Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada dibayangi perang di kawasan Timur Tengah. Foto: TVRI/Grafis/Mohamad Yusuf
TVRINews - Jakarta
Piala Dunia 2026 bisa menjadi preseden baru: sebuah turnamen yang diselenggarakan oleh negara yang sedang aktif berperang.
Hanya tiga bulan menjelang sepak mula Piala Dunia 2026, dunia dipaksa menyaksikan drama yang tidak kalah menegangkan dibandingkan dengan adu penalti. Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke jantung Kota Teheran pada akhir Februari 2026, yang berujung pada meninggalnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, telah mengubah peta geopolitik dunia dalam semalam.
Di balik awan hitam di langit Timur Tengah, sebuah pertanyaan besar menggantung di atas stadion-stadion megah Amerika Serikat di Los Angeles, Seattle, hingga New York: Akankah Piala Dunia 2026 tetap bergulir?
Ajang empat tahunan ini bukan sekadar turnamen. Ini adalah hajatan terbesar dalam sejarah FIFA dengan 48 tim dan melibatkan tiga negara tuan rumah. Namun, ketika Amerika Serikat—sang tuan rumah utama—kini secara teknis berada dalam keadaan perang terbuka dengan Iran, sepak bola bukan lagi sekadar permainan. Olahraga paling populer di dunia ini telah menjadi sandera dengan dalih kepentingan keamanan internasional.
Iran Membuat FIFA Berada di Persimpangan
Secara ilmiah dan politis, partisipasi Timnas Iran adalah titik api paling panas. Bagaimana mungkin sebuah negara yang sedang dihujani rudal oleh tuan rumah turnamen dapat mengirimkan atletnya ke wilayah lawannya?
FIFA saat ini berada di persimpangan jalan yang sulit untuk diputuskan. Jika FIFA melarang Iran bertanding—mengikuti jejak sanksi terhadap Rusia pada 2022—mereka akan dituduh berstandar ganda, mengingat AS adalah pihak yang melakukan serangan lebih dulu kali ini.
Namun, jika Iran tetap berpartisipasi, risiko keamanannya tidak terbayangkan. Laga Iran melawan Mesir atau Belgia di Los Angeles, California—kota dengan komunitas diaspora Iran terbesar di dunia hingga dikenal dengan julukan Tehrangeles—bisa berubah dari pertandingan olahraga menjadi medan protes massa atau bahkan sasaran sabotase.
Logistik dalam Kepungan Krisis
Selain urusan politik, hitung-hitungan logistik memberikan gambaran yang lebih kelam. Penutupan wilayah udara di seluruh Teluk sejak 1 Maret 2026 telah mematikan hub penerbangan utama seperti Dubai dan Doha. Ini adalah jalur nadi bagi jutaan suporter dari Asia dan Afrika untuk menuju Amerika Utara.
Secara ekonomi, lonjakan harga minyak akibat hantaman rudal ke fasilitas pelabuhan Jebel Ali akan melambungkan biaya avtur. Piala Dunia yang tadinya diprediksi menjadi pesta ekonomi pascapandemi, kini terancam menjadi turnamen yang hanya bisa dinikmati oleh warga lokal Amerika Utara karena biaya perjalanan internasional yang tidak lagi masuk akal bagi warga dunia lainnya.
Jaminan Keamanan Paling Utama
Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump kini menghadapi ujian berat. Di satu sisi, Washington ingin menunjukkan normalitas melalui Piala Dunia, tapi di sisi lain, pengetatan visa dan status State of Emergency akan membuat atmosfer turnamen terasa lebih seperti barak militer daripada festival budaya.
Sejarah mencatat bahwa Olimpiade atau Piala Dunia jarang sekali dibatalkan kecuali oleh Perang Dunia. Namun, Piala Dunia 2026 bisa menjadi preseden baru: sebuah turnamen yang diselenggarakan oleh negara yang sedang aktif berperang (bila perang berlanjut hingga tiga bulan ke depan).
Jika FIFA dan pemerintah AS gagal memberikan jaminan keamanan absolut bagi seluruh delegasi, termasuk negara-negara Arab yang kini juga menjadi sasaran retaliasi Iran dan bisa menyebabkan efek domino yang lebih dahsyat. Piala Dunia 2026 mungkin akan dikenang bukan karena gol-gol indahnya, melainkan sebagai monumen kegagalan diplomasi olahraga di tengah ambisi kekuasaan.
Bola mungkin akan tetap bergulir di rumput Stadion SoFi Los Angeles, tapi bayang-bayang rudal di langit Teheran akan terus menghantui tiap tiupan peluit wasit.