TVRINews – Manchester, Inggris

Penambahan jumlah peserta Piala Dunia 2026 berisiko menurunkan antusiasme penonton.

Keputusan FIFA untuk mengubah format Piala Dunia 2026 mengundang kritik. Partisipasi 48 negara dalam pesta sepak bola terakbar sejagat ini dinilai justru mengurangi sisi kompetitif.

FIFA melakukan perubahan format dengan tujuan memberi kesempatan lebih besar bagi negara-negara yang sebelumnya sulit lolos ke Piala Dunia. Akan tetapi, niat baik tersebut membuat turnamen menjadi terlalu panjang, jadwal padat, dan berisiko mengurangi kualitas pertandingan.

Mantan penyerang tim nasional Amerika Serikat, Clint Dempsey, menilai format baru ini mengurangi antusiasme penonton terhadap fase awal turnamen. Menurutnya, persaingan sengit baru akan benar-benar terasa di babak gugur.

"Saya pribadi merasa ini sedikit mengurangi antusiasme dan kualitas turnamen, dan rasanya seperti turnamen sebenarnya baru dimulai saat babak 32 besar," ujar Dempsey, dikutip dari Associated Press, Kamis (21/5/2026).

Penulis sepak bola, Jonathan Wilson, menyebut risiko terbesar dari penambahan jumlah peserta dari 32 menjadi 48 tim adalah hilangnya nilai eksklusivitas Piala Dunia sebagai tontonan. "Pertandingan Piala Dunia seharusnya terasa wajib ditonton," katanya.

Pejabat Asosiasi Pesepak Bola Profesional Inggris, Maheta Molango, juga mengutarakan kritik serupa. Ia menilai sepak bola modern terlalu fokus menambah jumlah pertandingan tanpa memikirkan kualitas yang dihasilkan.

Ia meminta FIFA untuk belajar dari penyelenggaraan NFL di Amerika Serikat. Mereka tidak peduli dengan jumlah pertandingan, namun mampu menghasilkan pendapatan yang sangat besar.

"Kita selalu berpikir bahwa lebih banyak itu lebih baik, tetapi saya tidak setuju. Titik awalnya harus mengembalikan kualitas tontonan sebagai pusat dari proyek sepak bola," tutur Molango.

Selain kualitas pertandingan, jadwal yang semakin padat juga memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi fisik dan mental pemain. Dalam tiga tahun terakhir, banyak pemain top harus menjalani rangkaian turnamen besar tanpa jeda panjang, mulai dari Euro, Copa America, hingga Piala Dunia Antarklub dengan format baru.

Mantan bek Liverpool, Jamie Carragher, menilai pemain top kini diperlakukan terlalu berlebihan demi kepentingan industri sepak bola. Dan ketika performa sang pemain tak maksimal, ia akan banyak mendapat kritik.

"Saya pikir para pemain top diperlakukan sedikit seperti ternak. Jika mereka dikritik karena performa di Piala Dunia, kita harus ingat betapa banyak pertandingan yang mereka mainkan dan bagaimana beratnya tuntutan fisik serta mental yang mereka hadapi," katanya.