Penyerang Norwegia, Erling Haaland. Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - Greensboro, Amerika Serikat
Erling Haaland, Alexander Sorloth, dan Kristian Thorstvedt mendapatkan dukungan istimewa yang pernah mengalami Piala Dunia.
Norwegia telah membuat start bagus di Piala Dunia 2026. Asa tim berjulukan Si Merah Putih Biru itu melesat tinggi dilayangkan para pendukung, termasuk orang-orang terdekat dari anggota skuad asuhan Stale Solbakken. Momennya cukup pas pula.
Amerika Serikat, salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026, merayakan Hari Ayah tahun ini pada Ahad (21/6/2026). Dalam konteks sepak bola Norwegia di turnamen kali ini, ayah menjadi bahasan menarik saat disandingkan dengan gelaran Piala Dunia di Negeri Paman Sam sebelumnya, 1994.
Saat Norwegia menekuk Irak dengan skor 4-1 di Boston Stadium di laga pertama, tiga pemain yang turun menelurkan catatan menarik terkait pendahulu mereka. Ayah ketiga pemain tersebut tampil membela Landslaget di Piala Dunia 1994 yang diadakan di AS.
Tiga pemain terkini itu adalah dua penyerang, Erling Haaland dan Alexander Sorloth, serta Kristian Thorstvedt, gelandang. Ayah mereka masing-masing adalah Alf-Inge Haaland (bek), Goran Sorloth (penyerang), dan Erik Thorstvedt (kiper).
"Seperti dongeng yang menjadi kenyataan," ucap Goran Sorloth kepada CNN saat mencoba menggambarkan putranya bermain bersama Erling, anak rekannya di USA 1994, Alfie Haaland.
Goran Sorloth tak bisa menutupi kebanggaannya terhadap Alexander. "Luar biasa. Saya bangga, sungguh bangga padanya dan tim dan setiap pemain. Saya kenal para pelatih, dan tahu seluk-beluk karena pernah beberapa kali bermain. Jadi, ini sungguh perasaan yang menyenangkan buat saya," ucap Goran.
Tanpa Paksaan
Meski jamak bila anak pemain mengikuti jejak ayahnya, para ayah pemain Norwegia tidak terlalu mendorong putra-putra mereka menggeluti sepak bola. Alexander Sorloth bermain bola tangan dan masuk tim nasional seluncur cepat di usia 12 tahun.
"Kami tidak harus menurunkan ambisi kami melalui putra-putra kami. Kami tahu bahwa agar anak-anak menikmati sepak bola dan menjadikannya pekerjaan, hal terpenting adalah tidak memberikan terlalu banyak tekanan pada mereka," tutur Erik Thorstvedt, kiper yang cukup lama memperkuat Tottenham.
Kristian Thorstvedt hampir tidak menjadi pemain profesional. Karena tidak ada klub Norwegia yang berminat, Kristian memilih berkuliah di New Hampshire, AS.
Pada akhirnya, Erik Thorstvedt turun tangan. "Sebagai percobaan terakhir, saya menelepon teman lama yang melatih di tim lama saya, Viking Stavanger," Erik bercerita. Eks kiper itu meminta kesempatan uji coba buat putranya, yang diiyakan sang teman lama. Dalam uji coba selama seminggu, Kristian bisa mengesankan sang pelatih hingga mendapat kontrak.
"Marginnya sangat kecil. Momen itu menentukan kehidupan kami. Saya yakin kalau ia berkuliah di New Hampshire, ia akan mendapatkan pendidikan yang bagus. Namun, ia takkan pernah mendapatkan pengalaman seperti sekarang ini," Erik Thorstvedt melanjutkan.
Faktor Erling
Dengan pemain-pemain yang ada termasuk tiga pemain berbapak alumni Piala Dunia 1994, Norwegia menjadi salah satu kuda hitam yang bisa melejit. Erling Haaland menjadi faktor besar lesatan Vikings.
Sebagai mantan pemain, Erik Thorstvedt tidak menahan diri untuk melepaskan pujian pada eks penyerang Dortmund itu.
"Ia mencetak lebih dari satu gol per partai untuk Norwegia. Maksud saya, bagus kalau melakukannya di Man City. Namun, buat Norwegia, sulit dipercaya. Kami belum pernah sebagus ini. Mencetak lebih dari satu gol per laga benar-benar luar biasa. Kami beruntung memilikinya," kata Erik Thorstvedt.
Norwegia masih harus membuktikan kemampuan untuk mewujudkan banyak harapan dan perkiraan. Para bapak paham junior-junior mereka tidak boleh berpuas diri. "Sebagai mantan pemain, saya selalu bilang, 'Fokus pada satu pertandingan'," kata Goran Sorloth.
Kalah Produktif
Rasanya tidak salah bila para ayah mengharapkan Norwegia saat ini bisa melampaui catatan mereka, atau bahkan melaju lebih jauh.
Di USA 1994 itu, Norwegia gagal lolos dari fase grup. Landlaget sebenarnya juga mengumpulkan 4 poin seperti tiga pesaing lainnya di Grup E, yakni Meksiko, Rep. Irlandia, dan Italia. Akan tetapi, tim Skandinavia itu mesti menempati posisi juru kunci karena kalah dalam urusan mencetak gol.
Kala itu, Norwegia mengalahkan Meksiko yang kemudian menjadi juara grup. Gol tunggal dicetak Kjetil Rekdal pada menit ke-84. Di laga kedua, The Vikings kalah dari Italia melalui gol Dino Baggio (69'). Skor kacamata mengakhiri laga terakhir Norwegia kontra Rep. Irlandia yang lalu jadi runner-up grup.
Norwegia tampil kembali di Piala Dunia 1998. Mereka bisa lolos dari Grup A dengan penentuan mengalahkan juara bertahan, Brasil. Italia menghentikan langkah Vikings di perdelapan final, pencapaian terbaik mereka menyamai 1938 yang juga digelar di Prancis.
Solbakken tampil di Piala Dunia 1998. Namun, meskipun Norwegia dilatih lagi oleh Egil Olsen seperti di AS 1994, tiga orang tua di Piala Dunia 2026 ini tidak bermain di Prancis 1998.