Timnas Turki di bawah asuhan pelatih Vincenzo Montella akan berlaga pada play-off Piala Dunia 2026 zona Eropa. Foto: Grafis Yusuf
TVRINews - Pristina, Kosovo
Kini, sang "Pilot Italia" siap menerbangkan mimpi ratusan juta rakyat Turki ke Amerika Utara, membawa harapan besar untuk mengulang memori indah kejayaan pada 2002 di panggung dunia.
Ketika peluit panjang berbunyi di Stadion Fadil Vokrri, Pristina, Rabu (1/4/2026) dini hari WIB, Vincenzo Montella tidak merayakannya dengan selebrasi ikonik pesawat terbang yang dahulu sering diperagakannya di lapangan hijau. Ia hanya berdiri tegak, menarik napas panjang, lalu memeluk satu per satu pemainnya.
Di bawah langit Kosovo, pria asal Italia itu baru saja menuntaskan misi yang gagal diselesaikan oleh sederet pelatih sebelumnya. Ia berhasil membawa Turki kembali ke Piala Dunia setelah absen dari ajang prestisius tersebut selama 24 tahun lamanya usai mengalahkan tuan rumah pada laga final play-off zona Eropa.
Sejak keajaiban di Korea-Jepang 2002, Turki seolah kehilangan kompas di panggung dunia. Mereka selalu nyaris, selalu gagal, dan selalu menjadi penonton saat negara-negara lain berpesta di putaran final Piala Dunia.
Namun, di tangan Montella, narasi kegagalan itu akhirnya resmi dibakar dan dibuang jauh-jauh. Kemenangan tipis 1-0 atas tuan rumah Kosovo memastikan The Crescent-Stars meraih tiket otomatis ke Piala Dunia 2026. Ini adalah pencapaian monumental pria berusia 51 tahun tersebut yang awalnya datang dengan keraguan publik yang cukup besar.
Rekam jejak Montella sebagai pemain adalah tentang ketajaman dan insting pemangsa di kotak penalti. Mendapat julukan L’Aeroplanino atau Si Pesawat Kecil, ia adalah sosok mungil yang mampu meruntuhkan pertahanan raksasa Serie A. Kecepatan dan kecerdikannya membaca ruang menjadikannya salah satu ikon sepak bola Italia pada awal milenium baru.
Karier kepelatihannya dimulai dengan lika-liku yang tidak selalu mulus, mulai dari melatih tim muda AS Roma hingga menangani klub besar seperti AC Milan dan Fiorentina. Ada masa di mana taktiknya dipuji setinggi langit, ada pula saat ia harus angkat kaki karena hasil yang tidak konsisten. Namun, takdir membawanya ke Turki pada 2021 untuk melatih Adana Demirspor.
Di Adana, Montella tidak hanya melatih taktik, melainkan mempelajari jiwa sepak bola Turki yang meledak-ledak dan penuh gairah. Ia memahami pemain Turki memiliki bakat teknis yang luar biasa, yang sering kali terbelenggu oleh emosi tidak stabil di lapangan. Pemahaman mendalam ini yang menjadi modal utamanya saat ditunjuk menakhodai tim nasional.
Saat mengambil alih kursi kepelatihan Turki, Montella melakukan revolusi yang tenang dan mematikan. Ia tidak membuang senioritas, melainkan juga memberikan karpet merah bagi darah muda seperti Arda Guler dan Kenan Yildiz. Di bawah arahannya, Turki bukan lagi tim yang hanya mengandalkan semangat juang, tapi tim yang bermain dengan skema terukur.
Magis Montella terlihat nyata dalam kampanye kualifikasi menuju Amerika Utara. Ia berhasil menanamkan kedisiplinan taktik ala Italia ke dalam DNA sepak bola Turki yang ofensif. Pemain tidak lagi bermain secara sporadis, melainkan bergerak dalam satu unit yang harmonis, menutup ruang secara rapat dan menyerang dengan efisiensi tinggi.
Laga melawan Kosovo menjadi ujian puncak dari ketenangan mental yang ditanamkan. Menghadapi atmosfer tuan rumah yang intimidatif, para pemain Turki tidak terpancing emosi meski tensi pertandingan sempat memanas di babak pertama. Mereka tetap setia pada instruksi sang arsitek, menunggu momen yang tepat untuk menghujamkan serangan balik.
Momen itu datang di menit ke-53 melalui kaki Kerem Akturkoglu. Gol tersebut adalah buah dari kesabaran yang diajarkan Montella di ruang ganti. Gol tunggal itu sudah cukup untuk meruntuhkan tembok pertahanan Kosovo yang digalang dengan rapat sepanjang malam di Pristina.
Keberhasilan ini membuktikan Montella adalah pelatih yang adaptif dan visioner. Ia mampu menyatukan ego bintang-bintang besar dengan kerja keras para pemain muda. Di matanya, semua pemain adalah bagian dari mesin yang harus bekerja sinkron demi satu tujuan mulia yakni mengibarkan kembali bendera bulan sabit di kancah dunia.
Kini, penantian 24 tahun itu telah berakhir dengan manis di tangan dingin pria asal Pomigliano d'Arco tersebut. Turki tidak lagi dihantui oleh bayang-bayang masa lalu yang kelam di babak kualifikasi. Mereka melangkah ke depan dengan kepala tegak, membawa identitas sepak bola yang lebih modern dan kompetitif di level internasional.
“Secara emosional, saya berada di puncak. Saya sangat bangga. Saya tidak akan menukar pemain saya dengan apa pun. Siapa pun yang melakukan pekerjaan ini pasti memimpikan Piala Dunia, saya sangat berterima kasih kepada para pemain saya,” kata Montella kepada Anadolu selepas laga versus Kosovo.
“Kami telah mencapai impian kami Ini perasaan yang luar biasa, saya tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata. Piala Dunia adalah puncaknya,” Montella melanjutkan dengan rasa bangga terhadap penampilan anak asuhnya yang bermain tak kenal lelah sepanjang laga.
Montella telah bertransformasi sepenuhnya dari seorang "Pesawat Kecil" yang mengejar gol menjadi seorang "Pilot Utama" yang menavigasi mimpi sebuah bangsa. Ia membuktikan sepak bola bukan hanya soal strategi di atas kertas, tapi soal bagaimana menyentuh hati para pemain agar memberikan segalanya di lapangan hijau.
Perjalanan menuju Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko kini terpampang nyata di depan mata. Rakyat Turki yang dahulu merayakan gelar juara peringkat pada 2002 kini punya alasan baru untuk kembali bermimpi besar. Mereka percaya di bawah kendali Montella, apa pun bisa terjadi pada putaran final nanti.
Keberhasilan ini juga menjadi tamparan bagi para pengkritik yang sempat meragukan kapabilitas pelatih asing di tubuh Tim Nasional Turki. Montella menjawab semua keraguan itu dengan bukti nyata di lapangan, bukan dengan kata-kata manis di depan media. Ia bekerja dalam diam, tapi hasilnya mengguncang seluruh negeri.
Di Grup C Piala Dunia 2026 nanti, Turki akan berhadapan dengan Australia, Paraguai, dan tuan rumah Amerika Serikat. Tantangan ini jelas tidak mudah, tapi bagi tim yang sudah menunggu hampir seperempat abad, tidak ada gunung yang terlalu tinggi untuk didaki. Mentalitas pemenang yang dibawa Montella menjadi senjata utama.
Montella telah menuliskan namanya dalam tinta emas sejarah sepak bola Turki, bersanding dengan nama-nama besar pelatih legendaris sebelumnya. Namun, ia tahu bahwa tugasnya belum selesai hanya dengan lolos kualifikasi. Target berikutnya adalah membuktikan bahwa Turki layak diperhitungkan sebagai kekuatan elite sepak bola global.
Kisah sukses di Pristina hanyalah bab pembuka dari perjalanan panjang yang baru dimulai. Dengan filosofi sepak bola yang matang dan skuad yang sedang menuju masa keemasan, magis Montella diprediksi terus berlanjut. Dunia kini menanti, kejutan apa lagi yang akan diterbangkan oleh sang pilot Italia ini di musim panas mendatang.