TVRINews - Noumea, Kaledonia Baru

Joseph Athale dan Germain Haewegene ingin membuat 264.596 penduduk Kaledonia Baru merasa bangga terhadap tim nasional mereka dengan lolos play-off Piala Dunia 2026.

Sekitar tiga minggu dari sekarang, di bawah bayang-bayang Stadion Guadalajara yang megah di Meksiko, dua pria bersaudara akan berdiri berdampingan. Mereka bersama rekan setimnya yang lain akan bernyanyi dengan penuh khidmat saat lagu kebangsaan dikumandangkan pada ajang play-off antarbenua menuju Piala Dunia 2026. 

Bagi Joseph Athale dan Germain Haewegene, momen itu bukan sekadar pertandingan sepak bola biasa. Itu adalah puncak dari perjalanan hidup yang dimulai di lapangan tanah merah Kaledonia Baru demi ambisi menembus Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, 11 Juni-19 Juli 2026.

Hubungan mereka melampaui rekan setim. Mereka adalah sepupu kedua melalui garis nenek, sahabat sejak kecil, dan kini sebagai pionir profesional pertama dari negara mereka yang bermain untuk Tahiti United di kompetisi OFC Pro League.

Athale, seorang bek tangguh, dan Haewegene, penyerang tajam, telah mengikuti jejak yang hampir identik: memulai di klub junior yang sama, membela klub domestik AS Magenta, hingga akhirnya mencicipi dunia profesional bersama-sama.

"Kami tumbuh besar bersama," ujar Athale penuh kehangatan, dikutip dari Oceania Football, Jumat (6/3/2026). "Senang rasanya memiliki saudara di samping saya seperti itu. Jika performaku sedang turun, dia ada di sana untuk mengangkatku, dan begitu juga sebaliknya," ia menambahkan.

Bagi Haewegene, kehadiran Athale adalah kejutan yang menyenangkan sekaligus berkah. "Saya sangat terkejut saat mengetahui dia juga direkrut Tahiti United. Kami adalah keluarga di dalam sepak bola, tapi juga di luar lapangan. Kami sepupu. Kami memiliki hubungan yang sangat baik."

Transisi ke dunia profesional telah mengubah cara pandang mereka terhadap sepak bola. Rutinitas yang dulu santai kini berubah menjadi disiplin ketat.

"Kami tidak terbiasa berlatih dalam lingkungan seperti ini di Kaledonia baru," Haewegene menuturkan. "Sekarang, ada latihan pagi, latihan sore, dan rapat sebelum tidur, hal-hal seperti itu. Ini sangat baru bagi saya, tapi ini bagian dari pengalaman yang sangat saya nikmati."

Kerikil yang Ingin Mengguncang

Lawan yang menanti mereka di babak semifinal play-off antarbenua pada 26 Maret 2026 mendatang bukanlah lawan sembarangan: Jamaika. Di atas kertas, Kaledonia Baru adalah kurcaci. Jamaika berada di peringkat ke-70 FIFA, unggul 80 peringkat di atas mereka yang duduk di posisi ke-150.

Jika berhasil melewati halangan The Reggae Boyz, mereka masih harus menumbangkan wakil Afrika, Republik Demokratik Kongo, demi satu tiket di Grup K Piala Dunia 2026, bergabung bersama raksasa Portugal, Kolombia, dan Uzbekistan.

"Banyak pemain Jamaika bermain di level tinggi di seluruh dunia. Ini akan menjadi tantangan besar," kata Haewegene waspada. "Tapi, kami tidak boleh melihat terlalu jauh ke depan. Fokus pertama adalah Jamaika. Setelah itu, baru kita lihat nanti."

Perjalanan The Cagous (julukan Kaledonia Baru, mengacu ke nama burung khas setempat) ke tahap ini bak sebuah keajaiban. Setelah kalah terhormat dari Selandia Baru di final kualifikasi zona OFC, mereka mendapat kesempatan kedua melalui jalur play-off. 

Namun, motivasi terbesar mereka bukanlah sekadar trofi, melainkan rakyat di kampung halaman yang sedang menghadapi masa-masa sulit. Mereka tentu ingin membuat 264.596 penduduk Kaledonia Baru (hasil sensus 2025) merasa bangga terhadap tim nasionalnya.

"Ini adalah kampanye kualifikasi yang ajaib dan kegembiraan murni bisa mewakili negara, terutama mengetahui bahwa di rumah kami sedang melewati masa-masa sulit," tutur Haewegene. 

"Meskipun begitu, kami tidak menyerah. Kami katakan pada diri sendiri bahwa kami akan mewakili negara dengan bangga dan memberikan segalanya," ia menegaskan.

Bermain di bawah arahan pelatih Johan Sidaner, yang membawa disiplin taktis dari pengalamannya selama 11 tahun di FC Nantes, Kaledonia Baru mulai menunjukkan taringnya. Tahun lalu, mereka mencetak sejarah sebagai negara Pasifik pertama yang mengalahkan tim Eropa (Gibraltar 2-0) dalam laga senior.

Bagi Athale, yang telah mengoleksi 22 caps timnas, misi ini bersifat personal. "Ini adalah kebanggaan besar, dan merupakan kewajiban bagi kami untuk pergi ke sana dan mewakili negara, bendera, serta keluarga di belakang kami," ujarnya. 

"Dengan semua yang telah kami lalui, kami harus pergi ke Meksiko untuk menunjukkan siapa kami dan membuktikan bahwa 'kerikil kecil' (mengacu ke Kaledonia Baru) ini benar-benar ada di planet bumi ini," kata Athale.

Meskipun peluang terlihat kecil, optimisme tetap membara. Haewegene percaya bahwa kerja keras dan pengorbanan selama bertahun-tahun akan membuahkan hasil. "Ini realistis jika kita memercayainya. Saya sangat percaya pada tim saya."

Athale pun menutupnya dengan sebuah refleksi tentang keajaiban sepak bola. "Negara kecil yang sudah lolos Piala Dunia 2026 seperti Curacao dan Tanjung Hijau telah menunjukkan kepada kita bahwa segalanya mungkin. Sepak bola memang ajaib seperti itu. Mengapa kami tidak bisa?" kata Haewegene.