TVRINews - New York, Amerika Serikat

Enam unggulan yang mungkin bakal terjungkal di fase grup Piala Dunia 2026.

Kejutan merupakan pemandangan yang niscaya muncul dalam Piala Dunia. Kubu yang dijagokan juara tersingkir di bagian awal, tepatnya fase grup, turnamen empat tahunan ini. 

Pada umumnya, tim yang difavoritkan kampiun adalah yang memiliki banyak bintang di dalam skuadnya. Kategori pemain bintang dapat dipersempit, yakni mereka yang tampil di klub-klub besar di lima liga terbaik di Eropa.

Akan tetapi, Piala Dunia berbeda dengan kompetisi liga reguler antarklub senegara. Setelah tiga laga di fase grup, sebuah tim, sebagus apa pun, bisa mendapati kenyataan pahit: gagal melangkah ke fase gugur.

Tim-tim favorit itu secara umum mengerucut ke enam kubu, yaitu Spanyol, Prancis, Inggris, Brasil, Argentina, dan Portugal. Bursa-bursa taruhan hampir senada menempatkan setengah lusin tim tersebut di daftar calon penakluk Piala Dunia 2026.

Melihat statusnya, keenam unggulan itu dikatakan memiliki kans 90 persen untuk lolos dari fase grup. Peluang itu antara lain karena peluasan untuk pertama kali menjadi 48 tim, dengan 8 dari 12 tim peringkat ketiga masih bisa lolos, yang membuat persaingan di grup lebih lunak dibandingkan dengan saat partisipannya masih 32 tim.

Namun, jika peluang para jagoan itu dikalikan enam, maka muncul kemungkinan kurang dari 50 persen, tepatnya 47 persen, akan ada setidaknya salah satu dari favorit tersebut yang mesti angkat koper setelah tiga pertandingan saja.

Melalui analisnya, Ryan O'Hanlon, ESPN membuat hitung mundur kubu unggulan yang mungkin tersingkir cepat, dari yang peluangnya terkecil sampai terbesar. 


6. Inggris

Tim Tiga Singa disebut hanya memiliki seorang pencetak gol tulen bernama Harry Kane. Selain itu, Inggris dinilai bermain terlalu konservatif. 

Inggris dinilai pula bermain seperti juara Premier League, Arsenal. The Gunners mengandalkan bola-bola mati, penguasaan bola yang konservatif, dan pertahanan kuat. Namun, karena tidak membuat banyak peluang mencetak gol sementara lawan bisa memanfaatkan dua peluang saja, Inggris bisa merasakan hukumannya.

Harry Kane memang mencetak banyak gol, termasuk 11 gol di luar penalti, sejak 2024. Akan tetapi, pemain lain hanya bisa mengukir tidak lebih dari tiga gol.

Di samping itu, skuad yang dipanggil Thomas Tuchel tampak berkekurangan penyedia operan matang yang kreatif. Kane bisa mandek karena tidak ada pasokan asis.



Tim nasional sepak bola Spanyol. (TVRI/Grafis/Dede Mauladi)

Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi

5. Spanyol

La Roja awalnya tampak sulit tersingkir di fase awal. Namun, karena Lamine Yamal bakal absen di partai pertama, sang sayap muda mungkin sulit bangkit di dua laga berikutnya.

Faktor lainnya, Rodri belum tampil seperti sebelum dihajar cedera musim ini. Pedri tampak rentan cedera setiap kali bermain. Potensi masalah kebugaran tiga pilar itu bisa mengganggu alur permainan Spanyol.

Tambahkan pula kutukan juara Euro dua tahun sebelum Piala Dunia. Sejak 1988, hanya satu tim kampiun Eropa yang bisa melewati perempat final dan satu tim lagi yang sampai ke delapan besar. Tujuh jawara Benua Biru lainnya mandek di fase gugur awal.

Spanyol memang merupakan kubu yang bahkan bisa sampai menjadi juara dunia, yaitu di Piala Dunia 2010, setelah kampiun Euro dua tahun sebelumnya. Akan tetapi, beban tim Luis de la Fuente kali ini tampak besar untuk ditanggung anak muda seperti Lamine Yamal.


4. Brasil

Apakah ini Brasil terburuk dalam beberapa dekade terakhir? 

Selecao tentu mempunyai bintang kelas dunia pada Vinicius Junior, Raphinha, Gabriel Magalhaes, dan Marquinhos. Sisa pengisi skuad Canarinha pernah dianggap bintang seperti Alisson dan Bruno Guimaraes, tapi performa mereka sudah merosot.

Carlo Ancelotti tidak lantas memperbesar peluang tim yang kurang meyakinkan ini. Selama ini, Carletto tampak cemerlang karena tim yang ia asuh bertabur pemain berbakat hebat. Kemahirannya menekan ego pemain bintang tidak bisa berfaedah kali ini karena Brasil praktis tidak memiliki banyak bintang.

Brasil mungkin tertolong undian yang menempatkan mereka di grup yang tampak ringan. Maroko tentu bisa mengubah pandangan itu, tapi Selecao mungkin bisa lolos dari kemalangan mandek di fase grup.



Ousmane Dembele dan Michael Olise dinilai bisa mendapatkan peran lebih di lini depan Prancis untuk Piala Dunia 2026.

Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi

3. Prancis

Les Bleus bisa dikatakan memiliki skuad paling berbakat di Piala Dunia 2026. Lini depan berisi pemain seperti Kylian Mbappe, Michael Olise, dan Ousmane Dembele akan menggetarkan pertahanan lawan. 

Di luar sisi permainan tim, takkan mengagetkan pula bila Prancis tersungkur di fase grup. Ada dua faktor yang bisa segera menjungkalkan Tim Ayam Jantan.

Yang pertama adalah potensi kegagalan bangkit. Jerman empat tahun lalu bisa terulang pada Prancis. Di Qatar 2022, Die Mannschaft menciptakan harapan gol yang tinggi di fase grup, tapi tetap gagal melaju.

Faktor kedua adalah undian. Les Bleus berada di Grup I bersama Senegal (peringkat 14 FIFA) dan Norwegia (31). Jika gagal menang atas dua kuda hitam itu, Prancis tinggal berharap tidak tampil jeblok saat meladeni Irak yang juga berpotensi lumayan besar memberi kejutan.


2. Argentina

Berdasarkan hasil, terutama di kualifikasi, Argentina favorit mempertahankan gelar. Selain itu, Albiceleste membuktikan diri bisa memaksimalkan keberadaan Lionel Messi di pengujung kariernya dengan dua Copa America yang mengapit trofi emas Piala Dunia 2022.

Akan tetapi, seperti pada kebanyakan kisah, tim yang meraih banyak kesuksesan sangat mungkin tampil lesu di Piala Dunia berikutnya. Penurunan penampilan dibandingkan empat tahun silam tampak terlihat di skuad Lionel Scaloni tahun ini.

Sepuluh pemain yang paling sering dimainkan Scaloni di kualifikasi zona Amerika Selatan adalah mereka yang tampil di final Qatar 2022. Namun, mereka empat tahun lebih tua dan empat tahun lebih buruk.

Dua tim berpeluang merontokkan Argentina yang menua di Grup J. Austria dengan gegenpressing ala Ralf Rangnick dan Aljazair yang disesaki pemain-pemain muda akan merepotkan sang juara bertahan dengan energi besar mereka.



Ilustrasi Cristiano Ronaldo bersama Timnas Portugal

Foto: TVRI/Grafis/Mohamad Yusuf

1. Portugal

Dari enam favorit, Portugal merupakan satu-satunya kubu yang belum pernah merasakan kenikmatan mengangkat trodi Piala Dunia. Maka, Selecao das Quinas tidak mudah dianggap unggulan seperti lima kubu lainnya. Pun demikian, Portugal disebut memiliki kans besar untuk kampiun tahun ini.

Akan tetapi, kelebihan terbesar mereka selama bertahun-tahun sekarang terlihat menjadi beban terbesar. Cristiano Ronaldo namanya.

Sejak awal 2024, Cristiano Ronaldo mencetak 26 persen gol Portugal di luar penalti. CR7 menghasilkan pula 37 persen harapan gol Selecao das Quinas di partai-partai kompetitif. 

Hanya, Ronaldo kini berusia 41 tahun. Ia tidak lagi tampil bagus secara konsisten di level tinggi bahkan sejak sebelum Qatar 2022. Apalagi, di Liga Arab Saudi yang terbilang payah, performa CR7 tidak lantas mengilap. 

Repotnya, di Portugal, tidak ada pengganti sepadan untuk posisi Ronaldo terutama di masa keemasannya. 

Satu-satunya pilihan pengganti untuk ujung tombak adalah Goncalo Ramos. Sang penyerang menjadi yang tersubur, bahkan dipercaya menjadi starter daripada Ronaldo di dua laga fase gugur di Qatar 2022. Ramos baru berusia 24 tahun, tapi kiprahnya merosot sejak pindah ke PSG setelah Qatar 2022.

Yang jelas, bisa berabe buat Portugal kalau masih ngotot mengandalkan Ronaldo.