TVRINews - London, Inggris

Melihat perubahan permainan Timnas Inggris dengan skema 4-2-3-1 menjadi 3-2-5 saat menyerang.

Piala Dunia 2026 akan tergelar kurang dari dua bulan lagi. Turnamen yang akan bergulir di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini bisa menjadi Piala Dunia-nya Inggris. Setelah 60 tahun penantian sejak terakhir kali juara pada 1966, The Three Lions kini memiliki posisi lebih kuat sebagai salah satu kandidat peraih gelar dibandingkan dengan Piala Dunia sebelumnya.

Jika melihat rapor The Three Lions sepanjang kualifikasi zona Eropa Piala Dunia 2026, Inggris memiliki catatan yang sangat mengesankan. Delapan pertandingan kualifikasi, delapan kemenangan, mencetak 22 gol dan tanpa kemasukan satu gol pun.

Rapor sempurna ini tentu diraih bukan karena kebetulan, melainkan karena sistem yang telah dibangun oleh pelatih yang sejak Januari 2025 lalu resmi menangani Harry Kane dan kawan-kawan: Thomas Tuchel.

Namun, Inggris mengalami hasil minim di dua laga terakhir yang merupakan laga uji coba. Mereka bermain imbang 1-1 melawan Uruguai pada 27 Maret lalu, diikuti dengan kekalahan 0-1 dari Jepang.

Dua hasil tersebut diraih Inggris bukan dengan kekuatan sebenarnya. Sejumlah pemain penting seperti Declan Rice, Bukayo Saka, atau John Stones dicoret dari skuad karena mengalami cedera. Thomas Tuchel juga mengistirahatkan Harry Kane di dua laga tersebut karena cedera ringan dan dalam kondisi yang tidak fit.

Kekalahan tersebut hanya menjadi evaluasi bagi Thomas Tuchel ketimbang melihatnya sebagai sebuah persoalan besar jelang Piala Dunia 2026 ini. "Eksperimen yang gagal ketika Inggris tanpa Harry Kane" demikian pers Inggris, BBC, mengomentari kekalahan Inggris tersebut.

Inggris tidak akan sama tanpa Harry Kane. Thomas Tuchel pun tidak ingin berada dalam situasi tersebut. "Tanpa Harry Kane jelas situasi yang tidak diinginkan setiap fans Inggris. Kami membicarakan kemungkinan (kekhawatiran) itu sepanjang tahun," kata mantan kiper Inggris, Paul Robinson.

"Ini juga situasi yang tidak diinginkan skuad Inggris dan Thomas Tuchel. Dia tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan seperti itu," Paul Robinson menambahkan.

Namun, sisi positifnya, Thomas Tuchel dapat melihat gambaran bagaimana Inggris tanpa Harry Kane, tanpa Declan Rice, dan pemain regular lainnya. Itu kali pertama dari 12 laga Inggris asuhan Thomas Tuchel bermain tanpa kapten mereka.

Namun, Inggris bersama Thomas Tuchel bukan tentang Harry Kane melainkan bagaimana pelatih asal Jerman ini memberikan perbedaan permainan, sistem atau pola, dan cara The Three Lions bermain.

Dari 4-2-3-1 ke 3-2-5

Sejak menangani Inggris, Thomas Tuchel menggunakan pola 4-2-3-1 dan 4-3-3. Hanya ada satu pola yang berbeda yaitu 4-1-4-1 dan itu diterapkan di laga lawan Uruguai yang berakhir imbang.

Dalam laga tersebut, Thomas Tuchel menempatkan Jordan Henderson di depan empat bek, dan Dominic Solanke sebagai penyerang satu-satunya dengan dukungan Marcus Rashford, James Garner, Phil Foden, dan Noni Madueke.

Ya, mudah melihat bahwa itu bukan wajah Inggris sebenarnya. Untuk melihat kekuatan The Three Lions yang paling mendekati adalah ketika menang 2-0 atas Serbia dalam kualifikasi, 13 November 2025 lalu.

Jordan Pickford di bawah mistar, empat bek adalah Reece James (bek kanan), Ezri Konsa, John Stones (bek tengah), dan Nico Oreilly (bek kiri). Declan Rice dan Elliot Enderson sebagai gelandang di lapangan tengah. Marcus Rashford, Morgan Rogers, dan Bukayo Saka sebagai gelandang serang di belakang Harry Kane.

Untuk posisi penyerang sayap kiri yang ketika itu diberikan kepada Marcus Rashford, tempat itu kemungkinan juga akan diberikan kepada Anthony Gordon. Inilah kemungkinan starting XI Inggris untuk Piala Dunia 2026 nanti.

Di atas kertas, formasi 4-2-3-1 itu yang menjadi awal Inggris asuhan Thomas Tuchel dalam membangun serangan. Dalam prakteknya, ketika pertandingan berjalan terjadi perubahan. Bek kanan maju ke depan yang kemudian membuat pertahanan Inggris memiliki formasi tiga bek.

Dengan situasi tersebut, Inggris sudah memiliki lima pemain di sepertitiga akhir lapangan (lini depan) dengan skema 3-2-5. Pola ini memberikan Inggris memiliki keunggulan dalam jumlah pemain di zona tersebut, membuat tekanan lebih besar bagi pertahanan lawan.

Cara seperti ini terlihat di sejumlah klub yang pernah di bawah kepelatihan Thomas Tuchel seperti di Borussia Dortmund, Paris Saint-Germain, atau di Chelsea. Sistem yang memiliki kekuatan dalam fase bertahan namun berubah total saat menguasai bola. Dengan cara atau sistem ini, tuntutan terhadap pemain menjadi sangat besar.

Duet di lapangan tengah, Elliot Anderson (Nottingham Forest) dan Declan Rice (Arsenal) contoh bagaimana Thomas Tuchel memberikan tugas yang sama ketika keduanya bermain di level klub. Elliot Andersen sebagai gelandang bertahan yang disiplin dan memiliki umpan akurat yang melindungi pertahanan dan menciptakan kembali penguasaan bola.

Sedangkan Declan Rice sebagai pemain serba bisa yang mampu menembus pertahanan lawan dan sebagai pemain alternatif yang membuat kejutan di momen tertentu seperti peran box-to-box. Kemungkinan besar, dengan cara inilah Inggris akan menghadapi pertarungan di Piala Dunia 2026.


Pola 3-2-5 Timnas Inggris saat menyerang.

Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi

Dari pola 4-2-3-1 dari skema awal yang digunakan, Timnas Inggris akan berubah menjadi 3-2-5 ketika melakukan serangan. Menempatkan lima pemain di lini depan.

1 = Bek kanan yang akan maju ke depan membuat Inggris memiliki lima pemain yang menekan pertahanan lawan. Posisi atau peran ini akan diberikan kepada Reece James, bek kanan yang sudah dikenal sangat kuat dalam menyerang. Reece James akan kembali ke posisinya sebagai bek kanan dalam situasi bertahan.
2 = Fungsi yang sama juga bisa dilakukan oleh pemain ini. Nico O'Rielly kemungkinan menempati posisi tersebut. Namun, dia akan lebih banyak berfokus kepada pertahanan dengan tiga bek di pertahanan.
3 = Gelandang bertahan yang memiliki peran menjaga keseimbangan lini tengah. Dia dapat menjadi pemain bertahan ketika Inggris tanpa bola, namun memulai serangan setelah menguasai bola. Peran ini akan diberikan kepada Elliot Anderson.
4 = Pemain yang akan memberikan kekuatan serangan dari lini tengah. Declan Rice akan memiliki ruang lebih besar di Timnas Inggris untuk maju ke depan, baik lewat tembakan jarak jauh atau aktif sebagai gelandang
box-to-box.
5 = Dengan lima pemain mengepung pertahanan lawan, satu penyerang dapat bermain lebih ke belakang pertahanan lawan untuk menciptakan ruang bagi rekan-rekannya. Harry Kane dapat memainkan peran ini.


Permainan Inggris era Thomas Tuchel berbeda dengan pelatih Inggris sebelumnya di bawah asuhan Gareth Southgate yang dinilai terlalu konservatif. Gareth Southgate menyukai gaya permainan untuk dominan dalam penguasaan bola, mempertahankan situasi tersebut agar Inggris tidak kemasukan saat transisi.

Bersama Thomas Tuchel, Inggris tidak menempatkan penguasaan bola terlalu lama sebagai cara yang utama. Dalam delapan laga kualifikasi, The Three Lions tidak pernah mencatat penguasaan bola melebihi 70 persen.

Sistim 3-2-5 ini sudah terlihat di dua laga awal kualifikasi saat lawan Albania dan Latvia, di mana Thomas Tuchel membuat Myles Lewis-Skelly (bek kiri) maju ke lini tengah dan semua pemain menyerang di lini depan memberikan tekanan di akhir pertahanan lawan.

Sistem 3-2-5 ini menciptakan pergerakan dinamis di lini depan yang membuat seorang penyerang bahkan bisa mnundur ke ruang kosong. Harry Kane bisa menjadi pemain tersebut, sedangkan pemain lainnya memenuhi ruang kosong saat membangun serangan.

Sistem ini, dengan kemampuan pemain Inggris dalam menghadapi tekanan serta fleksibilitas semua pemain yang mereka miliki di lapangan, membuat The Three Lions menciptakan masalah besar bagi lawan.

Demikianlah gambaran awal dari kekuatan Timnas Inggris asuhan Thomas Tuchel untuk Piala Dunia 2026 yang akan dimulai sejak 11 Juni 2026 nanti. Rencananya, masih ada dua laga uji coba lagi sebelum turnamen ini bergulir.

Harry Kane dan kawan-kawan akan menghadapi Selandia Baru pada 7 Juni lalu lawan Kosta Rika tiga hari kemudian. Inggris berada di Grup L di Piala Dunia 2026, mereka akan bersaing dengan Kroasia, Gana, dan Panama.

Inggris memiliki begitu banyak talenta. Bersama Prancis, The Three Lions disebut sebagai tim dengan pemain yang komplet. Yang mereka butuhkan adalah pelatih yang dapat membawa mereka ke level yang lebih baik. Dan, dengan rapor di kualifikasi, Thomas Tuchel-lah pelatih itu.