TVRINews - Rio de Janeiro, Brasil

Skandal memalukan yang dilakukan Cili di Stadion Maracana nyaris membuat Brasil gagal lolos ke Piala Dunia 1990.

Piala Dunia menyimpan banyak cerita. Kegembiraan, kesedihan, sampai kepada skandal. Bahkan demi Piala Dunia, seorang pemain menyayat dahinya, menciptakan drama sendiri agar timnya bisa lolos, tampil dalam turnamen terbesar sepak bola dunia.

Pemain tersebut adalah Roberto Rojas, kiper Cili yang sudah memiliki nama bahkan menjadi pemain yang disukai fans klub Sao Paulo. Roberto Rojas membawa Sao Paulo juara Campeonato Paulista dua kali, 1987 dan 1989.

Roberto Rojas menjadi bagian dari skandal Timnas Cili yang berupaya untuk membawa negerinya lolos dengan cara curang. Karena cara licik ini pula, Timnas Brasil nyaris tidak lolos ke Piala Dunia 1990. Rencana jahat itu tidak berhasil. Sebaliknya, Cili dapat sanksi sedangkan Roberto Rojas dihukum tidak boleh aktif bermain seumur hidup.

Skandal itu terjadi pada 3 September 1989 di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, antara Brasil dan Cili. Ya, Maracana pernah meninggalkan trauma bagi Brasil ketika kalah dari Uruguai dengan cara yang menyakitkan pada final Piala Dunia 1950.

Namun, dalam momen ini Maracana berpihak kepada Brasil dan memperlihatkan kebenaran tentang apa yang terjadi. Kebenaran itu terungkap karena adanya peran fotografer yang merekam momen saat Roberto Rojas tergeletak di lapangan di dekat gawangnya.

Pertandingan tersebut memperebutkan tiket lolos ke Piala Dunia 1990. Laga ini merupakan laga terakhir kualifikasi. Pemenangnya, apakah itu Brasil atau Cili akan lolos ke Piala Dunia yang akan digelar di Italia.

Ketika laga 20 menit akan berakhir, Brasil dalam posisi unggul 1-0. Hasil imbang juga cukup membawa Brasil lolos ke Piala Dunia 1990. Namun, seketika situasinya berubah. Ketika pemain Cili menguasai bola di setengah lapangan, di jantung pertahanan mereka, Roberto Rojas terlihat tergeletak di lapangan.

Saat itu pula sudah diduga bahwa kiper Timnas Cili tersebut terkena lemparan flare. Apalagi, di sekitarnya juga tampak kepulan asap hanya beberapa inci dari tempatnya terjatuh.

Beberapa pemain Cili kemudian segera menghampiri rekan setimnya itu. Hal yang sama juga dilakukan para bintang Timnas Brasil seperti Bebeto, Dunga, dan Careca. Pemain Cili kemudian dengan nada emosi berteriak memanggil tim medis untuk memeriksa kondisi Roberto Rojas.

Dengan darah yang masih ada di kepalanya, Roberto Rojas kemudian dibawa meninggalkan lapangan, hingga ke lorong ruang ganti. Setelah beberapa menit pertandingan tertunda, pemain Cili kemudian menolak untuk meneruskan pertandingan.

Wasit pemimpin pertandingan kemudian memutuskan laga dihentikan. Ketika itu pula, kekhawatiran pun dirasakan pemain Brasil. Mereka terancam akan tereleminasi karena peristiwa ini.

"Saya sangat ketakutan, saya menyadari kami akan kehilangan kesempatan tampil di Piala Dunia. Itu sesuatu yang sangat buruk," kata kapten Timnas Brasil saat itu, Ricardo Gomes, mengingat momen itu dan menyatakannya kepada CNN.

Situasi tidak terkendali itu berlangsung cukup lama. Saat itu tidak ada kamera televisi yang merekam kembang api yang diarahkan ke pertahanan Cili yang kemungkinan mengenai kepala Roberto Rojas. Namun demikian, ada seorang fotografer, Paulo Teixeira, yang saat itu juga berada di sisi lapangan bersama fotografer lainnya yang bertugas di laga tersebut.

"Kami para fotografer duduk bersama di sisi lapangan dan melihat kembang api jatuh ke lapangan. Saya tertegun saat melihat Roberto Rojas berguling-guling dengan daerah mengalir di daerah matanya, sementara benda (flare) jatuh ke tanah hanya sekitar satu meter dari dirinya," kata Paulo Teixeira, menggambarkan situasinya.

Paulo Teixeira menyatakan bahwa dirinya melewatkan momen tersebut sehingga tidak merekam dengan kameranya. Begitu juga fotografer lainnya. Meski demikian, ada satu fotografer yang mengambil momen ketika kembang api jatuh ke arah pertahanan Cili.

"Ada satu teman yang berada di samping saya, Ricardo Alfieri, dia teman yang baik. Lalu saya bertanya kepadanya: 'Ricardo, apakah kamu menangkap (memfoto) kembang api itu?' Dia menjawab: 'Tentu saja, ada 4-5 kali foto.'"

Saat itulah, Paulo Teixeira menyadari pentingnya foto-foto tersebut. Namun demikian, di masa tersebut ketika kamera masih harus diproses yang membutuhkan waktu menjadi tantangan dan kesulitan tersendiri.

Apalagi, Ricardo Alfieri juga punya masalah tentunya. Dia fotografer yang bekerja di sebuah majalah Jepang dan harus mengirimkan film dari hasil fotonya ke Tokyo. Sedangkan majalah Jepang hanya akan memproses film tersebut di lab mereka.

Dengan situasi tersebut, Paulo Teixeira pun mengatakan kepada rekannya itu. "Dengar, kamu satu-satunya yang memiliki bukti ketika Roberto Rojas tergeletak di tanah. Saya tidak akan membiarkan kamu meninggalkan negeri saya dengan film yang tidak diproses," kata Paulo Teixeira.

Namun, waktu tersebut menjadi sangat krusial bagi Timnas Brasil. Paulo Teixeira kemudian melihat media dari radio. Saat itulah, Paulo Teixeira mengatakan kepada reporter tersebut bahwa Ricardo memiliki foto-foto peristiwa tersebut.

"Reporter radio itu kemudian menjadikan Ricardo sebagai nara sumber dan dalam laporan live. Saat itu pula, atmosfer berubah dan Brasil memiliki bukti terkait peristiwa yang terjadi," kata Paulo Teixeira.

Semua foto-foto tersebut menjadi bukti yang memperkuat bahwa tidak ada flare atau kembang api yang mengenai Roberto Rojas. Dalam penelusuran, sudah terungkap fan yang melempar kembang api. Namun, saat itu, yang menjadi persoalan adalah darah di kepala Roberto Rojas, masih menjadi misteri.

Foto-foto tersebut yang sudah diproses di lab Brasil, dibawa oleh Presiden Sepak Bola Brasil, Ricardo Teixeira, ke kantor FIFA yang berada di Swis. Upaya tersebut untuk menguatkan bahwa tidak ada bukti Roberto Rojas terkena lemparan benda dari tribun.

Pengakuan Roberto Rojas

Misteri darah di kepala Roberto Rojas akhirnya terungkap beberapa hari kemudian setelah dia diinterogasi. Dalam pengakuan, Roberto Rojas menyatakan bahwa dia menyembunyikan pisau cukur di sarung tangannya menjelang pertandingan. Pisau itu untuk melukai dirinya jika memang diperlukan.

Jadi, bayangkan seorang pemain profesional telah memutuskan sebelum pertandingan kualifikasi Piala Dunia, mempersiapkan pisau cukur untuk melukai dirinya sendiri.

"Saya melukai diri sendiri dengan pisau cukup dan sandiwara itu akhirnya terungkap," kata Roberto Rojas dalam wawancaranya dengan La Tercera, yang memuat kisah ini di halaman depan dengan judul yang memiliki arti "Saya Bersalah!".

Roberto Rojas menyatakan bahwa dia mendapatkan bantuan saat menyelipkan pisau cukur tersebut ke dalam sarung tangannya. "Saya 'memotong' harga diri saya," kata Roberto Rojas mengibaratkan.

Sandiwara atau rencana tersebut, bukan hanya dirinya tapi juga sudah terencana. Pelatih Cili, Orlando Aravena, dan dokter tim Cili, Daniel Rodriguez, juga terlibat. Yang juga mengejutkan, ini sudah direncanakan dalam latihan di kamp. Intinya, jika situasi tidak berpihak kepada Cili, rencana "pisau cukur" ini yang akan digunakan.

FIFA kemudian memberikan Brasil kemenangan 2-0. Sedangkan Cili, selain tidak dapat tampil di Piala Dunia 1990, mereka juga dijatuhi sanksi tidak dapat tampil di Piala Dunia selanjutnya, yaitu Piala Dunia 1994.

Presiden Federasi Sepak Bola Cili, Sergio Stoppel, dan kapten Fernando Astengo, juga mendapatkan hukuman dari FIFA. Namun, Fernando Astengo menyanggah dirinya terlibat. Roberto Rojas menyatakan bahwa dirinya melakukan itu demi Cili. Dia juga beralasan bahwa dalam beberapa momen sepak bola Cili dirugikan.

Hingga kini, skandal tersebut menjadi sisi kelam dari sepak bola Cili sekaligus juga memalukan. Publik sepak bola Brasil memaafkan apa yang dilakukan Roberto Rojas. Hingga waktu berlalu dan FIFA mencabut hukuman seumur hidup terhadap Roberto Rojas pada 2001 silam.