TVRINews - Stockholm, Swedia

Pelatih Graham Potter bicara tentang perjalanan bangkit dari kegagalan, kedekatannya dengan Swedia, hingga harapannya terhadap Isak dan Gyokeres di Piala Dunia 2026.

Timnas Swedia kembali tampil di panggung Piala Dunia setelah gagal lolos pada edisi 2022 lalu di Qatar. Perjuangan mereka di Grup F akan dimulai Senin (15/6/2026) pagi WIB melawan Tunisia di Estadio Menterrey, Guadalupe, Meksiko.

Bagi pelatih Swedia, Graham Potter, keberhasilan lolos ke Piala Dunia 2026 terasa sangat spesial. Setelah melewati periode sulit bersama Chelsea dan West Ham di Liga Inggris, pelatih asal Inggris tersebut akhirnya kembali merasakan euforia. Bahkan, pelatih berusia 51 tahun itu menyebut malam saat Swedia memastikan kelolosan ke Piala Dunia 2026 sebagai momen terbaik sepanjang karier kepelatihannya.

Dalam wawancara eksklusif dengan BBC beberapa waktu lalu, Potter bicara tentang perjalanan bangkit dari kegagalan, kedekatannya dengan Swedia yang telah menjadi bagian penting dalam hidupnya, hingga harapannya terhadap Alexander Isak dan Viktor Gyokeres saat memimpin Blagult menghadapi Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

Anda baru saja membawa Swedia lolos ke Piala Dunia 2026 lewat kemenangan dramatis atas Polandia. Seperti apa perasaan Anda saat itu?

Itu mungkin malam terbaik dalam karier saya. Ketika Viktor Gyokeres mencetak gol kemenangan di menit-menit akhir, rasanya seperti pengalaman di luar tubuh saya sendiri. Seluruh stadion bergemuruh, para pemain cadangan berlari ke lapangan, dan suasananya benar-benar luar biasa. Sulit menggambarkan perasaan tersebut dengan kata-kata.

Momen itu datang setelah periode sulit dalam karier Anda di Chelsea dan West Ham. Apakah keberhasilan bersama Swedia terasa lebih spesial?

Tentu saja. Saya pernah mengalami kegagalan dan saya tahu rasanya sangat menyakitkan. Ketika kehilangan pekerjaan, Anda harus menerima kenyataan dan belajar dari pengalaman itu. 

Namun, saya percaya setiap kegagalan membuat Anda menjadi pribadi yang lebih baik. Prinsip itulah yang menguatkan saya. Karena itu, ketika akhirnya merasakan keberhasilan seperti ini di Timnas Swedia, rasanya jauh lebih berarti.

Bagaimana Anda merayakan keberhasilan lolos ke Piala Dunia 2026?

Saya menikmati momen itu bersama staf dan pemain. Tentu ada beberapa minuman untuk merayakan. Namun saya selalu berusaha menjaga perspektif. Dalam sepak bola, Anda tidak pernah sebaik yang orang katakan saat menang, dan tidak pernah seburuk yang orang katakan saat kalah.

Anda dikenal memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Swedia. Seberapa besar negara ini memengaruhi kehidupan Anda?

Sangat besar. Saya bahkan merasa seperti orang Swedia. Saya menghabiskan tujuh tahun yang luar biasa bersama Ostersunds FK. Saya belajar bahasa Swedia, dua anak saya lahir di sana, dan saya memiliki begitu banyak kenangan indah. Bahkan sebelum pertandingan saya ikut menyanyikan lagu kebangsaan Swedia. Saya merasa sangat terhubung dengan negara ini.

Apakah pengalaman melatih dari divisi bawah hingga kasta tertinggi Swedia membantu Anda sebagai pelatih?

Sangat membantu. Saya memulai dari level yang rendah dan harus bekerja keras untuk naik ke Allsvenskan. Pengalaman itu membentuk cara saya melihat sepak bola dan kehidupan. Saya belajar tentang kesabaran, pengembangan pemain, dan pentingnya budaya tim.

Anda juga mendapat ucapan selamat dari legenda Swedia, Zlatan Ibrahimovic. Bagaimana tanggapan Anda?

Itu menyenangkan. Zlatan adalah salah satu ikon terbesar Swedia. Mendapat pesan darinya tentu menjadi sesuatu yang spesial bagi saya dan tim.

Dalam Piala Dunia nanti, Swedia akan mengandalkan Alexander Isak dan Viktor Gyokeres. Apa harapan Anda terhadap keduanya?

Mereka adalah pemain yang berbeda dan itu menguntungkan kami. Gyokeres memiliki musim yang fantastis, sementara Isak tetap menjadi pemain berkualitas tinggi meski sempat terganggu cedera. Saya yakin keduanya bisa memberikan kontribusi besar jika bermain dengan percaya diri dan menikmati sepak bola mereka.

Apa target Swedia di Piala Dunia 2026?

Kami ingin tampil kompetitif dalam setiap pertandingan. Kami tahu tantangan di grup tidak mudah, tetapi kami datang dengan keyakinan. Lolos ke Piala Dunia 2026 adalah pencapaian besar, tetapi kami tidak ingin berhenti sampai di situ.

Terakhir, apa arti Piala Dunia bagi Anda secara pribadi?

Saya masih ingat menonton Diego Maradona di Piala Dunia 1986 saat berusia 11 tahun. Itulah salah satu momen yang membuat saya jatuh cinta kepada sepak bola. Sekarang bisa berada di panggung yang sama sebagai pelatih adalah sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.