TVRINews – New York, Amerika Serikat

Gianni Infantino coba menepis kritik yang menyebut FIFA hanya ingin mendapatkan untung besar dari penyelenggaraan Piala Dunia 2026.

Mahalnya harga tiket pertandingan Piala Dunia 2026 yang dihelat di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko membuat FIFA terus menuai kritik. Mereka dianggap hanya mementingkan keuntungan dan tidak lagi berpihak kepada suporter.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, coba menepis kritik tersebut. Ia menegaskan bahwa FIFA adalah organisasi nirlaba, sehingga seluruh keuntungan yang diperoleh akan dikembalikan untuk pengembangan sepak bola di 211 negara anggotanya.

Selama ini, Piala Dunia menjadi satu-satunya sumber pemasukan otoritas tertinggi sepak bola dunia tersebut. Mereka hanya memiliki kesempatan mendapat keuntungan setiap empat tahun sekali.

"Kami menghasilkan miliaran dolar Amerika Serikat dalam Piala Dunia, tapi orang tidak tahu bahwa FIFA adalah organisasi nirlaba. Semua pendapatan yang dihasilkan kami investasikan kembali ke dalam penyelenggaraan sepak bola di 211 negara di seluruh dunia," kata Infantino, dikutip dari Al Jazeera, Senin (20/4/2026).

Infantino menyampaikan, mayoritas anggota FIFA tidak mampu melakukan pengembangan sepak bola tanpa adanya bantuan dana. Hal itulah yang membuat pihaknya berupaya semaksimal mungkin memberi dukungan agar terjadi pemerataan.

"Tiga perempat dari anggota kemungkinan besar tidak akan mampu menyelenggarakan sepak bola tanpa bantuan dana yang kami berikan. Kami selalu berusaha menemukan keseimbangan yang tepat," tuturnya.

Suporter dari berbagai negara banyak yang mengutarakan kekecewaan terhadap FIFA. Penetapan harga yang dinamis dinilai sebagai salah satu penyebab kenaikan drastis dalam beberapa bulan terakhir. Namun, FIFA menegaskan kebijakan tersebut sudah sesuai dengan aturan hukum yang berlaku di negara tuan rumah.

Pekan lalu, suporter Amerika Serikat dikejutkan dengan harga tiket termurah untuk pertandingan melawan Paraguai yang mencapai Rp23,3 juta. Sementara itu, tiket area kursi bawah dibanderol Rp241 juta.

Dari penyelenggaraan Piala Dunia 2026, FIFA diproyeksikan mendulang keuntungan mencapai Rp189 triliun. Infantino meminta publik tak sekadar melihat total keseluruhan, melainkan bagaimana dana tersebut digunakan untuk mendukung perkembangan sepak bola secara global.

"Sumber utama dan satu-satunya pendapatan FIFA adalah Piala Dunia. Piala Dunia berlangsung selama satu bulan setiap empat tahun, jadi kami menghasilkan uang dalam satu bulan dan selama 47 bulan hingga Piala Dunia berikutnya, kami menghabiskan uang tersebut," ujar Infantino.

FIFA melakukan perubahan besar pada Piala Dunia 2026 dengan menambah jumlah peserta dari 32 menjadi 48 tim. Format baru ini membuat jumlah pertandingan meningkat menjadi 104 buah.

Dari kebijakan tersebut, jangkauan Piala Dunia akan semakin luas. FIFA dapat mendongrak pemasukan melalui penjualan tiket dan hak siar.