Tim nasional Uruguai saat akan melawan Inggris pada pertandingan persahabatan pada jeda internasional FIFA di Stadion Wembley, akhir Maret lalu. (TVRI/Grafis/Yusuf) Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews – Montevideo, Uruguai
Legenda Uruguai, Diego Forlan, pernah mengungkapkan urgensi untuk menyelesaikan krisis di dalam tim nasional sebelum Piala Dunia 2026.
Grup H menjadi yang paling unik di antara 12 grup di Piala Dunia 2026 nanti. Dari empat tim yang ada, dua di antaranya adalah juara dunia, Uruguai (1930, 1950) dan Spanyol (2010).
Tanpa mengecilkan dua tim di Grup H lainnya, yakni Tanjung Hijau (Cabo Verde) dan Arab Saudi, persaingan dipastikan bakal tertuju antara La Celeste dan La Roja.
Terlepas dari rekor internasional mereka yang mengesankan, tidak banyak yang mengetahui bila tim nasional Uruguai sedang mengalami krisis internal yang serius, yang bahkan dikomentari oleh legenda Diego Forlan, ikon Atletico de Madrid, sebelum upacara pengundian.
Dianggap sebagai salah satu legenda terbesar sepak bola Uruguai, Forlan adalah salah satu wajah yang dikenal dari delegasi tim nasional yang melakukan perjalanan ke Washington D.C. di Amerika Serikat.
Di sana, beberapa saat sebelum memasuki tempat acara, ia ditanya tentang situasi yang rumit di dalam federasi dan tim nasional, dan menjawab dengan tegas, “Saya berharap masalah antara para pemain dan pelatih dapat diselesaikan dan kami dapat fokus bermain. Ini (Uruguai) tim yang sangat bagus dengan staf pelatih yang hebat.”
Situasi ini bermula sejak awal putaran kedua kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Amerika Selatan (Conmebol). Uruguai tidak mampu memenangi satu pertandingan pun hingga laga kelima, pertandingan ketat untuk menundukkan Kolombia, 3-2, pada 16 November 2024.
Sejak saat itu, La Celeste hanya berhasil meraih dua kemenangan lagi dalam tujuh pertandingan tersisa sampai akhir kualifikasi, yang menempatkan mereka di posisi keempat dari enam tim yang lolos langsung ke Piala Dunia 2026. Kemenangan itu pun hanya diraih atas tim-tim lemah, Venezuela (2-0) dan Peru (3-0).
Rentetan hasil buruk ini, ditambah dengan kritik terhadap pelatih Marcelo Bielsa atas manajemennya terhadap para pemain—terutama sang kapten Fede Valverde—memicu krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya di dalam tim.
Sepanjang situasi ini, satu sosok menonjol di atas yang lain: pelatih tim nasional. Bielsa, mantan manajer klub-klub besar seperti Athletic Club, dan eks pelatih kepala Argentina (Oktober 1998 – September 2004) serta timnas Cili (Agustus 2007 – Februari 2011), menyelesaikan kampanye kualifikasi Piala Dunia dalam kondisi kritis.
Sebelum Forlan mengingatkan, mantan rekannya di lini depan timnas Uruguai, Luis Suarez, sudah lebih dulu memprotes soal kepemimpinan Bielsa sebagai pelatih. Suarez sendiri sudah mundur dari La Celeste setelah ditahan Paraguai 0-0 di laga kualifikasi Piala Dunia 2026 pada 6 September 2024.
Saat itu, sekitar bulan Oktober 2024, Suarez secara mengejutkan mengungkapkan bagaimana suasana di dalam skuad telah runtuh, mengatakan para pemain senior merasa komunikasi dengan Bielsa telah terputus, dan mengklaim budaya kekeluargaan yang erat dan tradisional di tim nasional Uruguai telah hancur.
Budaya kekeluargaan dan keakraban yang tradisional dalam skuad La Celeste dilaporkan telah digantikan oleh pendekatan yang sangat profesional dan kaku di bawah Bielsa, yang telah menyebabkan ketegangan.
“Di Copa America (2024), ada pemain yang mengatakan kepada saya, ‘Luis, saya akan bermain di Copa America dan kemudian saya tidak akan bermain lagi’,” ujar Suarez.
“Itu menunjukkan bahwa kami mendekati situasi yang sulit. Kemudian Anda melewatinya dan kembali karena Anda mencintai negara Anda. Kami semua senang bisa mewakili negara (Uruguai).
“Selama panggilan terakhir saya, beberapa dari kami bermain kartu dan staf (Bielsa) akan berjalan-jalan dan melirik ke arah kami seolah-olah mengawasi siapa pun yang bermain kartu. Ada banyak hal yang menarik perhatian saya.”
Mantan striker AFC Ajax, Liverpool FC, dan FC Barcelona, itu menambahkan: “Ada banyak pemain yang mengatur pertemuan (dengan Bielsa) untuk meminta pelatih setidaknya menyapa kami dengan ucapan selamat pagi.
“Namun, dia bahkan tidak mengucapkan salam. Saya mengadakan pertemuan lima menit dengannya sebagai pemimpin tim dan pada akhirnya, dia hanya menjawab dengan singkat, ‘Terima kasih banyak’.”
Hasil dua laga jeda internasional FIFA yang kurang memuaskan, masing-masing imbang melawan Inggris (1-1) dan Aljazair (0-0) pada 27 dan 31 Maret lalu, serta kekalahan telak 1-5 dari Amerika Serikat di laga sebelumnya (juga persahabatan) pada November 2025, mengindikasikan kondisi Uruguai belum kondusif.
Lingkungan di dalam struktur tim digambarkan sebagai sesuatu yang “toxic” dan sejumlah figur penting tim terlihat jalan sendiri-sendiri ataupun berkelompok.
Kapten Uruguai Federico Valverde sudah mengonfirmasi bahwa masalah yang disoroti mengenai kondisi kerja di bawah Bielsa adalah benar.
Sejumlah laporan juga menunjukkan bahwa Bielsa lebih suka bekerja dengan pemain yang lebih muda, menyebabkan gesekan dengan para veteran yang merupakan pilar tim di bawah manajer sebelumnya yang telah lama menjabat.
Pun begitu, terlepas dari masalah-masalah ini, Federasi Sepak Bola Uruguai (AUF) lewat presidennya, Ignacio Alonso, telah memberikan dukungan penuh kepada Bielsa.