Timnas Senegal, kontestan Piala Dunia 2026. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews – Seattle, Amerika Serikat
Pape Gueye akan menolak panggilan membela Senegal jika staf pelatih masih diisi orang yang sama.
Unggahan gelandang Senegal, Pape Gueye, di akun Instagram pribadinya usai pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 melawan Belgia, Kamis (2/7/2026) di Seattle Stadium, Amerika Serikat, memancing kehebohan. Ia menegaskan tidak akan kembali memperkuat tim berjuluk Lions of Teranga selama masih ditangani staf pelatih yang sama.
Senegal tersingkir dari Piala Dunia 2026 dengan cara yang menyakitkan. Sempat unggul dua gol, mereka justru dipaksa menyerah 2-3 oleh Belgia. Tim lawan mampu mencetak gol pada menit ke-86 dan ke-89 untuk menyamakan kedudukan, sebelum memastikan kemenangan pada penghujung babak tambahan.
Tak lama setelah pertandingan berakhir, Gueye angkat bicara melalui akun Instagram pribadinya. Ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap Pape Thiaw beserta jajaran staf pelatih Senegal, dan memutuskan untuk melakukan boikot.
"Saya akan kembali untuk menyampaikan beberapa hal terkait tersingkirnya kami. Tetapi, hari ini saya mengumumkan bahwa selama staf teknis ini masih menangani tim, saya akan berhenti sementara membela tim nasional," tulisnya.
Pernyataan gelandang berusia 27 tahun itu mengisyaratkan adanya persoalan di internal tim Senegal selama Piala Dunia 2026. Situasi tersebut diduga turut memengaruhi performa tim hingga gagal mempertahankan keunggulan atas Belgia.
Sepanjang Piala Dunia 2026, Gueye selalu menjadi starter dalam tiga dari empat pertandingan Senegal. Namun saat menghadapi Belgia, ia ditarik keluar pada pertengahan babak kedua untuk digantikan Lamine Camara.
Sejumlah laporan menyebut keputusan Thiaw mengubah pendekatan permainan setelah tim unggul menjadi pemicu ketidakpuasan para pemain. Senegal memilih bermain lebih bertahan untuk mengamankan keunggulan, tetapi strategi tersebut justru berujung pada kebobolan.
Pelatih Belgia, Rudi Garcia, bahkan ikut menyoroti pendekatan taktik yang diterapkan Thiaw. Ia mengaku sudah memperkirakan perubahan tersebut dan meminta para pemain De Rode Duivels untuk terus menekan hingga akhir pertandingan.
"Kami mengenal tim-tim seperti itu. Mereka kehilangan struktur taktis menjelang akhir pertandingan. Kami tahu bahwa saat unggul 2-0 mereka akan melakukan segala cara untuk melindungi gawang mereka, dan menurut saya itu adalah kesalahan besar," ujar Garcia.