TVRINews - Jakarta, Indonesia

Lima pelatih legendaris yang meninggalkan jejak berharga di Piala Dunia.

Piala Dunia 2026 akan menjadi ajang adu taktik dan strategi bagi para pelatih. Banyak pelatih top di Piala Dunia 2026 yang akan bergulir mulai 11 Juni 2026 nanti. Pada Piala Dunia 2022 silam, sosok Lionel Scaloni menyita perhatian dunia. Belum pernah melatih di level klub, dia malah membawa Argentina juara dunia.

Lionel Scaloni mengalahkan Didier Deschamps, pelatih Prancis dalam laga final empat tahun lalu itu. Didier Deschamps sudah lebih dulu merasakan gelar Piala Dunia pada 2018 silam. Dengan gelar itu pula, dia satu dari tiga pelatih yang pernah juara Piala Dunia sebagai pemain dan pelatih, dua lainnya adalah Mario Zagallo (Brasil) dan Franz Beckenbauer (Jerman).

Banyak rekor menarik tentang pelatih tentunya. Deretan rekor di atas hanya di antaranya. Piala Dunia memang menampilkan banyak pelatih hebat dengan berbagai keistimewaan mereka. Satu tulisan tentu tidak cukup untuk mengulas para arsitek pengukir sejarah dari pinggir lapangan ini.

Ada lima pelatih dalam tulisan ini yang termasuk sebagai pelatih legendaris Piala Dunia. Mereka adalah pelatih hebat bukan hanya karena gelar yang mereka raih melainkan karena strategi, permainan tim mereka, ide yang tidak biasa yang pernah ada di Piala Dunia. Di antara mereka bahkan memperkenalkan pola atau sistem permainan yang kemudian digunakan sepanjang sejarah sepak bola. Siapa saja mereka?

Vittorio Pozzo, Arsitek Dua Gelar Italia

Vittorio Pozzo adalah arsitek yang membawa Italia meraih dua gelar Piala Dunia secara beruntun, 1934 dan 1938. Hingga kini, belum ada pelatih yang mampu meraih pencapaian tersebut dalam sejarah Piala Dunia. Vittorio Pozzo menampilkan tim Italia yang bermain dengan taktik yang disiplin yang kemudian dunia sepak bola menyebutnya dengan "Metodo".

Formasi ini menggunakan pola 2-3-2-3 yang mengadaptasi pola 2-3-5 yang popular di awal 1930-an. Sistem Vittorio Pozzo juga disebut dengan "WW", yaitu dua pemain bertahan, tiga gelandang, dan lini depan yang terbagi menjadi dua penyerang sayap dan tiga striker.

Inovasi taktik ini memberikan perlindungan pertahanan yang lebih besar bagi timnya, melindungi dari serangan balik yang dikombinasikan dengan pemain kreatif di tengah lapangan. Dengan system Il Metodo inilah, Vittorio Pozzo memimpin Italia meraih kemenangan Piala Dunia berturut-turut pada tahun 1934 dan 1938.

Vittorio Pozzo adalah pelatih teratas karena inovasi dalam taktik di awal-awal Piala Dunia. Di antara yang dapat diperdebatkan adalah pada Piala Dunia 1934 ketika skuad Italia menggunakan enam pemain asing yang lahir di luar Italia, empat di antaranya dari Argentina atau yang dikenal dengan oriundi seperti Luis Monti, Raimundo Orsi, atau Enrique Guaita.

Carlos Bilardo, di Balik Bersinarnya Maradona

Carlos Bilardo memang bukan pelatih yang menemukan atau memperkenalkan pola 3-5-2 dalam sepak bola. Namun, jika ada pelatih yang mampu menggunakan sistem ini dengan cara terbaik, dialah pelatih tersebut. Pola ini yang digunakan Carlos Bilardo saat membawa Argentina juara Piala Dunia 1986 dan mencapai final di Piala Dunia 1990.

Pola ini menggunakan tiga bek tengah dengan Jose Luis Brown sebagai sweeper di belakang dua bek tengah (libero di belakang dua stopper). Lima gelandang dengan dua di antaranya sebagai pemain sayap. Dua pemain depannya adalah Diego Maradona yang bermain sebagai second striker bersama Jorge Valdano sebagai striker.

Banyak yang menilai bahwa Carlos Bilardo, pelatih yang lebih dikenal sebagai pelatih pragmatis, tidak akan sukses tanpa Diego Maradona. Namun, tanpa pilihan pola yang tepat dari Carlos Bilardo, Argentina tidak akan juara di Piala Dunia 1986. Pola 3-5-2 jarang digunakan pada masa itu tapi Carlos Bilardo kemudian menampilkannya kembali, membuat Diego Maradona mendapatkan kebebasan berkreasi.

Strategi ini juga memperlihatkan bagaimana Carlos Bilardo mampu tetap membuat Argentina sebagai tim dengan permainan yang seimbang. Meski memiliki Diego Maradona, tapi Carlos Bilardo tetap membuat Tim Tango ketika itu punya jawaban ketika mereka kehilangan bola (fase bertahan). Dengan strategi ini pula, tercipta Hand of God dan Goal of the Century yang diciptakan Diego Maradona di laga lawan Inggris.

Rinus Michels, Fleksibilitas Total Football

Meski tidak berhasil membuat Belanda juara Piala Dunia 1974, Rinus Michels adalah pelatih yang membawa stategi sepak bola Total Football ke Piala Dunia. Dialah yang membuat pemain harus fleksibel, atau sebut saja bertukar posisi, membuat peran pemain menjadi tidak tetap.

Berbasis pola 4-3-3 namun esensi dari sepak bola Belanda pada Piala Dunia 1974 itu adalah kemampuan para pemain dalam memanfaatkan ruang, tekanan yang intens, pemulihan bola yang cepat. Semua itu membuat pemain bertahan bisa menyerang dan pemain depan membantu pertahanan.

Jika Carlos Bilardo menempatkan Diego Maradona di era depan, Rinus Michels menempatkan Johan Cruyff sebagai playmaker mulai dari lini tengah. Aspek fluidity atau kemampuan dalam permainan yang mengalir, cair, dan berubah-ubah, menjadi penting. Karena faktor-faktor ini yang memperlihatkan keindahan permainan Belanda.

Namun, pola atau strategi ini memiliki kelemahan. Dalam final Piala Dunia 1974, pelatih Jerman Helmut Schon, memberikan tugas kepada gelandangnya yaitu Berti Vogts untuk mengikuti dan membatasi pergerakan Johan Cruyff. Cara ini efektif yang membuat Belanda kesulitan mengembangkan Total Football dalam final tersebut. Konon, sebelum pertandingan, Berti Vogts mengatakan kepada Cruyff: "Johan, kita akan sering bertemu."

Franz Beckenbauer, The Kaiser Sepak Bola Jerman

Seperti gurunya, Franz Beckenbauer pun mengikuti apa yang dilakukan Helmut Schon. Sukses Jerman juara Piala Dunia 1974 dan 1990 memiliki benang merah yang sama: bagaimana membatasi kreativitas permainan lawan dengan mematikan pemain penting mereka.

Menempatkan Franz Beckenbauer sebagai satu dari sejumlah pelatih legendaris dalam sejarah Piala Dunia bukan tentang revoluasi taktik melainkan strategi. Jika Helmut Schon memberikan tugas Berti Vogts mengawal Johan Cruyff, Franz Beckenbauer memberikan tugas tersebut kepada Guido Buchwald yang mengikuti dan membatasi pergerakan Diego Maradona dalam final Piala Dunia 1990.

Banyak yang menilai bahwa final Piala Dunia 1990 adalah final yang paling membosankan namun Franz Beckenbauer menyebutnya sebagai final yang sangat efektif. Kalaupun ada taktik yang dapat dilihat dari kemenangan Jerman di Piala Dunia ini, adalah sistem yang fleksibel dari 3-5-2 menjadi 5-3-2 saat bertahan yang digunakan Jerman Barat.

Yang terlihat adalah statistik yang menyebutkan bahwa Jerman mendominasi dari sejak awal hingga akhir pertandingan. Ditambah dengan data Jerman justru berhasil melepaskan 23 tembakan sementara Argentina hanya satu tembakan. Jika di tahun 1974 Franz Beckenbauer sebagai libero, di Piala Dunia 1990 Der Kaiser menempatkan Klaus Augenthaler memainkan peran tersebut.

Terlepas dari tugas Guido Buchwald, Franz Beckenbauer menempatkan Lothar Matthaus, kapten Jerman saat itu, sebagai gelandang serbabisa yang membuat mereka mendominasi, membangun serangan dari lini tengah. Pola 3-5-2 ini juga efektif dengan Andreas Brehme di sayap kiri dan Thomas Berthold di sayap kanan. Kedua sayap ini konstan dalam menyerang tapi kemudian turun ke belakang membentuk lima bek (5-3-2) saat kehilangan bola.

Pelatih legendaris Timnas Brasil, Mario Zagallo.

Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda



Mario Zagallo, sang Ahli Taktik

Tidak tepat tentunya tanpa menyertakan Brasil. Ya, Mario Zagallo The Tactical Master. Brasil lima kali juara Piala Dunia yaitu pada 1958, 1962, 1970, 1994, dan terakhir 2002. Di antara lima gelar tersebut, 1970 adalah momen Brasil-nya Mario Zagallo yang punya lini serang yang dahsyat. Semua itu karena Mario Zagallo membentuk Five 10s.

Mario Zagallo memilih lima pemain menyerang yang secara konstan dapat bergantian beralih posisi. Lima pemain tersebut adalah Gerson, Rivelino, Jairzinho, Tostao, dan tentu saja Pele. Five 10s ini merupakan kelompok lini serang yang dinamis dan fleksibel. Pertahanan tim lawan belum pernah melihat hal seperti itu sebelumnya.

Secara sederhana, Brasil di Piala Dunia 1970 tersebut bermain dengan lima penyerang. Playmaker di antara lima penyerang ini adalah Gerson. Mario Zagallo memberikan peran kepada Gerson sebagai pemain utama yang memberikan umpan pendek baik dengan pemain di belakangnya atau memberikan umpan panjang kepada pemain yang lebih maju. Dia berkolaborasi menciptakan peluang bagi rekan setim, atau inisiatif melepaskan tembakan.

Pola 4-4-2 awal saat menyerang menempatkan dua bek yaitu Carlos Alberto Torres (kanan) dan Everaldo (kiri) maju ke depan, membangun kerja sama dengan penyerang terdekat. Salah satu contoh adalah gol spektakuler Carlos Alberto Torres ke gawang Italia dalam laga final. Dia tiba-tiba muncul dari sisi kanan mengejar umpan Pele dengan tendangan yang sangat keras. Gol tersebut salah satu gol terbaik dalam Piala Dunia.

Dalam Piala Dunia 1970 ini, setiap pemain dari Five 10s ini mencetak setidaknya satu gol. Namun, mesin gol Brasil di Piala Dunia ini adalah Jairzinho yang mencetak tujuh gol sepanjang turnamen bergulir.