TVRINews - Miami, Amerika Serikat

Meski tersingkir, Bubista menutup perjalanan timnya dengan rasa bangga luar biasa atas perjuangan para pemainnya yang tampil melampaui ekspektasi.

"Cerita Cinderella" Tanjung Hijau di Piala Dunia 2026 harus terhenti secara dramatis setelah kalah 2-3 dari Argentina lewat babak perpanjangan waktu pada laga 32 besar, Jumat (3/7/2026) waktu setempat. 

Meski tersingkir, pelatih Bubista menutup perjalanan timnya dengan rasa bangga luar biasa atas perjuangan para pemainnya yang tampil melampaui ekspektasi.

Tanjung Hijau, yang berperingkat 67 dunia, menjadi salah satu kejutan terbesar turnamen ini. Mereka sebelumnya menahan imbang dua mantan juara dunia, Spanyol dan Uruguai, di fase grup, sebelum akhirnya memaksa Argentina bermain hingga 120 menit penuh dalam laga yang sangat ketat.

Usai pertandingan, Bubista tidak bisa menyembunyikan emosi ruang ganti yang dipenuhi kesedihan sekaligus kebanggaan.

“Perasaan di ruang ganti adalah kesedihan. Kami sedih, tentu saja, kami sedih karena kami harus meninggalkan kompetisi dan karena kami sangat dekat, sangat dekat dengan hasil yang berbeda,” kata Bubista dikutip dari Reuters, Sabtu (4/7/2026)

“Meski mereka sedih, para pemain saling berpelukan, mereka menangis. Ini bagian dari proses tumbuh. Ini membantu kami berkembang, dan juga menunjukkan bahwa tim ini punya jiwa,” Bubista menambahkan.

Pelatih berusia 56 tahun itu juga menegaskan bahwa performa timnya sepanjang 120 menit melawan juara dunia merupakan sumber kebanggaan besar bagi seluruh negara kepulauan tersebut.

“Saya merasa bangga kepada para pemain saya dan apa yang mereka lakukan. Mereka melakukannya dengan martabat dan keberanian,” ujarnya.

“Saya pikir Argentina menunjukkan mengapa mereka juara dunia. Tapi saya juga bisa mengatakan tim kami menunjukkan seberapa besar keinginan mereka untuk bermain di laga ini,” ucap Bubista.

Pria bernama lengkap Pedro Leitao Brito itu bahkan menilai bahwa tidak banyak tim yang mampu memberikan perlawanan seketat Tanjung Hijau kepada Argentina.

“Saya tidak berpikir tim lain bisa mencetak dua gol ke gawang Argentina dan membawa pertandingan hingga perpanjangan waktu. Itu menunjukkan karakter dan kualitas tim kami,” ia menambahkan.

Sepanjang turnamen, Bubista menekankan bahwa perjalanan Tanjung Hijau bukan hanya soal sepak bola, tetapi juga tentang identitas sebuah negara kecil yang ingin dikenal dunia.

“Lebih dari sekadar bermain, ini tentang menunjukkan identitas kami kepada dunia. Kami ingin bermain melawan tim terbaik di dunia dan kami melakukannya dengan cara yang benar,” katanya.

“Kami bermain dengan adil dan tetap berada pada level yang setara dengan lawan kami. Semua orang seharusnya berterima kasih kepada para pemain atas turnamen ini, karena mereka menunjukkan seperti apa negara kecil kami sebenarnya," ia menambahkan

Meski langkah mereka terhenti, Tanjung Hijau meninggalkan turnamen dengan reputasi baru sebagai tim yang disiplin, berani, dan sulit dikalahkan.