Mantan pemain Timnas Inggris, Steve Hodge, dan kaus Hand of God Diego Maradona. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - London, Inggris
Steve Hodge tanpa sengaja yang memberikan umpan bagi terciptanya gol kontroversial Diego Maradona di Piala Dunia 1986.
Steve Hodge memberikan "asis" lalu mendapatkan jersei Diego Maradona. Gol Hand of God atau gol Tangan Tuhan Diego Maradona yang terkenal dan kontroversial di perempat final Piala Dunia 1986 tidak akan terjadi kalau saja Steve Hodge tidak mengarahkan bola ke belakang. Namun, upayanya untuk mengamankan bola tersebut justru menjadi salah satu bagian yang membuat terciptanya gol kontroversial Diego Maradona ke gawang Inggris.
Gol The Hand of God salah satu gol yang sangat terkenal dalam sejarah Piala Dunia, sekaligus juga gol kontroversial. Karena gol inilah, Inggris kalah 1-2 dari Argentina dalam perempat final yang bergulir di Stadion Azteca, 22 Juni 1986 pada Piala Dunia 1986 yang digelar di Meksiko.
Steve Hodge dalam laga tersebut bermain sebagai gelandang kiri dengan mengenakan nomor 18 di punggungnya. Inggris berhasil ke perempat final setelah tim asuhan Bobby Robson ini menang atas Paraguai di 16 besar.
Gol kontroversial tersebut juga menjadi salah satu momen kelam dalam sejarah sepak bola Inggris di Piala Dunia. Mereka seperti "dirampok" oleh gol tersebut karena Diego Maradona mencetak gol di menit ke-51 itu dengan tangannya saat mencoba seolah-olah menanduk bola yang mengarah kepada kiper The Three Lions saat itu, Peter Shilton.
Yang menarik, Diego Maradona saat itu memanfaatkan bola hasil tendangan Steve Hodge. Tanpa disadari, Steve Hodge yang memberikan umpan kepada Diego Maradona untuk mencetak gol dengan tangannya. Steve Hodge mencoba menghentikan penguasaan bola Valdano tetapi, alih-alih menghalau bola, ia memutuskan untuk mencoba mengoper bola ke belakang kepada kipernya, Peter Shilton.
Pada saat itu, peraturan masih membolehkan kiper menerima umpan dari rekan setimnya dengan tangan. Tujuan Steve Hodge adalah Peter Shilton dapat menangkap bola. Namun demikian, Diego Maradona memanfaatkan kesempatan itu. Dia berlari melompat lalu mencetak gol dengan tinjunya untuk mengubah skor dari 0-0 menjadi 1-0.
“Saat bola masuk, saya berpikir dalam hati, ‘Ya Tuhan, apa yang telah kau lakukan?’” Steve Hodge mengenang, seperti yang disampaikan kepada FIFA. “Dari tendangan saya, sedetik kemudian, bola sudah berada di gawang kami. Saya melihat segumpal rambut hitam, benturan, dan bola memantul masuk. Orang-orang mengangkat tangan mereka ke udara. Itu tampak salah. Dalam lima detik, dia sudah berada di dekat bendera sudut merayakan gol. Anda tahu itu akan sah. Dalam sepuluh detik, Anda harus melanjutkan pertandingan.”
Itu menjadi momen bersejarah dalam sepak bola. Pemain Timnas Inggris sempat protes kepada wasit Ali Bin Nasser (Tunisia) namun demikian wasit mengesahkan gol tersebut. Seperti diketahui, hanya empat menit kemudian, Diego Maradona mencetak gol kedua yang dikenal dengan Goal of the Century atau Gol Terbaik Abad Ini. Sementara satu-satunya gol Inggris saat itu diciptakan Gary Lineker di menit ke-81.
Momen mendapatkan kaus Diego Maradona menjadi salah satu juga tidak dia lupakan. "Setelah wawancara, saya pergi ke ruang ganti di belakang gawang,” kata Steve Hodge. “Saat saya turun, Maradona sedang berjalan bersama dua rekan setimnya. Saya menatap matanya, menarik kaus saya seolah-olah berkata 'ada kemungkinan bertukar?', dan dia langsung datang, memberi isyarat berdoa, dan kami bertukar kaus. Dan itu saja. Sesederhana itu."
“Saya pikir, saya tidak akan berada di sini lagi. Saya akan mencoba mendapatkan kaus,” kata Steve Hodge. “Saya menjabat tangan Maradona. Dia dikerumuni oleh rekan-rekan setimnya."
“Tidak ada yang istimewa tentang itu. Itu hanya pertemuan di bawah lapangan. Saya pergi, begitu juga dia, dan saya hanya memasukkan kaus ke dalam tas dan selesai.” Namun demikian, Steve Hodge mengakui bahwa dia sebenarnya sama sekali tidak mengetahui bahwa Diego Maradona mencetak gol dengan cara yang curang.
“Jika saya tahu apa yang terjadi, saya tidak akan bertukar kaus dengannya,” kata Steve Hodge. “Saya pikir saya akan merasa marah jika itu terjadi, jelas ada kecurangan. Dia salah dalam apa yang dia lakukan. Dia seharusnya mengakuinya setelah pertandingan. Saya tidak bisa menyalahkan siapa pun. Tidak ada yang bisa mengubah apa yang terjadi. Itulah pola pikir saya. Kita tersingkir, ayo pulang. Anda bisa mengeluh sampai kapan pun, itu tidak masalah.”
Selama lebih dari 35 tahun, jersei tersebut tetap berada di tangan Steve Hodge. Dia sempat meminjamkan kaus tersebut untuk dipajang di Museum Sepak Bola Nasional di Manchester, sebagai pinjaman jangka panjang. Bahkan, Steve Hodge juga menulis otobiografi berjudul The Man with the Maradona Shirt.
Setelah kematian Maradona pada tahun 2020, Steve Hodge menerima banyak tawaran untuk menjual kaus tersebut. Awalnya, ia bersikeras bahwa kaus itu tidak untuk dijual, dengan alasan nilai sentimental dan sejarah yang sangat besar. Namun, pada tahun 2022, ia memutuskan untuk melelangnya. Pada 4 Mei 2022, kaus tersebut terjual dengan harga fantastis 7,1 juta pounds (saat itu sekitar Rp137 miliar), tersejual kepada seorang pembeli yang identitasnya disembunyikan.