Foto ki-ka: Philipp Lahm (Jerman), Zinedine Zidane (Prancis), Andrea Pirlo (Italia), Fabio Cannavaro (Italia), dan Lionel Messi (Argentina), adalah beberapa bintang di Piala Dunia 2006. (TVRI/Grafis/Yusuf) Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews – Berlin, Jerman
Piala Dunia 2006 bisa dibilang momen peralihan dari bintang-bintang sepak bola yang mulai meredup dengan calon bintang masa depan dan legenda.
Jerman 2006 yang berlangsung pada 9 Juni sampai 9 Juli bisa dibilang salah satu Piala Dunia yang bertabur bintang lintas generasi.
Ditandai dengan penebusan Italia setelah skandal pengaturan pertandingan (Calciopoli), yang berpuncak pada kemenangan adu penalti atas Prancis, 5-3, usai bermain imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu.
Piala Dunia 2006 diyakini sebagai salah satu yang terbaik karena menjadi jembatan alih generasi antara para bintang yang mulai redup kepada sejumlah pemain yang bakal bersinar di masa depan.
Nama-nama pemain bintang seperti Zinedine Zidane (33 tahun) dari Prancis, Fabio Cannavaro (32) dari Italia, Ronaldo Luis Nazario (29) dan Roberto Carlos (33) dari Brasil, Michael Ballack (29) dari Jerman, hingga Luis Figo (33) dari Portugal, sudah berada di ujung karier.
Dari Inggris ada David Beckham yang saat itu sudah berusia 31 tahun. Demikian pula di kubu Argentina yang saat itu diperkuat Hernan Crespo (30) hingga dua bek veteran, Juan Pablo Sorin (30) dan Roberto Ayala (30).
Namun, di sisi lain, di Piala Dunia 2006 pula nama-nama seperti Lionel Messi (Argentina), Cristiano Ronaldo (Portugal), hingga Wayne Rooney (Inggris) yang saat itu berusia antara 18 sampai 20 tahun, muncul sebagai calon legenda masa depan.
Munculnya nama-nama itu sekaligus menandai awal pergeseran generasi. Messi muda sebagian besar menjadi pemain cadangan untuk Argentina tetapi menunjukkan kilasan kecemerlangan, sementara Ronaldo adalah kekuatan kreatif kunci bagi Portugal.
Adapun Rooney adalah pemain depan serba bisa yang di kemudian hari menjadi ikon tidak saja untuk timnas Inggris, tetapi juga di level klub, utamanya di Manchester United.
TVRI mencoba memilih beberapa pemain yang menjadi bintang maupun calon legenda, yang bersinar di Piala Dunia 2006.
Andrea Pirlo
Andrea Pirlo mungkin tidak mendapatkan penghargaan resmi. Tetapi ia pantas diakui sebagai pemain terbaik Piala Dunia 2006.
Gelandang pengatur tempo ini tampil sensasional, meraih tiga penghargaan pemain terbaik pertandingan saat ia menginspirasi Italia meraih gelar Piala Dunia keempat mereka (setelah 1934, 1938, dan 1982), dari lini tengah.
Umpan terobosannya yang brilian kepada Fabio Grosso membantu Gli Azzurri menghancurkan harapan Jerman di semifinal yang mendebarkan, sebelum ketenangan dan eksekusi akuratnya memberikan assist untuk gol Marco Materazzi di final. Pirlo kemudian mengeksekusi penalti dalam adu penalti saat Italia dinobatkan sebagai raja dunia sekali lagi.
Zinedine Zidane
Penampilan Zidane di Piala Dunia 2006 termasuk yang terbaik yang pernah ada, sebuah penampilan solo selama empat minggu yang membawa Prancis hingga ke final.
Gelandang serang ini relatif tenang di fase grup sebelum kemudian meledak dengan performa gemilang, menampilkan penampilan yang sangat memukau melawan Brasil di perempat final.
Zidane, yang telah mengumumkan niatnya untuk pensiun dari sepak bola segera setelah turnamen, mencetak gol penalti Panenka di final melawan Italia, sebelum secara tak terduga menanduk Marco Materazzi hingga mendapatkan kartu merah di babak perpanjangan waktu.
Atas performa impresifnya sepanjang turnamen, Zidane pun memenangi penghargaan Bola Emas (Golden Ball) sebagai Pemain Terbaik Piala Dunia 2006.
Fabio Cannavaro
Gaetano Scirea, Giuseppe Bergomi, Franco Baresi, Paolo Maldini, Alessandro Nesta, dan Fabio Cannavaro. Pada puncak kariernya – yang kebetulan terjadi pada tahun 2006 – Cannavaro dapat disandingkan dengan para pemain yang disebutkan sebelumnya: sebagai salah satu bek Italia terhebat sepanjang masa.
Bek tengah yang saat itu membela Juventus FC ini tampil luar biasa di jantung pertahanan Gli Azzurri, memimpin negaranya meraih kejayaan Piala Dunia dan menunjukkan kemampuan penempatan posisi yang cerdas serta penguasaan permainan yang luar biasa.
Sebagian besar berkat penampilannya di Jerman, Cannavaro kemudian menjadi bek pertama dalam satu dekade yang berhasil memenangi Ballon d'Or pada 2006.
Philipp Lahm
Kendati saat itu baru berusia 22 tahun, Philipp Lahm sangat konsisten sepanjang kariernya sehingga sulit untuk menentukan kapan ia berada di puncak performanya. Tetapi penampilannya di tahun 2006 termasuk yang terbaik.
Bek sayap ini tampil sempurna di kandang sendiri, memberikan penampilan tanpa lelah, percaya diri, dan sempurna secara posisi saat negara tuan rumah mencapai semifinal, dan akhirnya finis di peringkat ketiga usai menang 3-1 atas Portugal di play-off posisi ketiga.
Ia bahkan mencetak salah satu gol terbaik turnamen melawan Kosta Rika di laga pembuka, menusuk dari sayap kiri dan melengkungkan tendangan kaki kanan ke sudut atas gawang dari tepi kotak penalti.
Performa konsisten pemain FC Bayern Munchen ini berbuah manis delapan tahun berselang. Ia menjadi legenda dan kapten timnas Jerman saat mengangkat Piala Dunia 2014, trofi keempat Die Mannschaft di turnamen ini (setelah (1954, 1974, dan 1990).
Lionel Messi
Debut Lionel Messi di Piala Dunia terjadi di Jerman 2006 ini. Setelah hanya dicadangkan di laga pertama Argentina, saat menang 2-1 atas Pantai Gading, Messi akhirnya diturunkan kala La Albiceleste melumat Serbia dan Montenegro, 6-0, pada pertandingan kedua.
Masuk menggantikan Maxi Rodriguez pada menit ke-74, saat Argentina sudah unggul 3-0, dan diawasi oleh legenda hidup Diego Maradona, Messi hanya butuh tiga menit untuk melaju di sisi kiri dan memberikan umpan kepada Hernan Crespo untuk mencetak gol.
Sepuluh menit kemudian, nama Messi tercatat di papan skor. Ia menerobos masuk ke area penalti dan melepaskan tembakan melewati kiper Dragoslav Jevric pada usia 18 tahun 357 hari.
Setelah debutnya di Gelsenkirchen tersebut, Messi kemudian terlibat dalam gol-gol Argentina di Afrika Selatan 2010, Brasil 2014, Rusia 2018, dan Qatar 2022, hingga menjadikannya satu-satunya pemain yang mencatatkan assist di lima putaran final Piala Dunia yang berbeda.
Seperti Lahm, Messi juga mengukuhkan diri menjadi legenda Argentina saat menjadi kapten dan mengangkat trofi Piala Dunia pada 2022.
Nama-nama Lain
Selain kelima nama di atas, dunia juga mencatat sejumlah nama yang mencuat pada Piala Dunia 2006. Salah satunya Gianluigi Buffon yang menjadi benteng terakhir Italia di ajang itu.
Buffon hanya kebobolan dua gol selama perjalanan kemenangan Italia - satu melawan Amerika Serikat, dan satu lagi penalti Zidane di final. Penyelamatannya untuk menggagalkan peluang Zidane di babak perpanjangan waktu, dengan menepis sundulan ke atas mistar gawang, sangat menentukan kemenangan negaranya.
Di akhir Piala Dunia 2006, Buffon menerima penghargaan Yashin Award alias Kiper Terbaik turnamen.
Striker Jerman Miroslav Klose juga sangat pantas disebut bintang Piala Dunia 2006, berkat torehan lima gol yang membuatnya menjadi pencetak gol terbanyak di turnamen itu.
Meskipun menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa Jerman – bahkan melampaui Gerd Muller untuk tim nasional – Klose tidak pernah dianggap setara dengan beberapa striker elite lainnya di generasinya.
Striker ini menunjukkan performa terbaiknya di tahun-tahun Piala Dunia, mencetak 12 gol dalam 17 pertandingan internasional pada tahun 2002, 13 gol dalam 17 pertandingan pada tahun 2006, dan 10 gol dalam 12 pertandingan pada tahun 2010.
Lima dari 13 golnya pada tahun 2006 tercipta di turnamen tersebut, yang cukup untuk membawa Klose meraih Sepatu Emas (Golden Boot) saat Jerman mencapai semifinal Piala Dunia 2006.