tidak seimbang dengan Meksiko dan Kanada, penggila sepak bola bisa berharap pertunjukan menggemparkan. Hanya, peristiwa-peristiwa yang bikin resah seperti disebutkan di atas memperlihatkan bahwa AS belum memahami makna sepak bola secara global.
Sally Jenkins, kolomnis Washington Post, menyorot kekurangpopuleran sepak bola di AS. Pendukung tidak murka saat The Yanks tersingkir dari Piala Dunia, atau bahkan tidak lolos kualifikasi seperti terakhir ke Piala Dunia 2018.
"Mengapa orang Amerika berharap menang di semua cabang olahraga yang diikuti kecuali sepak bola? Bagaimana bisa sebuah negara, yang begitu terobsesi dengan permainan, tampak secara abnormal kurang berambisi ketika melakukan olahraga paling populer di muka bumi?", begitu tulis Jenkins.
Di tempat lain, National Soccer Hall of Fame, yang berada di Oneonta, New York, mengakhiri operasionalnya. Wall Street Journal melaporkan bahwa pengunjung tempat itu tidak pernah lebih dari 17 ribu orang per tahunnya. Artinya, kalau setahun ada 365 hari, rata-rata pengunjungnya cuma sekitar 46 orang per hari. Sepi.
Kolomnis lainnya yang juga rekanan di American Enterprise Institute (AEI), Marc A. Thiessen, merasa mendapatkan jawaban soal sepak bola yang tidak berdaya tarik di AS dari eks pegawai White House. Thiessen melihat sepak bola adalah satu-satunya olahraga di dunia yang tidak dapat menggunakan organ yang membedakan manusia dari binatang: ibu jari yang bisa digerakkan (opposable thumbs). Alasan ketidakpopuleran sepak bola di AS pun menguat dari anggapan yang terpelihara konon sejak era setelah Perang Dunia II: sepak bola adalah olahraga kaum sosialis.
Bagi Thiessen, olahraga dengan aturan tidak memakai tangan hanya bisa dilakukan orang Eropa yang statis , sosialis, dan kolektivis. Sepak bola juga adalah satu-satunya olahraga yang menghadirkan "hooligan", yang dianggap sebagai rakyat jelata proletar yang menghancurkan properti pribadi saat timnya kalah.
Sepak bola juga dianggap kolektivis. Timnas Prancis bisa melakukan pemogokan sebelum laga. Pemogokan adalah sesuatu yang sulit dibayangkan dalam olahraga kapitalis walau mengalami perselisihan dengan buruh.
Tergantung Pemisahan Etnis
Pendangan bahwa sepak bola adalah olahraga sosialis masih terdengar sampai sekarang walau tidak sesanter dulu. Komersialisasi memperkuat aroma kapitalisme betapapun olahraga pemainan ini menuntut kerja sama dan kolektivitas ala kaum sosialis.
Perubahan ini menjadi tak terelakkan kendati tidak terjadi dalam waktu singkat. Richard Giulianotti, dosen University of Aberdeen yang kerap menulis kajian mengenai sepak bola, dalam buku Football: A Sociology of the Global Game (1999), melihat AS sebagai salah satu negara yang warisan olahraga kolonial lamanya berubah total dan menciptakan tradisi olahraga nasional baru, termasuk variasi lanjutan sepak bola yang katanya bersifat sosialis atau bahkan komunis itu.
Di AS, sepak bola tidak pernah masuk daftar olahraga hiburan masyarakatnya, seperti american football (gridiron), bisbol, dan bola basket. Sepak bola terutama dimainkan oleh imigran Eropa di timur AS sejak 1900-an. Sepak bola profesional menikmati ledakan singkat di pantai timur pada 1920-an dan timnas mencatat beberapa hasil mengesankan, termasuk peringkat ketiga Piala Dunia 1930 (ya, Anda tidak salah baca: peringkat ketiga). Namun, saat itu pun sepak bola tetap diasosiasikan dengan kelompok etnis yang enggan berasimilasi atau "beramerikanisasi".
Setelah Perang Dunia II, pada akhir 1960-an dan 1970-an, pimpinan sepak bola AS mengadopsi strategi modern dalam pemasaran permainan. Tim diorganisasikan ke dalam North American Soccer League (NASL), permainan digelar di stadion raksasa berteknologi mutakhir, bintang tua luar negeri seperti Pele dan Franz Beckenbauer direkrut buat bermain. Meski sempat sukses sesaat menarik pemirsa etnis tertentu, pilihan berani itu terperosok dalam bahasan pembangunan nasional: kebergantungan pada pemain asing secara efektif mengalienasi orang Amerika. Di awal 1990-an, sejumlah pemain asing di tim sepak bola kampus merefleksikan lemahnya peran akar rumput.
Kesuksesan menjadi tuan rumah Piala Dunia 1994 melambangkan titik tolak nasib sepak bola di AS dan rasa identitas nasional. MLS diluncurkan segera setelah Piala Dunia 1994 dengan falsafah "pengetatan (downsizing)" ala bisnis posmo yang sederhana dengan hanya 12 tim waralaba, gaji pemain asing dan tim keseluruhan dibatasi, aturan bermain di stadion yang lebih akrab dengan pendukung, dan strategi jangka panjang yang mengizinkan kerugian tahun pertama 19 juta dolar AS. Tujuan jangka panjang MLS adalah membuka pasar raksasa pemain AS.
Kebanyakan peminat sepak bola adalah anak-anak kulit putih kelas menengah pinggiran kota, di daerah kantong budaya pengaman dari permainan keras dan dominasi Afro-Amerika. Demikianlah demi tempat kecil tapi menguntungkan dalam olahraga AS, MLS berusaha membuka pasar ini dan menarik minat orang AS keturunan Eropa, Amerika Tengah, dan Timur Jauh. Dus, alih-alih menjadi mekanisme modern untuk menyatukan negara melalui olahraga, keberlangsungan sepak bola bergantung pada eksploitasi pemisahan etnis dan kelas.
Bahan Perang Budaya
Pandangan yang mirip ditawarkan wartawan dan penulis sepak bola, Franklin Foer, di awal abad ke-21 setelah melakukan penjelajahan brilian di bukunya, How Soccer Explains the World: The Unlikely Theory of Globalization (2004). Dalam uraian berikut ini yang praktis hasil dari hanya upaya kurang sukses mengambil intisari pemikirannya, Foer melihat sebuah hal yang mungkin tak diduga sebagai alasan AS tidak pernah benar-benar bisa menerima sepak bola sebagai olahraga nasional mereka.
Menurut Foer, di belahan dunia lain, sosiologi sepak bola minim variasi: umumnya adalah olahraga kelas buruh. Hanya segelintir orang tajir melintir yang menggilai olahraga ini. Di AS, deviasi itu lebih sedikit lagi dan strukturnya terbalik. Selain Latino, justru kelas profesional, kelas menengah, dan kaum berkecukupanlah yang menggandrungi sepak bola. Kaum buruhnya nyaris enggak peduli.
Dalam perpolitikan AS pasca-Perang Dunia II, segenerasi kaum elite, yang memilih bermain bola, jadi sasaran empuk keresahan. Mereka adalah anak-anak kuliahan tahun 60-an dan 70-an yang ketika muncul gerakan budaya-tanding (counterculture) secara sadar menentang kepatuhan dan kekakuan "Amerika tradisional" dan merangkul kosmopolitanisme. Namun, dengan bermain bola, mereka dianggap telah berpaling dari acara mengisi waktu luang yang lazim di Amrik. Mereka pun semakin dibenci, begitu juga dengan olahraga mereka, sepak bola.
Menurut ahli, keterbelahan kultural di AS itu gara-gara "perang budaya", yang mengadu kelompok konservatif, pembela tradisi dan moralitas, dengan kelompok liberal pendukung modernitas dan pluralitas.
Foer melihat penjelasan lain. Ia menilai di sinilah letak sebuah sumber keterbelahan kultural: globalisasi.
AS pernah bukan hanya tidak acuh terhadap sepak bola, tapi mungkin satu-satunya negara yang sebagian besar rakyatnya gencar menghujat sepak bola. Kelompok pembenci bola ini punya pengaruh besar, dengan sepasukan wartawan dan komentator olahraga ternama yang memanfaatkan kolom-kolom mereka untuk menjelek-jelekkan sepak bola terutama saat Piala Dunia.
Para pemegang kekuasaan pun percaya sepak bola itu ancaman bagi gaya hidup Amerika. Jack Kemp, salah seorang tokoh konservatif paling berpengaruh di era 80-an yang juga eks pemain tim gridiron, Buffalo Bills, misalnya, berorasi di depan Kongres (parlemen) pada 1986 guna menentang resolusi dukungan agar AS menjadi tuan rumah Piala Dunia. "Saya kira penting bagi semua anak muda untuk berharap pada suatu hari bisa bermain football sungguhan, yang dilempar, ditendang, dibawa lari, dan dipegang erat-erat, untuk mengetahui perbedaan bahwa american football itu olahraga kapitalisme demokratis, sementara sepak bola itu olahraga sosialis Eropa."
Pernyataan itu dikatakan xenofobia dan reaksioner yang diracuni perasaan superioritas budaya. Namun, Foer menilai banyak kaum konservatif yang tidak sependapat, dan banyak pula kaum liberal yang menghujat sepak bola. "Lantas, kalau kebencian terhadap sepak bola bukan karena pandangan politik konvensional, mengapa banyak orang Amerika merasa terancam oleh permainan indah ini?" tulis Foer.
Ia melihat adanya semacam subkultur yang gemar mengolok-olok orang, terutama penyuka sepak bola, yang tidak termasuk dalam kategori mereka. Cercaan penuh kebencian terhadap sepak bola itu bahkan dilontarkan jurnalis dari media terkemuka sekalipun, sering dengan argumen yang cacat logika. Allen Barra, wartawan olahraga Wall Street Journal, sering tergelincir hingga berkomentar ngawur bila menyangkut sepak bola.
Barra toh menawarkan sejumput penalaran mengapa ia lepas kendali: kebenciannya melihat penggemar sepak bola dari kaum yuppies, profesional muda. "Orang Amerika sedemikian penjilatnya bila menyangkut sesuatu yang ada kesan Eropanya," begitu kata Barra. Sampai-sampai, katanya, banyak orang yang tadinya menolak bermain bola akhirnya menyerah dan ikut tren memasukkan anak-anak mereka ke kamp sepak bola remaja. Lebih lanjut, Barra tambah khawatir bahwa penggemar bola ingin "AS membebek pada program dunia lainnya".
Bagi Foer, itulah bentuk fobia akan globalisasi, meski agak terdorong kekesalan melihat olahraga AS seperti bisbol mulai kehilangan peminat termasuk karena gagal memikat pemirsa global ketika itu (jauh sebelum kemunculan atlet bisbol fenomenal dari Jepang saat ini, Shohei Ohtani). Maka, AS bisa sedemikian terbelah untuk urusan sepak bola. Globalisasi menyediakan dasar lebih tajam bagi perpecahan budaya di AS.
Lawan Globalisasi
Menurut Foer lagi, globalisasi jadi dasar perpecahan di AS bukan disengaja. Peristiwa 11 September telah membuka perdebatan baru soal kebijakan luar negeri dan imbasnya adalah perpolitikan terbelah menjadi dua kubu. Satu kubu memercayai prinsip-prinsip hakiki ajaran globalisasi dari politikus Eropa, bahwa pemerintah harus tunduk pada lembaga-lembaga seperti PBB dan WTO. Mereka berbagi nilai sekularisme agresif yang sama dengan orang Eropa, yakni serangkaian norma-norma budaya yang lebih rileks dan toleran dalam menghadapi yang liyan. Mereka menganggap dirinya bagian dari budaya kosmopolitan yang melampaui batas-batas nasional.
Di pihak seberangnya adalah kelompok yang percaya akan "keistimewaan Amerika", gagasan bahwa sejarah dan bentuk pemerintahan AS yang unik telah memberikan mereka peran khusus di dunia, mengatasi hukum dan badan-badan internasional. Mereka menganggap Eropa sedang turun derajat akibat sikapnya yang lembek. Mereka mengkhawatirkan ancaman terhadap kebudayaan Amerika akibat toleransi sekuler. Seiring menyusupnya relativisme ke dalam gaya hidup Amerika, mereka mengeluh bahwa AS telah kehilangan kepercayaan diri dalam mengambil penilaian moral mendasar.
Sepak bola tentu tidak benar-benar merusak, tapi olahraga ini dianggap sebagai simbol bahwa AS sedang membuang tradisinya guna "membebek pada program dunia". Kendati banyak kaum konservatif pembenci relativisme tapi menyukai sepak bola, bukan kebetulan sepak bola menjadi titik pertikaian dalam perang budaya ini.
Foer mengkritik eksekutif-eksekutif muda seperti dirinya yang doyan mencela sesama penggemar bola sebagai amatiran kurang melek sepak bola. Padahal, mereka berasal dari permukiman yang rasio kedai Starbucks per kapitanya tinggi sehingga tidak sejalan dengan gelora jiwa kelas pekerja atau buruh.
"Bila pergi ke Eropa, Anda akan mendengar omelan yang diulang-ulang: orang Amerika itu begitu 'hipernasionalistik'." Namun, yang terlihat adalah kebencian orang AS terhadap timnasnya di ibu kotanya sendiri, yang membuat USMNT kayak tamu di kandangnya sendiri saat menghadapi tim-tim tetangga. Kostum merah dikenakan pendukung, tapi bukan jersei Timnas AS, melainkan kostum Liverpool, Ajax, Arsenal, atau Manchester United yang dibeli di Eropa. "Jadi, seraya melontarkan seruan-seruan patriotik, kami pamerkan kosmopolitan secara gamblang," tulis Foer.
Di sisi lain, kritikus globalisasi menempatkan AS sebagai satu-satunya tokoh jahat dalam perang budaya ini. AS dinilai memaksa negara-negara lain menelan Nike, McDonald's, dan Baywatch tanpa sekeinginan mereka, mengoyak budaya adat demi kepentingan kekaisaran dolar. Namun, korporasi multinasional bukan hanya tidak mewakili kepentingan atau budaya AS, tapi juga berusaha menyetir selera dan perekonomian AS, misalnya saat iklan-iklan Nike dan Budweiser mencoba menjajakan sepak bola di negeri itu. Malah, menurut Foer, tak ada negara yang sedemikian terimbas aliran deras modal dan tenaga kerja, dan yang masyarakatnya terus-menerus dirombak oleh arus migrasi, dan yang identitas nasionalnya senantiasa ditantang, seperti Amerika Serikat.
Dalam hemat Foer, walau AS mungkin bisa dianggap sebagai kekecualian perihal pengaruh globalisasi, tapi Negeri Paman Sam sendiri juga tak kebal dari globalisasi itu. Bagi Foer saat itu, seperti negara lain, AS pun memerangi globalisasi. Boleh jadi pertempurannya masih berlangsung sampai sekarang.
Drastis, tapi Belum Raja
Piala Dunia 2026 tinggal hitungan hari, dan AS akan sekali lagi menjadi tuan rumah. Akan menarik bila mencermati keterbelahan kultural di AS tampak tidak lagi menempatkan sepak bola di tengah-tengahnya. Sepak bola di AS telah mengalami perubahan cukup signifikan sejak gelaran Piala Dunia 1994, yang terbukti sukses dengan rekor 3,5 juta penonton atau rata-rata 68.991 penonton per pertandingan.
Secara perlahan, Timnas Pria AS mendapatkan perhatian dari penggemar olahraga Negeri Paman Sam. Olahraga ini tidak lagi dianggap sebagai olahraga anak sekolah atau olahraga untuk perempuan, mengingat Timnas Perempuan AS merupakan kekuatan kelas dunia.
MLS, yang menjadi kelanjutan dari USA 1994, dipercaya sudah berada di arus utama. Eks Presiden Federasi Sepak Bola AS, Sunil Gulati, mengeklaim bahwa tak terpikirkan pada 1994 bahwa MLS akan menjadi liga 30 tim, dengan 22 stadion khusus untuk sepak bola dan mencatat rata-rata 20 ribu penonton.
Lanskapnya sudah berubah drastis sejak tiga dekade silam itu. US Soccer Federation kini beranggotakan 127 tim profesional, 102 tim pria dan 25 perempuan. Sebanyak 18 dari 50 tim dengan nilai pasar tertinggi saat ini ada di MLS. Bintang dunia, meski tidak lagi di usia emasnya seperti Lionel Messi, Thomas Muller, dan Son Heung-min, bermain di Liga AS.
Eks bek AS, Alexi Lalas, berpendapat bahwa sepak bola sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan bagian dari lanskap generasi muda AS. Akan tetapi, sepak bola belum menjadi raja, dan rasanya belum juga walau Piala Dunia 2026 mencetak kesuksesan lebih besar lagi daripada USA 94. Secara logis, mengingat jumlah pertandingan yang lebih banyak dan stadion berukuran besar, Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi tersukses.
Akan tetapi, pandangan AS tampak masih miring terhadap olahraga ini, terutama dari pemerintahannya sendiri. Donald Trump seperti hendak menekankan bahwa AS masih adidaya sehingga tidak perlu terlalu mengindahkan turnamen sepak bola terbesar. Pilihan mengajak Iran perang, hanya beberapa bulan sebelum perhelatan akbar, adalah salah satu tindakan yang menguatkan kecurigaan itu.
Namun, konon karena perang membutuhkan biaya, AS di bawah Trump administration sepertinya harus menelan kebanggaan hipernasionalistik mereka di hadapan olahraga terpopuler di dunia yang akan menggelar turnamen terbesarnya. Potensi pemasukan sampai ratusan juta dolar tentu akan membantu perekonomian yang terganggu tingkah polah mereka sendiri dalam peta geopolitik dunia.
Tak kurang, turnamen ini mendebarkan akibat AS sempat memilih nyeleneh. Semoga saja sikap FIFA, si empunya turnamen akbar yang akan memberikan pemasukan besar itu tapi anehnya malah seperti menghamba kepada pemerintahan Trump, mungkin menjadi pendorong USA untuk menunjukkan kemahiran menggelar ajang besar.
Maka, sebagai penikmat sepak bola, betapapun pusingnya menyimak perkembangan harian menuju turnamen, mari berharap Piala Dunia 2026 tergelar secara dahsyat. Dan lancar, hingga kegembiraan kita menonton siaran di TVRI bisa berlangsung sampai akhir turnamen.