TVRINews - London, Inggris

Pengakuan Rio Ferdinand sejalan dengan pernyataan Steven Gerrard beberapa waktu lalu, yang menggambarkan skuad Inggris saat itu sebagai kumpulan “pecundang egois”. 

Mantan bek Timnas Inggris, Rio Ferdinand, mengungkapkan bahwa hubungan para pemain generasi emas Timnas Inggris era akhir 1990-an hingga awal 2000-an dulu tidak selalu harmonis. Bahkan, ia mengaku sempat memiliki hubungan yang buruk dengan legenda Liverpool, Steven Gerrard, saat sama-sama membela The Three Lions.

Pada era tersebut, Inggris dihuni banyak pemain bintang seperti Frank Lampard, Paul Scholes, hingga Gary Neville. Namun meski dipenuhi talenta kelas dunia, mereka gagal mempersembahkan gelar besar bagi negaranya.

Menjelang Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada 11 Juni-19 Juli, Ferdinand mengakui bahwa rivalitas antarklub terlalu memengaruhi suasana di tim nasional. Persaingan panas antara timnya, Manchester United, dan Liverpool disebut terbawa hingga ke ruang ganti Timnas Inggris.

Dalam wawancaranya dengan The Times yang dikutipThe Sun, Ferdinand berkata: “Steven Gerrard tidak menyukai saya dan saya juga tidak terlalu menyukainya,” kata Ferdinand.

“Ada rasa benci di antara kami dan juga antara tim kami, Manchester United dan Liverpool. Tetapi sekarang kami sudah melupakan semua itu,” pria 47 tahun itu menambahkan.

Steven Gerrard Akui Timnas Inggris Saat Itu Tidak Pernah Menyatu

Pengakuan Ferdinand sejalan dengan pernyataan Steven Gerrard beberapa waktu lalu yang menggambarkan skuad Inggris saat itu sebagai kumpulan “pecundang egois”. Menurut mantan kapten Liverpool tersebut, para pemain terlalu sibuk menjaga ego dan rivalitas masing-masing sehingga gagal membangun chemistry yang kuat.

Dalam podcast The Rio Ferdinand Presents, Gerrard mengatakan: “Saya sekarang melihat Jamie Carragher duduk berdampingan dengan Paul Scholes atau Gary Neville di televisi dan mereka terlihat seperti sahabat selama 20 tahun,” ujarnya.

“Lalu kenapa dulu kami tidak bisa akrab saat berusia 20, 21, 22, atau 23 tahun? Apakah karena ego? Rivalitas? Saya rasa itu karena budaya di Timnas Inggris. Kami tidak pernah benar-benar menyatu,” Gerrard menambahkan.

Gerrard, yang mencatatkan 114 penampilan bersama The Three Lions, juga mengungkapkan bahwa skuad saat itu lebih sering terisolasi selama turnamen. Banyak pemain memilih menghabiskan waktu sendiri di kamar hotel dibanding membangun kebersamaan sebagai tim. “Kami bukan sebuah tim. Kami hanyalah sekumpulan individu berbakat dan itu tidak pernah berhasil,” Gerrard menambahkan.

Ia kemudian memuji mantan pelatih Inggris, Gareth Southgate, yang dianggap berhasil menciptakan suasana lebih solid di dalam skuad. Di bawah Southgate, Inggris memang beberapa kali mencapai semifinal dan final turnamen besar, sesuatu yang gagal diraih generasi Gerrard dan Ferdinand.

“Saya rasa Gareth Southgate kurang mendapat apresiasi atas caranya menyatukan Timnas Inggris," kata Gerrard. “Para pemain kami sebenarnya punya kualitas untuk meraih hasil yang jauh lebih baik dibanding yang kami capai dulu. Salah satu penyesalan terbesar saya adalah kami tidak pernah meraih lebih banyak bersama Inggris,” ujarnya.

Sepanjang karier Gerrard di Timnas Inggris, pencapaian terbaik mereka hanyalah menembus babak perempat final turnamen besar (Piala Eropa 2004, Piala Dunia 2006, dan Piala Eropa 2012). 

Kini, skuad yang juga memiliki julukan Saint George Cross itu justru menjadi salah satu favorit juara Piala Dunia 2026 bersama pelatih anyar asal Jerman, Thomas Tuchel.