Bek Timnas Inggris, Trevoh Chalobah. Foto:
TVRINews - Kansas City, Amerika Serikat
Keberadaan Chalobah di skuad Piala Dunia Inggris merupakan buah dari ketangguhan mentalnya melewati berbagai cobaan karier sepak bola.
Kisah unik ini bermula saat Trevoh Chalobah sedang asyik berjalan-jalan menikmati suasana riuh di Times Square, New York. Ponsel di sakunya mendadak menyala, membawa sebuah kabar gembira yang sebenarnya sudah ia impikan sejak masih kecil.
Sayangnya, karena terlalu larut dalam suasana liburan, Chalobah sama sekali tidak menyadari adanya panggilan masuk tersebut. ia bahkan melewatkan panggilan telepon penting itu hingga durasi dua jam lamanya.
Panggilan yang terabaikan itu rupanya berasal dari pelatih tim nasional Inggris, Thomas Tuchel. Lewat sebuah pesan teks singkat, Tuchel menulis sebuah pertanyaan sederhana, "Apakah Anda ada waktu untuk menelepon?," dikutip dari Daily Mail.
Begitu menyadari ada pesan penting dari sang pelatih, Chalobah yang sedang menikmati masa liburannya langsung bergerak cepat. Tanpa berpikir panjang, ia segera melakukan panggilan video melalui aplikasi FaceTime untuk menghubungi Tuchel kembali.
Tuchel menghubungi Chalobah karena tim nasional Inggris sedang berada dalam situasi darurat setelah Tino Livramento mengalami cedera betis yang cukup parah. Mantan bosnya di Chelsea itu tersenyum lebar di layar ponsel sambil menanyakan kesiapannya untuk segera terbang membela negara.
Chalobah langsung memberikan jawaban "ya" yang sangat mantap tanpa ada keraguan sedikit pun di dalam hatinya. Kebetulan, selama berada di Amerika Serikat, ia tetap rutin menjaga kebugaran fisiknya bersama seorang pelatih pribadi di sebuah fasilitas olahraga.
Sesuai rencana awal, Chalobah sebenarnya baru akan mulai berlatih menggunakan bola saat liburannya bergeser ke Los Angeles. Namun, rencana perjalanan santai ke pantai barat tersebut dengan gembira langsung ia batalkan demi tugas negara di Piala Dunia 2026.
Begitu Tuchel memintanya untuk segera merapat ke wilayah Midwest, Chalobah langsung dihadapkan pada masalah logistik yang cukup menggelikan. Ia harus buru-buru menghubungi pihak sponsor agar segera mengirimkan sepatu sepak bola baru karena tidak membawa perlengkapan bertanding sama sekali.
"Saya masih mencoba untuk mendapatkan uang saya kembali," kata Chalobah sambil tertawa lepas ketika ditanya nasib biaya hotelnya di Los Angeles.
"Saya benar-benar tidak menyangka akan mendapat panggilan ini sehingga jantung saya rasanya seperti mau copot."
"Saya langsung menelepon keluarga dan agen saya setelah panggilan itu selesai. Saat itu masih sangat pagi di sana, jadi saya mengirim pesan kepada agen saya dan berkata 'bangun, bangun' sampai-sampai dia mengira saya sedang berada dalam masalah besar atau semacamnya!" Chalobah mengenang momen panik tersebut.
Bagi Chalobah, momen yang datang secara tiba-tiba tersebut justru terasa sangat indah dan bermakna mendalam bagi perjalanan kariernya. Ia merasa kerja kerasnya selama ini akhirnya membuahkan hasil manis di saat yang sama sekali tidak diduga.
"Saya pikir itulah keindahan dari semua ini, ketika Anda tidak mengharapkannya dan mendapatkan panggilan seperti itu. Hal ini menunjukkan bahwa ketika Anda berpikir semuanya telah hilang atau tidak akan pernah terjadi, twit yang pernah saya kirimkan dahulu akhirnya menjadi kenyataan," ujar Chalobah menceritakan perasaannya.
Twit yang dimaksud oleh pemain berusia 26 tahun itu adalah sebuah unggahan lama pada Juli 2018 silam. Saat itu, ia baru saja memulai masa peminjamannya di klub kasta bawah, Ipswich Town.
Dalam unggahan tersebut, Chalobah memajang foto trofi legendaris Piala Dunia dengan sebuah kalimat penyemangat yang sangat singkat. "Suatu hari nanti, percayalah," tulisnya yang kini menjelma menjadi sebuah ramalan yang sangat akurat.
Dalam skuad besutan Tuchel, Chalobah sudah diberi tahu harus berjuang ekstra keras di lini belakang. Ia diproyeksikan untuk bersaing memperebutkan satu posisi di sektor bek tengah sebelah kanan.
Tantangannya jelas tidak mudah karena posisi tersebut saat ini sudah diisi oleh nama-nama beken seperti Ezri Konsa dan John Stones. Sementara itu, untuk posisi bek tengah sebelah kiri, Tuchel lebih memercayakannya kepada Marc Guehi.
Meski persaingan di dalam lapangan sangat ketat, hubungan Chalobah dengan rekan-rekan di tim nasional Inggris sebenarnya terjalin sangat akrab. Ia bahkan sempat bermain padel bersama Ivan Toney dan berhasil mengalahkan Ezri Konsa di satu-satunya lapangan yang ada di wilayah tersebut.
Bagi Chalobah, menjadi bagian dari skuad Piala Dunia 2026 adalah sebuah pencapaian yang sangat emosional. Maklum saja, perjalanan karier sepak bolanya selama ini memang lebih sering diwarnai oleh berbagai rintangan dan kritikan tajam.
Publik tentu masih ingat bagaimana Chalobah sempat disia-siakan oleh Chelsea dalam beberapa bursa transfer musim panas terakhir. Momen yang paling menyakitkan adalah saat manajer Enzo Maresca memutuskan untuk membuangnya ke Crystal Palace dengan status pinjaman.
"Saya mencintai karier saya dan saya mencintai apa yang telah saya lewati. Berada di posisi ini menunjukkan bahwa saya kuat menghadapi segala penilaian sebelah mata yang ditujukan kepada saya," ungkapnya.
"Semua ini bukan hanya bagian dari sepak bola, melainkan proses menjalani hidup sebagai seorang manusia. Perjalanan ini tidak akan pernah berjalan mulus begitu saja, tetapi saya sangat menikmati setiap menitnya," ia melanjutkan.
Selain itu Chalobah juga menegaskan sangat memahami kualitas dan potensi besar yang ada di dalam dirinya. Maka dari itu, ia siap berjuang untuk membantu skuad Inggris melangkah jauh di Piala Dunia 2026.
"Saya tahu kualitas pemain seperti apa diri saya, seberapa jauh saya telah melangkah, dan apa saja yang telah saya lewati, jadi saya tidak akan membiarkan momen-momen sulit itu mendefinisikan siapa diri saya yang sebenarnya karena saya memiliki iman tersebut," ucapnya.
Memang Chalobah selalu menemukan sentuhan terbaiknya saat diasuh Tuchel. Itulah mengapa banyak pihak menilai ia sangat tidak beruntung ketika namanya sempat dicoret dari daftar awal skuad tim nasional Inggris.
Peluangnya untuk tampil di turnamen empat tahunan ini bahkan sempat dianggap sudah tertutup rapat beberapa bulan lalu. Penyebabnya karena ia menderita cedera pergelangan kaki yang cukup parah saat membela klubnya di Liga Champions.
Akibat cedera tersebut, Chalobah terpaksa melewatkan pertandingan persahabatan internasional yang sangat krusial pada Maret lalu. Namun, nasib baik rupanya masih berpihak pada sang pemain lewat jalan yang tidak pernah diduga sebelumnya.
Chalobah sendiri terpantau sudah mengikuti sesi latihan perdana bersama skuad Tiga Singa di markas latihan yang berada di Kansas City. Setelah proses adaptasi cuaca berjalan lancar, ia merasa sangat yakin bisa memberikan kontribusi besar untuk negaranya.
"Thomas adalah orang yang sangat menyenangkan. Di Chelsea dia adalah sosok yang sangat menuntut, namun hal itulah yang pada akhirnya sangat membantu perkembangan karier saya," puji Chalobah kepada sang pelatih.
Tak ada hambatan komunikasi di antara mereka berdua karena selalu berjalan dengan sangat santai dan penuh dengan candaan. Hubungan emosional yang sehat itu diakui sangat membantu Chalobah untuk cepat beradaptasi dengan taktik yang diinginkan Tuchel.
"Kami memiliki hubungan yang sangat menyenangkan, sering bercanda, dan saya sangat menyukai dinamika tersebut. Kami selalu memiliki hubungan yang spesial karena dialah orang yang memberikan saya kesempatan debut pada musim pembuka saya di Chelsea tahun 2021, sehingga kami selalu memiliki ikatan emosional yang sangat kuat," tuturnya.