Pemain depan Timnas Jerman, Thomas Muller, menggenggam trofi Piala Dunia 2014 di Brasil. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - Johannesburg, Afrika Selatan
Thomas Muller bukan satu-satunya pemain yang mengoleksi lima gol di Piala Dunia 2010. Ia berbagi puncak daftar pencetak gol dengan David Villa, Wesley Sneijder, dan Diego Forlan.
Dalam panggung Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, dunia sepak bola tidak hanya menyaksikan lahirnya juara baru dalam diri Timnas Spanyol, tetapi juga munculnya sosok raja gol. Dia adalah Thomas Muller, penyerang muda Jerman berusia 20 tahun yang menutup turnamen dengan lima gol.
Muller memang bukan satu-satunya pemain yang mengoleksi lima gol di Afrika Selatan. Ia harus berbagi puncak daftar pencetak gol dengan tiga nama besar: David Villa (Spanyol), Wesley Sneijder (Belanda), dan Diego Forlan (Uruguai).
Keempat pemain ini sama-sama mencetak lima gol sepanjang turnamen, sehingga menjadikan persaingan Golden Boot (Sepatu Emas) di Piala Dunia 2010 sebagai salah satu yang paling ketat dalam sejarah Piala Dunia.
Bagimanapun, hanya satu yang berhak membawa pulang Sepatu Emas, dan di sinilah detail kecil menjadi penentu sejarah. FIFA menerapkan aturan tie-breaker untuk menentukan pemenang Golden Boot. Jika jumlah gol sama, maka peringkat ditentukan berdasarkan jumlah asis, lalu jika masih imbang, dilihat dari menit bermain (siapa yang lebih efisien).
Dalam hal ini, Muller unggul jauh. Pemain Bayern Munchen itu mencatatkan tiga asis, sementara Villa, Sneijder, dan Forlan masing-masing hanya mengoleksi satu asis.
Perbedaan kecil itu membuat dampak besar: Muller resmi dinobatkan sebagai top-scorer Piala Dunia 2010. “Saya tidak pernah membayangkan ini sebelumnya, rasanya luar biasa,” kata Muller mengenai prestasinya itu, dikutip dari FIFA.com dalam wawancara usai turnamen Piala Dunia 2010.
Keunggulan Muller bukan hanya soal angka, tetapi juga timing. Gol-golnya datang pada momen penting, di antaranya membuka kemenangan atas Timnas Inggris dan Argentina pada fase gugur.
Ia bukan sekadar pencetak gol, melainkan pengubah arah pertandingan. Pelatih Jerman saat itu, Joachim Low, pernah menggambarkan keistimewaan Muller dengan sederhana. “Dia selalu berada di posisi yang tepat di waktu yang tepat,” kata Low, dikutip dari ESPN.
Ironisnya, perjalanan Muller hampir terasa “tidak lengkap”. Ia sempat absen di semifinal melawan Spanyol karena akumulasi kartu. Laga ini akhirnya dimenangkan Spanyol 1-0 yang akhirnya menjadi juara setelah di final menaklukkan Belanda 1-0 lewat perpanjangan waktu.
Namun, Muller kembali bermain pada perebutan tempat ketiga, dan menutup turnamen dengan kontribusi penting dalam kemenangan Jerman 3-2 atas Uruguai dalam sebuah laga seru di Stadion Nelson Mandela Bay, Port Elizabeth. Muller menyumbang satu gol pada pertandingan yang dimenangkan Jerman 3-2 itu.